Kenali Target Dakwahmu!

0
309
dakwah

Oleh : Newisha Alifa

Alhamdulillah, saya bersyukur lahir di lingkungan –baik keluarga maupun teman-teman— yang bersifat di tengah-tengah. Maksudnya, meski bukan lulusan pondok pesantren, tetapi nilai-nilai agama Islam tidak luput dari keluarga besar kami. Meski di sisi lain, terkadang saya iri kepada mereka yang lulusan pondok. Mereka yang akrab sekali dengan ibadah-ibadah sunnah. Mereka yang terjaga pergaulannya dari hal-hal yang sia-sia. Mereka yang hafalan Al-Qur’annya pun luar biasa. Masyaa Allah.

Saya bergaul dengan banyak orang dari berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, serta agama yang beragam. Laki-laki dan perempuan, yang seiman juga non muslim. Dari yang penghafal Qur’an sampai yang doyan dugem.

Tentunya setiap posisi itu ada positif negatifnya. Pun itu yang terjadi pada diri saya. Di antara keuntungan berada di posisi ‘tengah-tengah‘, begini, Alhamdulillah saya merasa menjadi lebih kaya sudut pandang dalam menyikapi sesuatu. Nggak ujug-ujug neriakin sesuatu yang masih sensitif di masyarakat dengan halal atau haram, bid’ah atau sunnah, dan lain-lain.

#

Setiap kita itu memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, bukan? Menyampaikan kebenaran sebenarnya adalah dakwah! Cuma ada aja orang-orang yang kok ya alergi sama kata; dakwah. Heran deh, padahal muslim juga!

Dalam berdakwah, sangat penting bagi kita untuk mengenali latar belakang sasaran atau target dakwah kita. Misalnya, nggak bisa disamain dong, penyampaian kita kepada mereka yang mu’alaf dengan yang Islam dari lahir. Atau nggak bisa disamain juga, materi Tahsin, kepada mereka yang sudah lancar membaca Qur’an dengan mereka yang baru belajar Iqra’.

#

SABAR, adalah salah satu kunci kita dalam menyampaikan apa yang sudah kita ketahui kepada orang lain. Apalagi jika sasaran dakwah kita itu orang yang lebih tua, tapi terlanjur terikat pada kebiasaan-kebiasaan yang—kita anggap—keliru, yang ternyata tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw alias bid’ah. Nggak bisa, sekonyong-konyong kita ini langsung teriak, “Bid’ah tuh, Pak. Bid’ah itu tempatnya neraka!”

Atau ketika kita perempuan berhijab dan merasa sudah berpenampilan paling sesuai syari’at Islam, melihat teman-teman perempuan lain yang belum berhijab syar’i langsung ceramah, “Eh itu hijabmu pake cepol punuk unta, ya! Haram, loh! Dilaknat!”

Subhanallah! Bukannya target dakwah kita sadar, yang ada malah mencak-mencak dan terjadi keributan!

#

Mengenali profil dan karakter lawan bicara kita juga sangat penting! Alih-alih kita berasa lebih pintar dan mau ngedakwahin dia, eh rupanya ilmu dia sudah jauh di atas kita. Nah lho! Makanya jangan merasa paling pintar. Kita harus tahu, kapan dan di kondisi mana harus memposisikan diri menjadi seorang guru atau justru jadi muridnya.

Ada juga orang-orang yang susah menerima kebenaran kalau nggak masuk akal sama logika mereka. Biasanya orang-orang kayak gini, mengutamakan ilmu dunia dan berpotensi jadi liberal. Nggak bisa disamain cara menyikapinya dengan mereka yang dikit-dikit manggut alias gampang percaya sama apa yang kita sampaikan.

Namun begitu, orang-orang kritis begini kalau kebenaran sudah bisa diterima oleh otak mereka, maka masyaa Allah, kebenaran tersebut akan mereka junjung tinggi dan dijadikan prinsip hidup. Kalau mau lihat bagaimana cara, juga retorika dalam menghadapi orang-orang keliwat pintar kayak gini, sering-sering aja nonton videonya Dr. Zakir Naik! Mantap tuh buat referensi dan menambah wawasan kita.

#

Jadi, supaya nilai dakwah kita tersampaikan, yuk mari, kita belajar juga mengenali target dakwah kita. Jangan menyamaratakan sikap kepada orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Insyaa Allah, dakwah kita pun akan lebih mudah diterima.

Semoga bermanfaat 🙂

Bekasi, 7 Sya’ban 1437H