Muhasabah : Makna Bertambahnya Usia

3
7831
makna bertambahnya usia

Oleh : Ova Yanti

Hari ini, genap sudah usiaku tiga puluh tahun. Merenungi tentang usia, tidak salahlah kalau aku, menghubungkannya dengan hari yang biasa disebut dengan istilah ‘ulang tahun’. Ucapan selamat ulang tahun banyak kuterima hari ini, baik di sosial media maupun di dunia nyata, tapi sayangnya tidak ada yang memberikan kado. Ups! Apa-apaan sih?! Mereka mendoakan agar umurku berkah, itu sudah merupakan kado terindah yang aku dapatkan.

Terbersit di hati sebuah makna usia. Hari demi hari, waktu berlari tanpa henti, bahkan tanpa kompromi meninggalkanku. Kontrak hidupku di dunia ini berkurang satu tahun. Artinya, bahwa aku hidup tinggal sebentar lagi dan semakin dekat dengan kematian. Oleh sebab itu, aku harus bisa mengartikan ‘ulang tahun’ dengan benar dan tepat dengan memberikan pertanyaan kepada diri tentang berapa banyak sudah aku memberikan yang terbaik bagi Allah SWT, keluarga, saudara, teman dan lingkunganku.

Hidup ini sebuah misteri dan penuh rahasia. Manusia memiliki keterbatasan dalam memaknai hidup. Pada umumnya, manusia tidak mengetahui banyak hal tentang sesuatu, yang mereka tahu hanyalah tentang yang nampak saja. Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama ia akan hidup, di mana ia akan mati, dalam keadaan apa ia akan mati, dan dengan cara apa ia akan mati. Sebagian manusia menyangka bahwa hidup ini hanya satu kali dan setelah itu mati ditelan bumi. Mereka meragukan dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kembali setelah mati.

“Setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) nenek moyang kita, apakah benar kita akan dikeluarkan (dari kubur)?” (Q.S. An-Naml :67)

Ayat di atas membuat aku merenung panjang dalam sujudku. Usiaku sudah tiga puluh tahun, pastilah memiliki makna besar. Apa makna usia tiga puluh tahun bagi kehidupanku? Sebuah pencapaian prestasi? Sebuah gambar masa depan? Sebuah refleksi kehidupan? Ah, itu semua adalah sebuah perjalanan panjang dari proses hidup. Sebuah upaya berlanjut dari hidup menuju mati, menuju alam abadi. Usia tiga puluh tahun memberi jarak semakin jauh tertinggal. Tujuan hidup makin dekat digapai. Tujuan yang mana? Tujuan yang hakiki, sebuah fase dengan dimensi berbeda. Kembali ke awal, kembali dari titik nol. Yaitu kematian. Kehidupan adalah perjalananan menuju kematian.

Diusia tiga puluh tahun ini, aku harus mengkondisikan sisa hidupku. Bagian mana yang mempengaruhi. Kebaikan atau keburukankah? Aku harus berbenah. Ah, ini hanya sebuah renungan. Bahwa umur dari tahun ke tahun terus berlari, menjauh. Membawa jiwa dan raga. Bertambahnya bilangan angka, usia berlari mendekat. Mengurangi jatah hidup di dunia.

Tidak ada sebenarnya ulang tahun bertambah umur, yang ada hanyalah usia yang semakin berkurang. Namun kenapa sebagian orang bahagia menyambut hari lahirnya dengan berpesta dan foya-foya? Sungguh, ini adalah hal yang keliru. Sehurusnya, mari kita merenung. Bagaimanakah amal kita selama hidup?

Bukankah Islam mengajarkan, agar kita tidak menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat? Ibnu Umar pernah berkata, “Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang matimu” (HR. Bukhari No. 6416)

Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata, “Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umurpun berkurang, ajal pun semakin dekat.”

Beliau juga mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu. “ (Hilyatul Auliya, 2: 148.)

Ya Rabb, aku mohon ampun atas segala dosa, umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.

Wahai diri, janganlah engkau bangga jikalau diberi waktu panjang di dunia. Karena waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia. Kelak engkau akan ditanya , dimana waktu yang engkau habiskan.

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai umurnya di manakah ia habiskan, ilmunya di manakah ia amalkan, hartanya bagaimana ia peroleh dan di mana ia infaqkan, mengenai tubuhnya di manakah ia usung.” (HR Tirmizi No. 2417, dari Abu Barzah Al Aslami. Syaikh  Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Wahai diri, waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali, maka berbenahlah. Usiamu sudah tiga puluh tahun. Jangan sia-siakan waktu yang tersisa dengan menunggu pergantian waktu. Bergegaslah. Jika diri yakin umur berkurang, waktu ajal semakin dekat, lantas apa gunanya merayakan?

Takengon, 12 juli 2016