Ya Allah, Jauhkanlah Kami dari Sifat Bakhil!

0
215
jangan jadi orang bakhil

Oleh : Newisha Alifa

BAKHIL itu artinya pelit. Dan sebagai muslim-muslimah yang menginginkan tersematnya gelar ‘manusia beriman dan bertakwa’ di mata Allah, sudah sepatutnya kita memohon dijauhkan dari sifat buruk yang satu ini.

Tidak sedikit ayat dalam kitab suci Al-Qur’an yang senantiasa mengingatkan kita untuk rajin berinfaq, bersodaqoh, atau segala sesuatu yang dimaksudkan sebagai ‘transaksi’ kita dengan Allah. Pun tidak sekali dua kali, perintah sholat kemudian diikuti dengan perintah ‘membelanjakan hartanya di jalan Allah’ (berinfak).

Allah SWT berfirman, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” [QS. Al-Baqarah: 2]

Apa ciri-ciri orang yang bertakwa?

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, [QS. Al-Baqarah: 3]

اَلصّٰــبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِــيْنَ وَالْقٰنِتِــيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ
(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar. [QS Ali ‘Imran: 17]

Dan di antara ciri-ciri orang yang beriman adalah?

“(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” [QS. Al-Anfal: 3]

Sementara kalau kita merindukan kebaikan (kebajikan) dalam kehidupan pun, kita dianjurkan untuk menginfakkan harta di jalan Allah. “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” [QS. Ali ‘Imran: Ayat 92]

#

Bukankah harta yang sekarang ada pada kita sejatinya hanya titipan dari Allah semata, yang sewaktu-waktu, jika Allah berkehendak, maka bisa saja dicabut-Nya? Sebagaimana Ia berikan kekayaan kepada Qarun dan dalam sekejap pun bisa Ia tenggelamkan harta itu ke perut bumi. Lantas, apa yang mau kita tahan-tahan, apalagi sampai menjadi alat bagi kita untuk menyombongkan diri?

Semakin kita merasa takut untuk mengeluarkan harta kita di jalan Allah, semakin menandakan betapa cintanya kita pada dunia! Dalam suatu artikel atau ceramah saya pernah diingatkan, bahwa harta kita sebenarnya adalah nilai atau nominal yang kita belanjakan di jalan Allah, bukan nilai yang seakan-akan kita miliki.

Jadi, jika gaji kita tiap bulannya 3 juta, dan memilih mengeluarkan harta di jalan Allah dengan presentase terkecil : 2,5% yang adalah 75.000, maka yaa segitulah harta kita sebenarnya. Harta yang dibawa mati!

“Tapi kan saya banyak pengeluaran?” Betul itu. Pun sebenarnya dalam Al-Qur’an sendiri menjelaskan, bahwa apa yang kita keluarkan untuk berinfak adalah kelebihan dari apa yang diperlukan. “… Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan” [QS. Al-Baqarah: 219]

Namun, jika dalam hati kita sudah terlanjur terpatri untuk gemar berinfak, terbiasa membelanjakan harta yang Allah titipkan untuk kemudian dipergunakan lagi di jalan-Nya, maka Allah akan senantiasa memberikan kita kelapangan hati dan rezeki untuk beramal.

Lagian nih, kalau kita terus-terusan menjadikan keperluan duniawi sebagai alasan untuk tidak berinfak atau meminimalisir nominal kita berinfak, itu takkan ada habisnya! Jangan salah, yang ada keperluan kita malah jadi makin banyak. Kesannya nggak abis-abis. Belum kelar satu hal, udah harus bayar yang lain. Dan akhirnya apa? Toh uang kita habis juga! Sementara rekening jariyah kita? Memprihatinkan! Karena harta kita habisnya untuk keperluan duniawi doang, buat akhirat ZERO!

Sebaliknya, ketika kita senang beramal, yang namanya rezeki dan bantuan dari Allah itu kok ya, ada aja. Datang dari arah yang tak disangka-sangka. Sembuh dari penyakit. Diselamatkan dari marabahaya dan berbagai nikmat lainnya, yang sering kali nggak kita sadari.

Ayo tunggu apa lagi? Jangan pelit! Jangan kikir! Jangan bakhil! Mumpung masih ada waktu untuk beramal! Sebelum tiba masanya, ketika seluruh harta kita bahkan jika kita memiliki satu gunung emas untuk diinfakkan, menjadi sia-sia dan tak dihitung lagi. Ya, sebelum masa itu tiba! Yakni hari kiamat!

Bekasi, 7 Sya’ban 1437H