Hindari HOAX, Teliti Dulu Sebelum Menyebar Informasi!

0
262
hindari hoax

Oleh : Newisha Alifa

Di antara sifat-sifat pemimpin yang dimiliki, di mana Rasulullah Saw adalah sebagai tauladannya, yakni Ash-Shiddiq (yang benar). Pemimpin yang baik adalah mereka yang benar baik sikap maupun ucapannya. Dan karena setiap kita adalah pemimpin bagi diri sendiri, maka kita pun harus menerapkan sifat ini dalam diri masing-masing.
Dalam kesempatan sebelumnya, salah satu rekan di tim redaksi Wahid News juga sudah pernah membahas tentang pentingnya tabayyun (mengklarifikasi kebenaran) dalam menyikapi suatu berita. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang responsif tapi tidak berpikir dulu, apakah berita yang kita terima dan hendak kita sebarkan itu benar atau cuma kebohongan semata?

#

Nah, kali ini yang akan saya bahas adalah efek dari sikap kita yang berpikir dulu sebelum berbicara, atau memilih untuk baru berpikir ketika semuanya sudah jadi masalah—berawal dari bicara atau sikap kita.

Saudara-saudari yang semoga selalu dirahmati Allah, sadarkah kita bahwa di sekeliling kita ini sudah terlalu banyak dusta! Bahwa apa yang ada pada dunia saat ini, begitu banyak diselimuti konspirasi. Apa yang kelihatannya benar dan baik di mata kita, ternyata justru sebaliknya. Tak ubahnya seperti Dajjal yang menawarkan surga untuk justru menjerumuskan kita ke dalam neraka. Dan membuat kita gagal mengenali surga sebenarnya, karena dibungkusnya seperti neraka.

Sangat penting bagi kita untuk menjadi orang yang dikenali orang lain sebagai orang yang BENAR apa yang diucapkan dan dilakoninya. Bahwa ketika kita bersikap atau berucap, maka orang lain percaya bahwa kita itu benar.

Bukan justru sebaliknya. Ketika kita bicara, asal komentar, asal bunyi, asal ikut-ikutan dan ternyata SALAH pula! Sekali-dua kali, orang akan memaklumi. Namun jika kita lebih sering berkata sembarangan, maka jangan heran kalau orang lain akan melabeli diri kita sebagai orang yang tidak bisa dipercaya omongannya. Imbasnya apa? Ketika apa yang kita sampaikan adalah benar-benar kebenaran, orang lain akan sulit bahkan tidak percaya sama sekali! Repot kan?

#

Sebelum kita paham betul dan merasa mempunyai cukup data atau alasan untuk making statement (membuat pernyataan), adalah lebih baik kita diam terlebih dahulu. Kenali situasinya. Ambil data dan informasi dari berbagai sudut pandang. Kemudian cari yang paling mendekati pada kebenaran, bukan sekadar pada kecenderungan hati kita saja.

Ingat, bahwa segala perkataan, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Apalagi kalau omongan kita ini terus berantai dan disampaikan lagi oleh orang lain entah sampai orang keberapa. Apa nggak jadi dosa jariyah tuh? Emang sih, kita nggak niat berdusta, tapi kan sebenarnya kita dikasih kesempatan sama Allah untuk tabayyun dulu sebelum ngomong. Mengapa juga nggak kita lakuin, dan memilih untuk langsung berkomentar. Buat apa? Untuk ngasih lihat ke orang lain, bahwa kita ini tahu banyak hal? Bahwa kita ini pintar? Bahwa kita ini up to date? Ehhhh ternyata info yang kita sebar salah!

Maka dari itu, Saudara-saudariku… Yuk mari kita biasakan diri menjadi orang yang bisa dipegang perkataannya. Ditandai orang lain bahwa ketika suatu informasi mereka dapatkan atau bersumber dari kita, maka Insya Allah kemungkinan besar, informasi tersebut sudah teruji kebenaran beritanya. Valid! Bukan hoax!

Rasulullah Saw ketika menceritakan peristiwa Isra Mi’raj yang sulit diterima oleh akal nalar manusia pada umumnya, apa nggak disangka tukang bohong? Bahkan gila! Tapi Masya Allah, karena beliau sudah dikenal sebagai orang yang jujur lagi benar ucapannya, maka sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq pun dengan mantap meyakini atau ikut membenarkan cerita Rasulullah Saw tersebut.

Lantas, bagaimana dengan kita? Lebih banyak benarnya atau ngasalnya kalau menyampaikan suatu berita?

Bekasi, 7 Sya’ban 1437H