28.5 C
Jakarta
Tuesday, March 2, 2021
Array

Bintang Di Balik Halimun

Must Read

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik) Sebagai...

Luluh Hati Dengan Kesantunan Nabi

Angin gurun yang gersang menjadikan udara Madinah mulai sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam...




Bintang Di Balik Halimun

Oleh : Alya Adzkya

Merendahlah! Jadilah seperti bintang yang tampak rendah di atas permukaan air
Padahal sejatinya ia tinggi.
Dan janganlah menjadi seperti kabut yang tampak tinggi di langit.
Semakin tinggi ia naik, semakin ia hilang tak berbekas.

Perumpamaan tentang kerendahan dan ketinggian hati digambarkan begitu indah dalam syair di atas. Sejatinya, seseorang yang benar-benar hebat tak lagi merasa perlu menunjukkan kehebatan dirinya. Untuk apa? Seseorang benar-benar hebat saat orang lain yang menilainya. Ia takkan menjadi hebat hanya karena pandangan dan pendapat dirinya sendiri.

bintang di langitSeseorang yang memiliki kerendahan hati, tidak akan memposisikan dirinya seperti bintang di langit. Bintang yang tinggi, indah dan tak tergapai. Ia lebih memilih memposisikan dirinya tak jauh beda dengan orang lain. Ah, ia tak sehebat yang orang lain kira. Masih banyak lagi yang lebih hebat darinya. Ia selalu berpikir seperti itu. Persis sebuah bintang yang dilihat hanya lewat permukaan air. Orang-orang mungkin melihatnya rendah, tapi semua orang juga tahu bahwa bintang itu letaknya tinggi di langit.

Begitu pula dengan orang yang merasa dirinya hebat. Sibuk memamerkan pencapaian yang ia peroleh. Berkoar sana-sini akan prestasinya. Merasa dirinya paling hebat. Tak ada orang lain yang bisa menandingi dirinya. Sungguh dirinya itu persis seperti kabut. Orang-orang melihatnya tampak tinggi mengawang di kaki langit. Padahal, semakin tinggi kabut itu berada, sedikit demi sedikit ia pun akan hilang tak berbekas. Seperti itulah orang yang terlalu berbangga hati. Mungkin saat ini orang-orang bisa berdecak kagum melihatnya. Namun, seiring waktu berjalan semua kebanggaannya itu akan membuat muak, lantas ditinggalkan dan dilupakan oleh orang-orang sekitarnya.

Maka jadilah kita seperti bintang yang berada di balik kabut. Mungkin orang-orang tak menyadari keberadaan kita. Namun Allah, Sang Pemilik Langit mengetahui, kebaikan apa saja yang dikerjakan ikhlas karena-Nya.

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x