Ridho pada Ketetapan Allah

0
395
menangis saat doa bersama
Menangis dalam Doa (Foto : tribunnews)

Oleh : Newisha Alifa

“Yang terpenting bagiku adalah ridho Allah, bukan yang lain.” Mungkin kita pernah mendengar kata-kata itu, atau bisa jadi kita sendiri yang pernah mengucapkannya. Tidak ada yang salah dari kata-kata itu, namun sudahkah kita ridho pada ketetapan Allah terhadap diri kita?

Di antara quote yang cukup terkenal dari sahabat Umar bin Khattab RA adalah, “Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku. Karena aku tak tahu, manakah diantara keduanya yang lebih baik bagiku.” Masya Allah! Sungguh ini adalah bentuk keberpasrahan sekaligus keyakinan seorang hamba kepada Rabb-nya. Manusia yang percaya, bahwa sejatinya, Allah selalu menghendaki yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Jika benar kita sudah ridho terhadap ketetapan Allah atas diri kita, maka seharusnya tiada lagi keluh kesah yang berlebihan. Apalagi jika sampai menyalahkan Allah ketika sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi dalam hidup kita.

Sebagai manusia yang tujuan diciptakannya adalah untuk beribadah pada Allah, maka sebisa mungkin kita berusaha melakukan apa pun yang mengundang ridho Allah atas diri kita. Entah itu menjalankan perintah-Nya atau menjauhi segala larangan-Nya. Kita harus berusaha untuk menerima dengan penuh kelapangan hati, pada apapun yang terjadi dalam hidup kita. Jangan sampai ucapan, “Yang penting Allah ridho.” hanya sebagai pemanis bibir saja, namun harus dibuktikan dengan menerima setiap ketentuan-Nya.

Jika kita renungkan quote dari Sahabat Umar bin Khattab RA di atas, jelas sekali beliau menunjukkan kepasrahan dalam menghadapi suatu kejadian dalam hidupnya. Sebab apa yang kelihatannya baik, bisa saja pada dasarnya adalah suatu yang buruk bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Apa-apa yang kelihatannya buruk, masalah, kesialan, ternyata di kemudian hari justru menunjukkan sisi kebaikannya untuk diri kita.

Tak jarang manusia terlalu cepat menyimpulkan, bahwa apa-apa saja yang bersifat menyenangkan atau sebuah nikmat, sudah pasti bermakna Allah ridho atas hidupnya. Dan yang terasa menyedihkan, langsung disimpulkan sebagai bentuk kemurkaan Allah padanya.

Belajar dari quote tersebut, kita diingatkan untuk tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan suatu kejadian dalam hidup kita. Sikapi semuanya sewajarnya saja. Biarkan waktu yang menguak, apakah benar yang kelihatannya baik sungguh baik? Dan yang buruk adalah buruk.

Ujian sendiri terbagi menjadi dua bentuk; kesulitan atau kemudahan. Ketika kita ditempa masalah, boleh jadi Allah bermaksud untuk membuat kita lebih hati-hati ke depannya, agar terhindar dari musibah yang lebih besar lagi. Misalnya ketika kita ceroboh, hingga kehilangan harta benda. Yang hilang sekarang mungkin nilainya cuma seratus ribu rupiah. Tapi karena kita sudah belajar dari pengalaman, kita jadi lebih waspada dan akhirnya terhindar dari kerugian yang jauh lebih besar dari itu.

Nah, jangan lengah ketika yang datang pada kita adalah ujian dalam bentuk kemudahan atau nikmat. Hati-hati. Sebab kesulitan dan kemudahan itu datangnya silih berganti. Ketika kita sedang diberikan kelapangan rezeki nih sama Allah, apa sudah benar cara kita menyikapinya? Nikmat tersebut akan bermakna “baik” untuk kita, manakala dengan kelebihan tersebut, kita jadi lebih mudah membantu orang lain. Semakin punya kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid, sekolah, dan lain-lain. Semakin semangat untuk berbagi nikmat kepada orang sekitar, terutama pada mereka yang membutuhkan. Kalau begini, Insya Allah, pertanda nikmat baiknya adalah benar baik untuk kita; berkah.

Jangan sampai yang terjadi sebaliknya. Dengan kelebihan harta membuat kita menjadi manusia yang lebih boros dari sebelumnya. Sibuk membelanjakan harta untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Sementara, giliran diingatkan untuk berinfaq atau bersedekah, kikir sekali. Begitu khawatir kekayaannya akan terkuras jika dipakai untuk beramal. Tapi merasa tenang-tenang saja ketika dipakai untuk belanja ini itu. Inilah yang dimaksud kelihatannya baik, padahal sejatinya musibah untuk kita! Kelak ketika dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, tentang ke mana saja hartanya digunakan, orang seperti ini akan menjadi manusia yang sangat bangkrut. Karena kondisi tabungan akhiratnya memprihatinkan.

Masalah yang membuat kita jadi dekat dan kembali pada Allah, sejatinya adalah nikmat yang berbungkus nestapa. Kegagalan, kesialan, sakit hati, dan segala problematika hidup yang membuat kita mengingat Allah, adalah suatu kebaikan untuk kita. Hanya saja, untuk menyadari hal tersebut, diperlukan sikap sabar, tenang dan tawakkal.

Ridho saja dulu dengan ketetapan Allah atas diri kita, sekalipun di awal hal itu terasa getir. Jangan pernah hilang keyakinan, bahwa Allah senantiasa menginginkan yang terbaik untuk kita. Tumbuhkan perasaan rela, ridho, ikhlas atas segala sesuatu yang harus dilalui dalam hidup kita. Dan cepat atau lambat, kita akan merasakan manfaat dari ridho-nya seorang hamba terhadap ketetapan Rabb-nya.

Wallahu A’lam bisshowab.

Bekasi, 8 Ramadan 1437H