Hikmah Diharamkannya Perjudian

0
1221
haramnya judi

Oleh : Fatimah Az-Zahra

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 90)

Setiap penyelewengan dari perintah Allah pasti ada hukuman di dalamnya. Terlepas dari ketundukan kita sebagai hamba, ternyata banyak sekali hikmah yang dapat dipetik ketika kita mematuhi perintah tersebut. Contohnya adalah judi. Ayat di atas cukup membuat kita kaum muslimin untuk senantiasa menjauhi judi. Dan jika kita melanggarnya, maka hukuman di akhirat pasti akan kita terima.

Terlepas dari hukuman di akhirat kelak, ternyata di dunia pun akan mendapat hukuman yang tak kalah mengerikan. Setidaknya ada lima dampak negatif dari perjudian bagi pelakunya, yakni:

Pertama, bahwa perjudian secara tidak langsung merusak syaraf. Sebab seluruh aktivitasnya terfokus pada judi itu saja, sehingga bisa dibilang saraf tersebut tak berkembang dari hari ke hari.

Kedua, bahwa semua perjudian akan diakhiri dengan kekecewaan. Sebab judi itu sendiri mengakibatkan kecanduan. Ketika dicoba dan menang, maka akan dicoba lagi untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Dan sudah dipastikan bahwa tak ada satu pemain judi pun yang terus-terusan menang, ada kalanya dia kalah. Dan ketika kalah itulah akhirnya mengalami kekecewaan. Waktunya juga banyak terbuang percuma tanpa hasil yang jelas. Survey membuktikan bahwa orang yang dianggap sangat pandai dalam memainkan perjudian sekalipun ternyata mengalami kemiskinan di akhir hidupnya. Ini menunjukkan bahwa judi tak dapat menjanjikan apapun. Yang hari ini kaya, besok bisa menjadi miskin, dan sebaliknya. Ini menunjukkan ketidakpastian dari judi itu sendiri.

Ketiga, dalam perjudian, kemenangan atau kekalahan terjadi secara irrasional. Dimana tak ada cara yang pasti untuk bisa menang. Dengan begitu, akan sangat rentan terjadi permusuhan. Misalnya si A dan B bermain judi. Lalu si A selalu menang hingga si B pun akan menaruh curiga mengapa si A bisa menang terus-menerus. Jika terus berlanjut, ini akan sangat rentan terjadi permusuhan.

Keempat, bahwa sadar atau tidak, satu-satunya pihak yang mengalami keuntungan secara kontinyu adalah pihak yang menyediakan tempat perjudian itu. Misalnya club atau rumah tempat biasa orang-orang berjudi. Sedangkan pihak lain hanya menerima bagian yang rugi saja. Lihat sajalah berapa banyak orang yang akhirnya hidupnya terancam karena perjudian? Berapa banyak orang yang rela menggadaikan rumah dan tanahnya untuk berjudi? Berapa banyak orang yang sampai menghabiskan uang untuk kebutuhan keluarganya hanya untuk berjudi? Sungguh, perjudian adalah salah satu hal yang melenakan.

Kelima, orang yang berjudi, seandainya pun menang, mereka sama sekali tak memperhitungkan dalam membelanjakannya. Sebab mereka mendapat uang itu tanpa usaha dan kerja keras, sehingga cenderung boros juga dalam memakainya. Berbeda dengan orang yang bekerja untuk menghasilkan uang yang pastinya lebih jelas perincian uang keluarnya. Selain itu, orang yang mendapat uang dari hasil judi akan cenderung menjadi pemalas. Sebab mereka menganggap besok bisa mendapat uang lagi dengan cuma-cuma tanpa usaha dan kerja keras.

Sebenarnya masih banyak dampak buruk lainnya. Namun yang terpenting, kita menjadi semakin yakin bahwa tunduk pada aturan Allah adalah keharusan dan setiap aturan Allah pasti ada kebaikan di dalamnya. Walau begitu bukan berarti kita mengikutinya karena manfaatnya saja. Tetap harus sami’na wa atho’na, sedangkan hikmahnya itu anggap sajalah sebagai bonus.