Resensi Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid

Must Read

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar...

Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid adalah kitab Referansi Utama Perbandingan Mazhab Fiqih

Sebuah kitab referensi fiqih terlengkap yang dituis oleh seorang ahli fiqih dan filsof bernama Qadi Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Hafid yang akrab dengan namanya Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd adalah salah seorang sosok ilmuwan muslim abad ke-12 M yang memiliki jasa yang besar bagi peradaban Islam. Ibnu Rusyd adalah salah seorang ilmuwan muslim yang cukup produktif dalam menulis. Selain mengarang buku-buku filsafat, Ibnu Rusyd juga seorang dokter. Ia banyak mengarang buku-buku Fiqih.

Dan buku Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid adalah karya Ibnu Rusyd dalam bidang Fiqih yang paling terkenal sekaligus paling berkualitas dibandingkan dengan buku-buku fiqihnya yang lain. Buku ini selesai ditulis oleh beliau pada tahun 1188 M ketika menjabat sebagai Hakim Agung di Cordoba, pada saat usia beliau sekitar 62 tahun. Buku ini memuat pandangan dan argumentasi seluruh aliran fiqih, baik mereka yang beraliran tekstualis maupun yang beraliran rasionalis sejak zaman sahabat hingga abad ke-11 M.

Meskipun Ibnu Rusyd bermazhab Maliki dan berloyalitas terhadapnya, namun tidak membuatnya gelap mata dalam memandang kebenaran. Tidak jarang dalam karya ini beliau membantah pendapat para ulama Maliki bahkan membantah Imam Malik sendiri bila ternyata bertentangan dengan dalil-dalil yang benar.

Kitab ini merupakan salah satu rujukan fiqih perbandingan mazhab. Dari sini dapat terlihat keistimewaannya, di samping penulisnya adalah ulama mujtahid yang mampu mengumpulkan berbagai macam ilmu baik naqli maupun ‘aqli.

Dalam sistematika pembahasannya, diawali dengan pemaparan hukum syar’i dan disertai dengan sebab terjadinya perbedaan pendapat di antara ulama agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahaminya. Dimulai dari kitab thaharah dan diakhiri dengan kitab Al-Aqdiyah, berjumlah sekitar 71 kitab. Setiap satu kitab mencakup beberapa fasal, setiap satu fasal mencakup beberapa bab, dan setiap satu bab mencakup beberapa mas’alah. Namun, terkadang hanya sampai pada bab saja, demikian ini disesuaikan dengan pembahasannya.

Kemudian dipaparkan pula dalil-dalil yang menerangkan kesepakatan ulama pada suatu masalah, dan memaparkan dalil yang menerangkan perbedaan pendapat para ulama dalam suatu masalah dan mazhab para fuqoha’.

Dalam penyebutan dalil, dimulai dari pendapat para sahabat, kemudian tabi’in, kemudian imam mujtahid, dengan disertai dalil nash pada masing-masing pendapat. Selain itu, dijelaskan juga bagaimana penyimpulan dalilnya, dan koreksi hukumnya, tanpa mengabaikan sebab perbedaan pendapat mereka baik dalam memahami nash atau menetapkannya, kecuali pada Al Qur’an dan As-Sunnah yang sudah jelas disepakati.

Tidak cukup pada pemaparan masalah saja, kebanyakan masalah dijelaskan sampai pada yang rajih dan afdhal dari beberapa pendapat yang ada sesuai dengan dalil-dalil setiap kelompok. Tentunya setelah menimbang dan membandingkan dalil-dalil tersebut, dan terkadang lebih condong pada pendapat yang diambil oleh jumhur ulama.

Beliau juga mempunyai beberapa istilah khusus dalam buku ini, seperti yang terdapat dalam kitab Al-Ghaslu pada bab yang ke-dua, pada mas’alah yang pertama menjelaskan tentang mandi bagi dua orang yang telah dikhitan jika berhubungan, “Jika aku (penulis) mengatakan, ‘Tsabit’ (untuk hadits), maka yang aku maksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari atau Imam Muslim, atau apa yang menjadi kesepakatan mereka berdua”. Demikian juga dalam kitab at-Tayamum pada bab ke-empat, pada mas’alah ketiga yang menerangkan jumlah basuhan dalam tayamum, “Jika aku mengatakan ‘jumhur’, maka yang dimaksud adalah 3 fuqoha’ yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i”.

Di antara yang menjadi keistimewaan kitab ini adalah bersandar pada al-adillah al-arba’ah yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas; menjadi kitab rujukan utama dalam perbandingan mazhab fiqih ; dan menggunakan kaidah-kaidah ushuliyah untuk merajihkan pendapat-pendapat para fuqoha’.

Di antara manfaat besar ketika membaca buku ini adalah, dapat mengetahui sebab terjadinya perbedaan pendapat dalam berbagai mazhab fiqih dan mengetahui bagaimana cara menentukan hukum. Hal ini sangat penting untuk membantu keluar dari taklid buta dan membantu memperdalam studi atas berbagai dalil dan ketetapan hukum yang diperselisihkan dengan berbagai pendekatan penentuan hukum masing-masing mazhab dalam masalah fiqih tertentu. Dengan demikian akan timbul kesadaran dan sikap saling menghargai, karena sadar bahwa semua pendapat mazhab yang berbeda tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Para ulama banyak menukil dari kitab ini, karena merupakan sumber penting dari sumber-sumber kajian perbandingan fiqih yang ada. Iamam Al-Qarafi menukil beberapa bagian dari kitab bidayatul Mujtahid ini dalam kitab al-Furuq, Imam an-Nawawi juga menukilnya dalam kitab al-Majmu’, Ibnu Hajar menukilnya dalam kitab Fathul Bari dan Asy Syaukani menukil untuk kitab Nailul Authar.

Tidak hanya ulama salaf saja yang memberi perhatian istimewa pada kitab ini, bahkan ulama muta’akhirin pun memberikan perhatiannya dengan mentakhrij hadits-hadits di dalam kitab ini. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al Hafidz Abu Al Faid Ahmad bin Ash-Shidiq al Ghamari dalam kitabnya al-Hidayah fi Takhriji Ahaditsi Al-Bidayah. Begitu juga dengan Syaikh Abdul Lathif bin Ibrahim Ali Abdi Lathif di dalam kitabnya Thariqu Ar-Rusydi ila Takhriji Ahaditsi Bidayati Ibnu Rusydi.

Kitab ini pertama kali dicetak pada tahun 1327 H/1908 M, kemudian dicetak kembali pada tahun 1333 H / 1914 M, dan dicetak selanjutnya pada tahun 1334 H / 1915 M di Mesir. Kemudian pencetakannya terus berulang hingga hari ini dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta dapat dibeli di toko-toko buku. Dalam versi asli (arab) kitab ini tersusun dalam satu jilid kecuali dalam versi syarahnya yaitu menjadi empat jilid. Dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi dua jilid, namun beberapa penerbit ada juga yang mencetaknya dengan tiga jilid.

(Sumber : Majalah Hujjah)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Latest News

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu disebut Interferon Alpha 2b Human...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar yang menggembirakan itu datang dari...

Positif COVID-19, Putri Spanyol Meninggal Dunia

SPANYOL (wahidnews.com) – Kabar duka datang dari Kerajaan Spanyol. Putri Kerajaan Spanyol, Maria Teresa dari Bourbon-Parma meninggal dunia pada hari kamis tanggal 26 Maret...

Komunitas Muslim di Inggris Bersatu Lawan Virus Corona

London (wahidnews.com) - Wabah virus covid-19 masih melanda negara Inggris. Dalam rangka merespon wabah tersebut, Badan amal Muslim Hands yang berbasis di Nottingham telah...

Popular Post

Selamat Jalan Malaikat Kecilku…

Oleh : Farah RizaTubuh mungil berbungkus kafan putih itu menebar aroma melati. Derai air mata pun membasah di dada kami kala itu. Melepasmu untuk...

Muhasabah : Makna Bertambahnya Usia

Oleh : Ova YantiHari ini, genap sudah usiaku tiga puluh tahun. Merenungi tentang usia, tidak salahlah kalau aku, menghubungkannya dengan hari yang biasa disebut...

Di Balik Kalimat “Semua Akan Indah Pada Waktunya”

Kali ini kita membahas tentang kalimat, "akan indah pada waktunya". Menulis atau mengucapkan kata-kata merupakan hak yang bebas dilakukan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Namun, pernahkah...

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para Wanita

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para WanitaWanita, engkaulah racun, engkaulah madu. Dari dirimu pula generasi penerus akan dilahirkan, bahkan di tanganmu tempat pembentukan generasi...

Bersyukur Dengan Hati, Lisan dan Perbuatan

Oleh: Pipit Era MartinaMensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kata ‘Alhamdulillah’ saja. Namun, ternyata ada beberapa cara mensyukuri nikmat...

More Articles Like This

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com