Indahnya Ta’aruf Jika Dilakukan Sesuai Syariat

0
453
proses ta'aruf

Oleh : Newisha Alifa

Hari gini, udah 2016 … masih ada saja orang yang menganggap proses ta’aruf itu tak ubahnya beli kucing dalam karung. Suatu pribahasa yang kurang lebih artinya; kita memutuskan sesuatu dengan pertimbangan yang tidak jelas. Jika dikaitkan dengan ta’aruf yang disyari’atkan Islam sebagai proses awal menuju pernikahan, maka seolah-olah ta’aruf adalah proses yang absurd dan berpotensi mengalami penyesalan, karena menikah dengan orang yang baru dikenal—yang benar-benar asing dalam hidup kita. Benarkah demikian?

Ta’aruf jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “perkenalan”. Yang saya ingat, sekitar 20 tahun lalu, sebenarnya istilah “pacaran” sendiri adalah proses menuju pernikahan. Jadi setahu saya, di era 90-an, pasangan yang pacaran itu adalah orang-orang dewasa yang memang dalam proses menuju pernikahan. Mereka yang memang di usia-usia matang untuk melangkah ke pelaminan. Jarang sekali saat itu saya temukan anak-anak SMA pacaran. Istilah pacaran hanya untuk om-om dan tante-tante yang saat itu usianya sudah 20-30 ke atas. Jelas berbeda sekali dengan kondisi sekarang. Anak SD aja udah tahu pacaran. Naudzubillah! Sungguh sebuah degradasi moral yang memprihatinkan.

Saya pribadi mulai mengenal istilah ta’aruf saat zaman putih abu-abu. Sekitar 10 tahun lalu. Yang saya tahu saat itu, ta’aruf adalah lawan dari kegiatan pacaran. Padahal jika dikembalikan lagi ke pengertian secara harfiah, ta’aruf tak mesti berarti proses perkenalan menuju pernikahan loh, tapi antar teman sejenis yang baru kenal pun bisa disebut ta’aruf.

#

Well … kita balik lagi ke topik. Kali ini yang mau dibahas tentunya ta’aruf yang menjadi tahap pertama sebelum melangkah ke proses khitbah dan nikah.

KENAPA SEBAIKNYA MEMILIH TA’ARUF KETIMBANG PACARAN?

Saya dulu kurang paham tentang istilah ta’aruf, karena memang saya bukan lulusan pesantren dan mendapat ilmu agama hanya dari orang tua, mengenyam pendidikan formal di sekolah umum, yang notabene terbiasa sekali dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan tanpa batas yang jelas. Dulu saya sempat berfikir bahwa ta’aruf itu sesuatu yang sangat eksklusif. Sebuah proses yang islami banget, dan hanya wajar dilakukan oleh mereka yang rajin ngaji, terutama para santri. Tentunya pacaran terdengar lebih normal, plus nggak ribet.

Tapi semakin ke sini, saya semakin memahami, bahwa disyari’atkannya ta’aruf sebagai langkah awal menuju pernikahan adalah demi kebaikan kita sendiri! Terutama bagi kaum hawa yang rentan terjangkit “diabetes” karena sering ‘mengonsumsi’ janji-janji manis dan palsu dari sekelompok laki-laki tak bertanggungjawab.

Jika ta’aruf yang dilakukan benar-benar mengikuti aturan syari’at, misalnya sangat menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, maka berhasil atau tidaknya proses ta’aruf itu ke depannya, tetap akan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. Dan diantara kebaikan itu adalah; tidak ada satu pihak pun yang akan merasa dirugikan jika ta’aruf tersebut gagal.

Ada pun jika saat ini, kita temui being “galauers” menjadi begitu trend, baik bagi remaja maupun orang dewasa dalam hubungan percintaan, ya salah satunya disebabkan karena dilanggarnya aturan tersebut.

Khalwat sekarang semakin canggih. Nggak mesti ketemuan langsung face to face. Seiring kemajuan teknologi, kita bisa berinteraksi dengan siapa pun, entah itu via chatting atau video call dengan sangat mudah. Hal ini pula yang dijadikan senjata ampuh bagi setan untuk memperdayai kita.

Akhirnya apa? Dari keseringan berinteraksi hal-hal yang nggak penting, mulailah timbul perasaan peduli, perhatian bahkan beraneka ragam perasaan lainnya yang belum atau tidak semestinya ada di antara kedua sejoli tersebut. Dan ketika akhirnya mereka ditaqdirkan TIDAK BERJODOH, maka apa yang terjadi selanjutnya? Kecewa. Galau. Patah hati, bahkan nggak sedikit yang ingin mengakhiri hidupnya. Naudzubillahimindzalik!

Tapi hal ini tidak akan terjadi, jika keduanya melakukan ta’aruf sesuai syari’at. Kalaupun ada perasaan kecewa karena ta’arufnya gagal, maka kecewanya dangkal, sebentar. Nggak ‘dalem’ dan makan waktu lama. Toh, perasaan yang ada juga baru sebatas ketertarikan untuk mengenal satu sama lain, jadi belum banyak melibatkan perasaan di dalam proses tersebut. Gagal? Ya udahlah, belum jodohnya. Ikhtiar lagi aja!

#

Buat para pembaca yang masih meragukan indahnya proses ta’aruf sebelum pernikahan, silakan coba dan rasakan bedanya! Salah satu nikmat yang seringkali luput tuk disyukuri adalah dihindarkannya kita dari perasaan kecewa karena makhluk. Dan ta’aruf ada dalam Islam, untuk menghindarkan kita terjatuh dalam lubang kekecewaan dan terjerumus dari lembah kemaksiatan.

Wallahu A’lam bisshowab.

Bekasi, 4 Ramadan 1437H