Teruntuk Para Penjaga Cahaya

1
337
para penghafal quran

Oleh : Alya Adzkya

Salam hormat dari penulis untuk Para Penjaga Cahaya (Penghafal Qur’an) yang telah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca coretan sederhana ini. Sungguh, penulis bukannya merasa paling baik hingga pantas menasehati penjaga kalam-Nya. Hanya saja, ada sekelumit resah yang ingin penulis bagi untuk Para Penjaga Cahaya dimanapun berada.

Bagaimana kabar hafalan kita, Sahabat? Benar-benar terjaga kah? Lantas bagaimana dengan istiqomah yang harus kita miliki? Sudahkah ia terpatri dalam diri?

Terkadang banyak orang di luar sana yang terlupa. Bahwa kita juga manusia, tempatnya khilaf dan lupa. Maka sebagai manusia sudah pantaslah bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Sahabat, ingatkah kita pada kisah Imam Syafi’i? yang mendatangi gurunya dan mengeluh tentang buruknya kualitas hafalan yang ia miliki? Ulama sekaliber Imam Syafi’i yang pada usia tujuh tahun sudah menghafalkan Al-Qur’an saja masih mengeluh kalau hafalannya buruk. Lantas bagaimana dengan kita?

شَكَوْتُ اِلَى وَقِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ فَاَرْشَدَنِيْ اِلَى تَرْكِ المَعَاصِيْ
فَأَخْبَرَنِيْ بِأَ نَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَا صِي

Tinggalkanlah maksiat! Perintah Waki’ guru kesayangan ulama besar itu. Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan sampai pada orang-orang yang bermaksiat.

Itu ilmu, Sahabat. Lalu bagaimana dengan kalam-kalam langit yang langsung berasal dari Allah? Bukankah sudah sepantasnya kita terus menjaga diri dari maksiat?

Tidaklah penghafal al-qur’an melakukan maksiat, kecuali ia telah melupakan al-qur’an. Andai masih ingat huruf-huruf atau rangkaian ayatnya, maka rangkaian ayat itu telah kehilangan kandungannya. Ibarat jasad yang telah kehilangan ruhnya. Satu kali maksiat, maka hampa satu ayat. Berawal dari kehampaan itu, kalimat-kalimat dalam ayat itu terlupakan seutuhnya.

Apa maksiat terbesar yang berpotensi terjadi pada para penghafal al-qur’an? Jawabannya adalah berhenti menghafal atau berhenti mengulang-ulang hafalan. Semua musibah itu ringan selama bukan maksiat. Semua maksiat itu ringan selama bukan melupakan al-qur’an. Selama kita masih mau membacanya.

Kita tahu, ranah yang kita tapaki ini tidak pernah mengenal senioritas. Selama apapun kita menghafal, bertahun-tahun, atau selesai hanya dalam hitungan bulan, tak ada yang bisa menjamin hafalan kita terjaga dengan utuh. Tidak sama sekali. Siapa saja yang senang berlama-lama dengan qur’annya, dialah yang lebih kuat hafalannya. Seperti apapun perjuangan kita dalam menghafal, takkan ada artinya jika kita tak berjuang menjaganya.

Sadarkah kita, sahabat? Bahwa hafalan al-qur’an yang telah Allah berikan merupakan salah satu dari kenikmatan, kemuliaan, keutamaan. Yang tak sembarangan orang bisa mendapatkan keutamaan itu. Jika Allah berkehendak, bukan tak mungkin Ia mengambil kembali keutamaan ini.

Niat, mujahadah dan istiqomah. Tiga kunci ini memang mutlak harus kita miliki. Dan ternyata, untuk mendapatkan ketiganya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagaimana cahaya yang telah Allah karuniakan dalam hati kita, ketiga kunci itu pun sama sifatnya. Terus-menerus, kontiniu, sepanjang hayat. Tak hanya dalam soal keistiqomahan, namun juga niat dan kesungguhan.

Maka sebagai Para Penjaga Cahaya adalah sebuah keharusan bagi kita untuk terus memperbarui niat, memperbaiki amalan kita, sembari terus berusaha untuk menyandangkan ketiganya dalam setiap helaan nafas kita. Hingga kita mencapai target akhir. Bukan hanya soal kelancaran, atau penghargaan di mata manusia. Sampai ruh berpisah dengan raga, kita masih terus menggenggam kalam-Nya erat-erat dalam hati kita.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dan hidayahnya agar bisa terus istiqomah menjaga cahaya kalam-Nya. Hingga gelar yang Allah anugerahkan pada kita kelak tak hanya ‘Ahlul Qur’an’ namun juga ‘Ahlul Surga’. Allahumma Aamiin …