Generasi yang Dirindukan

0
262
hafal al quran

Oleh : Alya Adzkya

Jalanilah hidupmu bersamanya
Bersama Qur’an dan menghafalnya
Bertingkah laku dengan ayatnya
Generasi Qur’ani …

Masih ingat Musa? Juara Hafiz Indonesia 2014 ini kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Ia berhasil mendapatkan juara ketiga dalam Musabaqoh Hifdzil Qur’an Sharm El-Sheikh tingkat Internasional yang ke-23 di Mesir beberapa waktu lalu. Ini bukanlah prestasi pertama Musa. Sebelumnya pada tahun 2014 ia juga pernah menjadi peserta termuda dan menempati urutan keduabelas dalam Musabaqoh Hifdzil Qur’an yang diselenggarakan oleh Hai’ah Alamiyah Litahfidzil Qur’an di Jeddah, Arab Saudi.

Pulang dengan prestasi gemilang, tak urung membuat Musa menjadi sorotan. Terlebih lagi banyak yang ingin mengetahui bagaimana cara orang tuanya mendidik Musa. Selidik punya selidik, terungkaplah beberapa langkah yang diterapkan orang tuanya. Kedisiplinan, dan menjaga pergaulan adalah salah satunya. Lantas terdengar kritik, apakah Musa menikmati masa kecilnya dengan sederet kegiatan itu?

Pertanyaan serupa pernah menyambangi sosok Doktor Cilik Penghafal Al-Quran dari Iran, Husein Tabatabai. Bahkan Husein, saat berusia sebaya dengan Musa sudah berhasil mendapatkan gelar honoris causa dalam bidang ulumul Qur’an dari Hijaz College Islamic University. Husein yang kini telah berusia remaja menampik semua tuduhan itu. Ia menyatakan bahwa ia menjalani masa kanak-kanaknya yang indah dengan cara yang berbeda.

Ada pula yang beranggapan seharusnya anak-anak sekecil itu tidak dibebankan untuk mempelajari pelajaran berat. Anggapan itu sama sekali tidak benar. Jika ada yang bertanya pada usia berapa anak seharusnya diajarkan tentang Al-Qur’an, maka jawabannya adalah sedini mungkin. Bahkan ketika masih dalam kandungan, pengajaran tentang al-qur’an sudah bisa dimulai.

Sebuah penelitian membuktikan, jika janin diperdengarkan sesuatu seperti musik atau semacamnya maka bayi tersebut akan bisa menguasainya dengan cepat di usia emasnya kelak.. Lalu, bagaimana jika yang sering diperdengarkan itu adalah al-qur’an? Tentu pengaruhnya jauh lebih hebat. Lagipula, menghafal al-qur’an itu mampu meningkatkan kemampuan analisis dan kekuatan ingatan seseorang. Banyak dari para penghafal yang tak hanya berprestasi di bidang tahfidz, namun juga menorehkan prestasi di bidang akademik lain.

Jika masih ada dari kita yang begitu sibuk dengan sedikit kedisiplinan, sibuk berargumen meremehkan. Bersiaplah untuk tertinggal. Apa yang membuat islam begitu gemilang di masanya? Karena interaksi mereka dengan al-qur’an semaju peradabannya. Sudah jadi harga mutlak, jika kita ingin kembali berjaya, perbaikilah cara kita bergaul dengan al-qur’an. Sudahkah kita mengutamakannya? Sudahkah kita mewajibkan anak-anak kita mempelajarinya sebelum belajar pelajaran lain?

Anak-anak yang sedari kecil sudah mempelajari Al-Qur’an, menghafalkannya maka karakter qurani akan terwariskan dalam setiap aliran darahnya. Semua itu kelak akan tercermin dalam perkataan dan perbuatannya. Tidakkah kita rindu? Pada para pemuda yang hatinya terpaut pada al-qur’an. Pada para pemimpin yang jujur lagi amanah. Pada para pengusaha yang cerdas dan berkredibilitas. Pada para ulama yang nasehatnya menyejukkan hati. Mungkinkah kejayaan itu kembali terulang? Mungkin! Dan semua itu bisa kita persiapkan dari sekarang.

Sudah saatnya kita mempersiapkan sebuah generasi yang dirindukan. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah dan perkataan. Generasi yang memimpin dengan cahaya iman.