Array

Istri, Bekerja atau Di Rumah?

Must Read

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar...

Oleh : Fatimah Az-Zahra

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu…” ( Al-Ahzab :33)

Petikan terjemahan ayat di atas sungguh menjadi pertimbangan besar bagi para istri sekaligus ibu. Bagaimana tidak, di tengah zaman yang katanya kesetaraan gender, yang akhirnya membuat para istri berbondong-bondong mengejar karir, di tengah zaman yang katanya istri mempunyai hak yang sama layaknya suami hingga akhirnya mereka ingin bebas lalu terjun ke dunia kerja. Namun, di sisi lain, ternyata ada ayat yang memerintahkan para istri justru di rumah saja. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapainya menurut pandangan Islam?

Di sini, saya bukan ingin memojokkan para istri yang memilih bekerja dengan alasan perbaikan ekonomi. Bukan pula ingin menjudge para ibu yang terpaksa meninggalkan buah hati mereka demi pekerjaan, demi tuntutan yang katanya profesionalisme. Namun justru ingin menanggapi dari sudut yang lebih positif.

Sungguh, tak ada yang salah bila wanita bekerja, karena jika ditinjau dari hukumnya, maka hukum bekerja adalah mubah. Boleh-boleh saja. Justru saya ingin mengatakan bahwa ibu-ibu yang bekerja adalah wanita-wanita yang hebat. Mereka rela ikut bekerja, meninggalkan anak-anak walau saya yakin itu berat, tetapi tetap berusaha ikhlas demi masa depan si anak. Justru ibu-ibu yang bekerja adalah wanita yang hebat. Mereka tahu bahwa mencari nafkah adalah tugas suami, tetapi mereka tetap ikhlas menjalaninya. Sebab sesungguhnya pernikahan bukanlah sekedar romantisme kehidupan tapi juga bagaimana usaha mereka untuk tetap hidup bersama, dalam suka duka, kaya miskin hingga ke Jannah-Nya kelak. Insya allah. Justru ibu-ibu yang bekerja adalah wanita yang tidak egois, yang tak peduli bahwa sejatinya dia bisa saja diam di rumah, tetapi karena kecintaan pada suami, ia rela ikut menanggung beban suami.

Namun ingat, bahwa fitrahnya wanita, fitrahnya seorang ibu adalah di rumah. Karena itulah, bila ternyata kondisi masih memungkinkan kita untuk tidak bekerja, bila ternyata suami masih mampu menafkahi kita, tetaplah di rumah. Menolong suami mencari nafkah memang mulia, tetapi menjadi madrasah pertamanya anak jauh lebih mulia. Mungkin benar, dengan ikut bekerja, perekonomian kita bisa membaik, tetapi bagaimana dengan waktu yang terlewati tanpa kebersamaan dengan si buah hati?

Ingat juga, bahwa anak butuh sosok ibu untuk menjadi panutannya. Seorang anak tak melulu butuh mainan yang mahal, tak melulu butuh fasilitas mewah, tetapi mereka juga butuh cinta. Dan cinta itu didapat dari keluarganya sendiri. Bukan dari orang lain.

Lalu bagaimana bila ternyata penghasilan suami ternyata tak mampu memenuhi semua kebutuhan kita? Bagaimana bila ternyata perekonomian yang semakin sulit justru mengharuskan kaum ibu juga ikut bekerka? Berdosakah?

Mari kita lihat kodisinya. Hukum bekerja adalah mubah, sedangkan mengurus anak adalah wajib. Jadi kita boleh bekerja selama hak-hak anak dan hak-hak suami dapat terpenuhi. Tetapi jika dengan bekerja justru membuat anak tak mendapat haknya, maka lebih baik tinggalkan pekerjaan tersebut. Atau mungkin solusi terbaiknya adalah mencari pekerjaan paruh waktu seperti buka usaha di rumah, sehingga meskipun sedang bekerja tapi kita sebagai ibu tetap bisa mengawasi perkembangan si buah hati.

Intinya, dalam islam itu boleh bekerja selama tak ada kewajiban yang terabaikan. Dan yang tak kalah penting, bahwa rezeki itu dari Allah, maka yakinlah. Allah akan membukakan pintu rezekinya lewat jalan mana saja yang Dia ridhoi.

Dan terakhir, buat para suami sekaligus ayah, ingatlah bahwa istri itu tulang rusuk, bukan tulang punggung. Tolong jangan buat mereka harus bekerja, dan itu berarti para suami harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sejatinya, suami adalah imam dalam segala hal, maka untuk itu berilah contoh yang baik, beri tanggung jawab terbaik agar kelak putra-putramu melakukan hal yang sama ke istri mereka nantinya.

Wallahu a’lam.

1 COMMENT

1
Leave a Reply

avatar
0 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Latest News

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu disebut Interferon Alpha 2b Human...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar yang menggembirakan itu datang dari...

Positif COVID-19, Putri Spanyol Meninggal Dunia

SPANYOL (wahidnews.com) – Kabar duka datang dari Kerajaan Spanyol. Putri Kerajaan Spanyol, Maria Teresa dari Bourbon-Parma meninggal dunia pada hari kamis tanggal 26 Maret...

Komunitas Muslim di Inggris Bersatu Lawan Virus Corona

London (wahidnews.com) - Wabah virus covid-19 masih melanda negara Inggris. Dalam rangka merespon wabah tersebut, Badan amal Muslim Hands yang berbasis di Nottingham telah...

Popular Post

Selamat Jalan Malaikat Kecilku…

Oleh : Farah RizaTubuh mungil berbungkus kafan putih itu menebar aroma melati. Derai air mata pun membasah di dada kami kala itu. Melepasmu untuk...

Muhasabah : Makna Bertambahnya Usia

Oleh : Ova YantiHari ini, genap sudah usiaku tiga puluh tahun. Merenungi tentang usia, tidak salahlah kalau aku, menghubungkannya dengan hari yang biasa disebut...

Di Balik Kalimat “Semua Akan Indah Pada Waktunya”

Kali ini kita membahas tentang kalimat, "akan indah pada waktunya". Menulis atau mengucapkan kata-kata merupakan hak yang bebas dilakukan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Namun, pernahkah...

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para Wanita

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para WanitaWanita, engkaulah racun, engkaulah madu. Dari dirimu pula generasi penerus akan dilahirkan, bahkan di tanganmu tempat pembentukan generasi...

Bersyukur Dengan Hati, Lisan dan Perbuatan

Oleh: Pipit Era MartinaMensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kata ‘Alhamdulillah’ saja. Namun, ternyata ada beberapa cara mensyukuri nikmat...

More Articles Like This

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com