Suap Dalam Pandangan Islam

0
303
larangan suap

Oleh : Fatimah Az-Zahra

“Rasulullah SAW melaknat orang yang memberikan, menerima suap, dan orang yang menjadi perantara di antara keduanya.” (Hadist Shahih Tirmidzi)

Kita tentu sudah tak asing mendengar kata suap. Kutipan hadist di atas seolah cukup menjelaskan bahwa Islam telah mengharamkan suap, mengambil, memberikan dan menjadi perantara di dalamnya. Kegiatan suap ini memberikan begitu banyak dampak buruk bagi pelaku dan masyarakat di sekitarnya.

Suap-menyuap memberi dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat karena merusak sistem atau aturan yang diterapkan di suatu daerah tersebut. Menjadi penyebab terjadinya kesalahan penetapan hukum yang harusnya berlaku, sehingga hukum bisa dipermainkan. Mengakibatkan terjadi ketidakadilan dan berakhir pada kezhaliman dimana-mana.

Sebagai contoh, seorang yang berkuasa ketika melakukan kesalahan, dengan memberi suap, maka dia dengan mudahnya terbebas dari jeratan hukum yang berlaku di daerah tersebut. Atau orang yang memiliki uang dengan mudahnya bisa mendapat berbagai kemudahan dari Negara. Atau orang yang memiliki uang akhirnya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Bila terus-menerus terjadi, terbayangkah apa damp aknya di masa mendatang? Sungguh kekacauan menjadi hal yang pasti. Rakyat kecil akan terzholimi. Karena itulah, bahkan Rasulullah SAW begitu melaknat tindakan suap.

Setidaknya ada empat dampak tindakan suap yang akan langsung terlihat di masyarakat:
PERTAMA, apabila praktik suap terus terjadi, maka setiap orang akan terpaksa ikut membayar apa yang seharusnya tak perlu dibayar. Ini jelas menzhalimi mereka yang kurang mampu.

KEDUA, orang yang memberi suap akan terus berada dalam suasana hati yang ketakutan. Sebab mereka takut bila sewaktu-waktu tindakan suap itu terbongkar. Begitu pula orang yang menerima suap.

KETIGA, masing-masing dari keduanya, yakni yang memberi suap dan menerima suap secara tidak langsung akan kehilangan harga diri mereka. Sebab, suap sama saja menunjukkan bahwa mereka tak percaya dengan kemampuan mereka sendiri, sehingga terpaksa pakai jalan suap untuk memperlancar suatu urusan. Pelaku suap adalah orang yang tidak layak dihormati, tidak layak dihargai. Bahkan dengan tindakan suap, mereka menunjukkan tak mampu menghargai diri sendiri.

KEEMPAT, masyarakat yang melakukan dan membiarkan praktik suap terus terjadi adalah masyarakat yang hak-haknya telah hilang, yang kuat memakan yang lemah, yang kaya memakan yang miskin, yang berkuasa memakan yang tak berkuasa. Masyarakat yang demikian sejatinya hanya mementingkan diri sendri dan terus berlomba memperkaya diri sendiri dengan cara yang tak benar. Ini jelas bertentangan dengan Islam.

Untuk itulah saudaraku, yuk hindari suap. Mulai dari yang kecil hingga besar. Karena yang namanya dosa, mau ia kecil atau besar ya tetaplah dosa. Suatu perkara haram, baik sedikit atau banyak akan tetap haram hukumnya. Yakinlah tanpa suap, kita bisa mendapat apa yang kita mau asalkan terus berusaha dan minta kepada Allah. Bukankah rezeki itu dari Allah?