Sibuk Mencari, Lupa Memantaskan Diri

0
495
menunggu jodoh

Oleh: Olil Lia

Sebuah kalimat yang aku temui di salah satu media sosial, dua tahun yang lalu.
Saat itu usiaku delapan belas tahun.
Awalnya aku tak begitu mengerti apa maksud kalimat tersebut. Hingga seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa memahami maknanya.
Sebuah kalimat yang terdiri dari lima kata, sederhana tapi begitu dalam.

Sibuk mencari.
Aku menafsirkan, bahwa yang di cari adalah jodoh.
Jodoh yang diidamkan, yang diharapkan.
Tak bisa dipungkiri, setiap manusia pasti menginginkan jodoh yang terbaik untuknya.
Yang pantas untuk menjadi Imam dalam keluarganya kelak.
Yang pantas untuk menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
Untuk itu, akhwat dan ikhwan berlomba-lomba mencari sosok yang ‘pas’ menurut mereka.

Meski sebenarnya, tanpa kita sadari ada seseorang di samping kita yang selalu menunggu. Tapi kita terlalu sibuk mencari, sehingga yang jelas nampak di depan mata menjadi terabaikan.
Sampai pada titik jenuhnya, seseorang yang selama ini setia berada di samping kita, karena merasa terlalu lama diabaikan. Perlahan dia akan mundur, menjauh, lalu menghilang dari hidup kita.

Saat itu, kita berada pada posisi yang amat terpuruk. Merasa terpuruk atas semuanya. Setelah sosok yang selalu dicari tak kunjung ditemui, sampai seseorang yang telah lama menyimpan simpati memilih untuk pergi, mengundurkan diri.

Itu semua terjadi karena kita terlalu sibuk, sibuk mencari tapi lupa memantaskan diri.
Sibuk mencari sosok yang sempurna, tapi kita lupa untuk berkaca siapa kita sebenarnya.

Bagaimana jika jodoh kita bukanlah manusia?
Bagaimana jika jodoh kita ternyata adalah kematian?
Apa yang harus kita lakukan? Sementara waktu kita sudah banyak terbuang sia-sia untuk mencari sosok yang sempurna.
Mengapa kita harus sibuk mencari?
Bukankah Allah-lah pemegang hati setiap hambanya.
Lantas, mengapa kita tidak merayu Sang pemegang kunci hati agar bisa mendapat jodoh yang kita inginkan?
Bukankah Allah-lah yang mengatur takdir setiap manusia, termasuk jodoh?
Mengapa kita tidak memasrahkan dan memercayai-Nya sebagai penulis skenario terbaik?

Berhentilah mencari!
Berhentilah mencari, dan rayulah Allah. Dan Dia akan memberikan takdir yang terbaik untuk kita.

Bagaimana caranya?
Bagaimana cara merayunya?

Pantaskan diri!
Pantaskan diri. Pastikan diri untuk dapat mencium wangi surga-Nya.
Pastikan diri agar dapat melihat indah istana-Nya.
Ikuti setiap aturannya, jalani semua perintahnya, dan jauhi segala larangannya.
Bukankah Allah mencintai hambanya yang taat?