Jaim, Bolehkah?

0
464
jaga image

Oleh : Newisha Alifa

JAIM alias jaga image, terkenal sebagai sesuatu yang negatif. Cenderung munafik. Padahal sejatinya relatif, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Kalaulah sehari-hari, dasarnya kita memang orang yang baik, rajin, ramah, disiplin, jujur dan berbagai perangai terpuji lainnya, maka apa lagi yang mau di-jaimin? Wong semuanya sudah asli kok. Yang disebut jaim itu kan, ketika kita yang di mata orang lain terkenal malas, di depan bos mendadak rajin. Nah ini gelarnya langsung dua, jaim plus carmuk alias cari muka.

Muslim-muslimah yang paham pentingnya hablumminannas dalam kehidupannya, maka secara otomatis akan senantiasa menjaga sikap ketika bermuamalah dengan orang lain. Fokusnya tidak melulu terhadap ibadah yang sifatnya ritual seperti sholat, puasa, zakat dan lain-lain, tapi menjaga hubungan dengan sesama pun, masuk dalam perhatiannya.

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita saling membutuhkan satu sama lain. Menjadi muslim-muslimah yang berperangai baik, akan membuat orang lain nyaman berinteraksi dengan kita. Nah, efeknya pun lama-kelamaan akan kita rasakan sendiri. Ketika kita membutuhkan pertolongan misalnya, akan banyak orang yang bersedia menawarkan bantuannya pada kita. Sebaliknya, kalau kita terkenal angkuh, nyebelin, tukang bohong, aduh … yang ada orang udah malas duluan berhubungan sama kita.

#

Saya amati sendiri di dunia kerja misalnya. Mereka yang menjalin hubungan baik dengan orang lain, ketika terjadi pengurangan karyawan, dan harus dimutasi dari bagian asalnya, menjadi rebutan di sana-sini. Banyak bagian yang mau ‘menampung’ karyawan tersebut.

Sebaliknya, satu dua orang yang terkenal annoying (menyebalkan), ribet, suka bolos, suka cari masalah, aduhai boro-boro jadi rebutan, atau ada bagian yang mau menampung, bahkan yang saya tahu, atasan langsungnya saja memberikan statemen untuk TIDAK MAU MEMPEKERJAKANNYA LAGI. Subhanallah! Sampai sebegitu berefeknya bukan, pengaruh ‘image’ yang menempel dalam diri kita.

#

Selama menjaga image yang dimaksud tidak bertentangan dengan rambu-rambu syari’at Islam, maka tentu sebagai penganut agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, kita sangat perlu memerhatikan hal ini. Niatnya pun bukan semata-mata untuk cari muka, atau mengharapkan bantuan orang lain—sesama makhluk, tapi menjaga ukhuwwah dan hablumminannass. Bukankah Rasulullah Saw menyuruh kita untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga sebagai salah satu bentuk pentingnya menjaga hablumminannas dalam kehidupan kita?

Wallahu A’lam bisshowab.

Bekasi, 5 Sya’ban 1437H