Mizan Duniawi vs Mizan Robbani Dalam Kasus Razia Warteg

0
419
Razia warteg ramadhan
Razia warteg di bulan ramadhan (gambar : merdeka.com)

Oleh : Mady Hakim

Guru ngaji saya pernah bercerita, dalam sebuah pengajian di pelosok Pemalang, Jawa Tengah, Beliau ditanya, “Pak Kyai, apa hukumnya ayam yang masuk pekarangan orang, dan mencari makan di situ?”. Beliau kaget, karena di jaman seperti ini, ketika sebagian kita menganggap remeh bahkan menghalalkan yang haram, ternyata masih ada manusia yang kritis, hati-hati, atau dalam agama disebut Wara’.

Wara’ secara sederhana adalah sikap kehati-hatian, lebih dari sekedar halal atau haram. Dalam contoh di atas, sikap wara’ ditunjukkan oleh sang penanya, karena sangat mungkin ayam tadi dianggap mengganggu oleh sang pemilik pekarangan. Jika begitu, maka daging ayam tadi bisa menjadi haram hukumnya, meskipun disembelih dengan cara Islami.

Saya tertegun dengan kejadian razia warteg di Serang, yang kemudian menjadi ramai di Socmed. Ingatan saya langsung terbang ke cerita guru ngaji di atas. Bagi saya, permasalahannya kompleks. Bukan sekedar sang Ibu yang melanggar aturan, lalu ditindak, lalu muncul simpati pengguna Socmed. Lebih dari itu, bagaimana kita memandang hal ini dari kacamata seorang Muslim, hingga sikap wara’ yang mulai ditinggalkan. Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin share tentang paradigma berfikir, cara pandang kita terhadap suatu masalah. Cara befikir ini saya golongkan menjadi dua, yang bertentangan satu sama lain. Keduanya adalah Mizan Duniawi vs Mizan Robbani.

Mizan Duniawi adalah cara pandang yang berorientasi dunia semata, apa yang tampak di depan mata dan masuk logika kita. Sementara Mizan Robbani adalah cara pandang berorientasi akherat, merujuk kepada Qur’an dan Sunnah, meski kadang bertentangan dengan logika kita. Adalah cara pandang Mizan Duniawi, ketika kita meyakini bahwa hidup akan lebih mudah jika kita punya segalanya. Sementara Mizan Robbani, memandang hidup akan barokah jika kita bersyukur dan mencukupkan pemberian-Nya.

Mizan Duniawi berpandangan, bahwa sebuah musibah/bencana, tidak ada hubungannya dengan taat/kemaksiatan kita. Sementara dengan Mizan Robbani, lha wong taat saja masih bisa kena bencana, maka jangan sekali-kali berbuat maksiat. Ketika Mizan Duniawi berslogan “Hormatilah yang tidak berpuasa”, sebaliknya Mizan Robbani meminta, “Hormatilah yang berpuasa”.

Harus diakui, di negeri kita, Islam tidak banyak dijadikan rujukan, cara berfikir Mizan Duniawi jauh lebih akrab di masyarakat kita. Untuk menekan angka korupsi, Pemerintah memilih menaikkan gaji pegawai ketimbang memberi keteladanan hidup sederhana. Fasilitas bagi pejabat Pemerintah dan juga Parlemen dibikin wah, ketimbang hidup sebagaimana rakyat kebanyakan. Untuk membayar hutang Negara, Pemerintah memilih memungut pajak ketimbang menasionalisasi asset-asset vital, dan memaksimalkan potensi zakat.

Dalam kasus razia warteg ini, kuat dugaan saya bahwa pertimbangannya hanyalah Mizan Duniawi. Seitdaknya, itu terlihat dari komen-komen yang berdasar logika semata, jauh dari refleksi keimanan dalam hati. Saya tidak paham secara detail duduk permasalahannya, termasuk niatan netizen Dwika yang menggalang dana. Kenal pun tidak. Ketimbang menduga-duga, mari kita pandang kasus ini secara Mizan Robbani.

Sang Ibu pemilik warteg, jika berfikir dengan Mizan Robbani, tentu dia akan memilih menutup warung, dan hanya buka saat menjelang maghrib hingga sahur. Bisa saja buka sebelum maghrib, tetapi seperti yang dilakukan beberapa warung lainnya, hanya melayani nasi bungkus. Tidak boleh makan di tempat. Wah, pendapatan bakal berkurang dong? Nah, itulah bedanya dengan Mizan Duniawi. Harus ditanamkan keyakinan, bahwa ketika kita taat kepada Alloh, maka yakinlah kita akan mendapat rizki dari tempat yang tidak kita duga-duga. Kata seniman Sujiwo Tejo, cukuplah kita dianggap menghina Tuhan, saat kita khawatir tak dapat makan esok hari.

Lho, saya khan melayani yang tidak berpuasa? Nah, ini lagi, pemikiran bahwa tidak mengapa memanjakan yang tidak puasa, yang penting kita masih tetap puasa, adalah pemikiran sekuler, dan dekat kepada sikap munafik. Berpegang teguhlah kepada keyakinan kita, dan mintalah pertolongan kepada Alloh semata. Di berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Amerika, trend masyarakat itu ya, dekat dengan Islam. Walikota London seorang Muslim, pelatih juara UCL adalah Muslim, dan pemakaman Muhammad Ali adalah pemakaman Muslim terbesar yang pernah ada. Bahkan, Seorang Perdana Menteri Canada pun ikut puasa meski dia non-muslim.

Seandainya, sang Ibu pemilik warung belum sampai kepada keyakinan ini, maka tugas kita semua untuk meyakinkannya, memberi contoh dan keteladanan, tidak perlu ikut-ikutan orang kebanyakan. Berat dan butuh waktu memang, tetapi jangan pernah berputus asa di jalan Alloh.

Razia yang dilakukan Satpol PP, saya tidak tahu pasti apakah sudah melalui beberapa tahap sebelumnya. Semestinya sudah ada edaran terlebih dahulu, lalu peringatan beberapa kali sebelum akhirnya menyita dagangan. Saat menyitapun, ada baiknya dilakukan secara baik-baik, menghindari bentakan/kata-kata kasar, dengan melibatkan lebih banyak Satpol Wanita karena pelanggarnya adalah kaum mereka. Ini yang saya rasakan kurang di negeri kita ini, penghormatan kepada wanita. Sering saya jumpai dalam banyak kasus, bapak-bapak tidak risih jika harus beradu mulut dengan wanita. Padahal, salah satu indikator baiknya peradaban sebuah bangsa adalah penghormatan kepada kaum Hawa ini.

Dari kacamata Mizan Robbani, saya tidak sepakat dengan aksi yang dilakukan Dwika, karena terkesan membela mereka yang melawan aturan yang benar adanya. Saya tidak tahu, apakah Dwika sudah mempertimbangkan hal-hal di atas, ataukah dia hanya spontanitas dan sebagian kita ramai-ramai mendukungnya. Jika alasannya toleransi, sungguh hal yang terbolak-balik. Meminta kita yang puasa untuk menghormati yang tidak puasa, artinya analog dengan meminta kita semua memaklumi jika ada Pejabat menumpuk dan memamerkan kekayaan. Yang seharusnya para pejabat harus memahami rakyat, ini malah dibalik.

Jika kita berfikir the worst case, bisa jadi aksi Dwika akan menjadi modus bagi pemilik warung yang lain untuk nekat membuka warungnya selama Ramadhan. Padahal, dengan izin Alloh SWT, kita sudah menyaksikan banyak pemimpin daerah yang mulai memerintah secara Islami. Bedah Rumah warga, meninggalkan riba, hingga Subuh Berjamaah. Termasuk memuliakan bulan Ramadhan ini.

Wallahu a’lam, bola panas razia warteg ini akan seperti apa, apakah bermuara pada banyaknya warung yang tutup siang hari, atau sebaliknya. Saya mengajak kita semua tidak usah terlalu sibuk dengan hal ini, mari tetap fokus pada amal ibadah kita. Puasa, Tarawih, Tadarus, dan berbagi dengan mereka yang tidak mampu. Berdoa agar Hidayah sampai ke hati mereka yang hidup dengan mengandalkan Mizan Duniawi.