Mempercantik Diri, Bagian Dari Tabarruj?

0
229
terapi kecantikan

Oleh : Fatimah az-Zahra

“ Ke salon yuk, perawatan kulit.”
“ Nggak Ah, takut tabarruj nantinya.”

Percakapan di atas sering sekali terjadi terutama di kalangan ibu-ibu. Dengan alasan takut tabarruj, mereka enggan merawat diri. Dengan alasan takut tabarruj, mereka enggan merawat kulit supaya tetap fresh. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Benarkah merawat diri bagian dari tabarruj?

Banyak yang salah kaprah tentang tabarruj atau mungkin salah mengartikan tabarruj itu sendiri. Memang benar bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Allah SWT melaknat orang yang bertabarruj. Tapi tabarruj di sini artinya adalah orang-orang yang menghias diri mereka secara berlebihan dan berhiasnya bukan untuk suami mereka. Misalnya kebanyakan istri masa kini yang ketika ke kondangan dandan habis-habisan, memakai baju terbaik mereka, dengan make up yang membuat mereka nyaris terlihat seperti badut. Inilah yang dikatakan tabarruj. Sebab mereka telah berlebihan di depan umum.

Fenomena lainnya yang tak kalah yakni ketika kebanyakan istri yang justru berpakaian ala kadarnya, dengan daster yang sepertinya menjadi pakaian dinas wajib di rumah, tanpa make up apalagi wewangian. Ditambah lagi mungkin ada juga yang masih bau bawang. Padahal seharusnya seorang istri mampu menyenangkan suaminya.

Atau pernah dengar kalimat “Allah itu indah dan menyukai keindahan”. Rasanya kalimat tersebut sudah tak asing lagi. Ini sekali lagi menegaskan bahwa Allah tak melarang kita untuk memperindah diri. Bahkan Allah mencintai keindahan itu sendiri. Tetapi tetap, semua memiliki batasan-batasan yang tak boleh dilampaui.

Ingat juga bahwa mempercantik diri tak selalu memutihkan kulit yang tadinya gelap, atau menyulam alis, atau sulam bibir, atau rentetan gaya kecantikan yang sedang naik daun saat itu. Karena bila sudah sampai ke arah itu, maka jatuhnya malah merubah ciptaan Allah dan itu dosa.

Kulit putih tak selamanya cantik dan hitam tak selamanya jelek. Tinggal diselaraskan saja. Dirawat agar tetap sehat dan fresh tentunya. Bukankah merawat ciptaan Allah termasuk cara mensyukuri nikmatnya?

Lalu harus bagaimana? Yuk, mulai ubah kebiasaan. Ketika keluar rumah seperti ke undangan, boleh berdandan tapi yang minimalis saja. Asalkan bersih, rapi dan pakaiannya sesuai syariat tentunya. Sementara di rumah, ya berdandan. Kalau perlu pakai wewangian. Pernah dengar kan bahwa menyenangkan suami adalah ladang pahala istri. Membuat suami nyaman di rumah adalah ibadah. Kan nggak lucu kalau suami sampai nggak betah dirumah karena penampilan si istri yang kurang enak dipandang. Tapi ini fakta loh. Kebanyak suami justru menjadi kurang nyaman di rumah jika penampilan istrinya tak rapi.

Analoginya seperti ini, suami telah capek kerja seharian. Mereka tentu berharap ketika sampai di rumah disambut sang istri yang sudah rapi dan wangi, tetapi kenyataan justru berbanding terbalik. Istri yang harusnya bisa menjadi obat penghilang lelah malah masih berpenampilan acak-acakan. Gimana suami mau senang coba?

Jadi dapat ya poinnya. Bahwa berhias diri selama tak berlebihan itu bukan bagian tabarruj. Apalagi jika berhiasnya untuk suami, boleh banget malahan!

Dan untuk para suami, jangan hanya sekedar menuntut istri harus wangilah, harus rapilah, tetapi lihatlah bahwa tugas kami tak sesimpel yang dipikirkan. Maunya istri selalu cantik, tetapi anggaran kecantikannya nggak dikeluarin. Gimana kami bisa cantik? Intinya sih, saling mengerti saja. Dan ingat, ketika suami baik, maka istri pun memberi kebaikan yang lebih pula.