Hak yang Sering Terabaikan

1
337
ikan hias

Oleh: Elisa D.S.

“Ma, beliin ikan, dong. Taruh di akuarium seperti punya teman-teman,” celutuk si bungsu.

Saya tersenyum. “Maaf, Dik. Mama nggak mau punya hewan piaraan di rumah.”

“Kenapa, Ma?” Nada si bungsu mulai meninggi, kecewa karena permintaannya tidak disetujui.

“Dik, kita sering pulang kampung untuk jenguk nenek dan mbah putri. Mama nggak mau Adik menanggung dosa gara-gara ikannya mati kelaparan saat ditinggal pergi.”

Alhamdulillah, si bungsu mulai bisa memahami alasan saya meskipun sedikit mendongkol. Sebenarnya, faktor yang membuat saya tidak mau memelihara binatang di rumah adalah rasa takut jika tidak bisa memenuhi hak piaraan tersebut dalam melangsungkan keberadaan generasinya.

Pikiran saya melayang ke puluhan tahun silam. Sebuah hunian mewah, ramai oleh nyanyian burung dalam sangkar-sangkar nan mahal. Tak hanya satu jenis, aneka hewan berkicau nyaring dengan berbagai warna dan ukuran memenuhi teras rumah yang lumayan luas tersebut.

Setiap Minggu pagi, pemiliknya dengan telaten membersihkan sangkar dari sisa-sisa makanan dan kotoran yang menempel. Aktifitas selanjutnya memandikan burung-burung tersebut memakai semprotan khusus, kemudian menjemurnya untuk beberapa saat.

Hewan piaraan. Banyak orang yang menyukainya. Mulai dari burung bersuara emas, ikan di aquarium atau kolam, reptil, hamster dan kelinci lucu, hingga kucing dengan harga yang fantastis. Selama ini yang saya amati, memelihara binatang di rumah itu gampang-gampang susah. Harus telaten dalam merawat kebersihan kandangnya, menjaga kesehatan mereka, dan tentu saja, menyiapkan pakan khusus. Belum lagi jika sakit, harus membawa ke dokter hewan, yang pasti dengan biaya tak sedikit. Dana lebih juga harus siap dirogoh dari dompet ketika piaraan harus dititipkan di pet shop untuk jangka waktu tertentu.

Keberadaan mereka mungkin menyenangkan bagi sebagian orang. Tak sedikit dari kita yang hobi memelihara hewan piaraan. Dari segi perawatan dan kasih sayang, mungkin pemiliknya sudah patut diacungi jempol. Tapi ada satu hal yang mungkin disepelekan. Apakah itu?

Mereka sama seperti manusia, diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya di Q.S. Adz-Dzariyat: 49, yang artinya, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”

Nah, apakah hewan piaraan tersebut sudah mempunyai pasangan? Jika iya, bersyukurlah, entah itu jantan dan betina dipelihara bersama, ataukah sekadar menjodohkannya di pet shop sebagaimana kucing cantik milik tetangga saya yang memasuki masa kawin.

Tetapi, bagaimana jika hewan yang dipelihara tidak mempunyai pasangan, dan ironisnya, si pemilik mengabaikan masa kawinnya? Siapkah dia bertanggung jawab saat hisab nanti, tentang hak binatang peliharaan yang tak terpenuhi, yakni, aktifitas untuk memperbanyak keturunan?

Coba bayangkan, berapa orang yang memelihara hewan piaraan tanpa pasangan, sekaligus mengabaikan reproduksi binatang peliharaannya? Maka, terputuslah garis keturunan makhluk hidup tersebut. Artinya, manusia ikut andil dalam kelangkaan mereka.

Pernahkah hal yang kelihatannya sepele ini menjadi pertimbangan sahabat Wahid sebelum memelihara binatang? Sebagai manusia beriman, sudah selayaknya si pemilik memenuhi hak-hak hewan piaraannya, mulai dari pakan, kesehatan, kasih sayang, hingga keinginan untuk berpasangan antara jantan dan betina dari jenis mereka.

Sahabat Wahid, jangan sampai kecintaan kepada hewan piaraan, akan mengarahkan langkah menuju neraka, hanya gara-gara satu hak mereka tidak terpenuhi tersebab kelalaian manusia sebagai pemiliknya.

Na’udzubillahii min dzalik.

Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshowwabi.
Gresik, 9 Syawal 1437H