Fokus Terhadap Persamaan Sebagai Sesama Muslim

0
187
ukhuwwah

Oleh : Newisha Alifa

Musuh selalu di depan mata, sementara kita justru tak sadar tengah tercerai-berai.

Aku dan kamu yang memilih saling menghindar, hanya karena masalah-masalah fururiyah (cabang). Sementara di belahan bumi lain, saudara-saudara kita sedang dibantai. Ketika nyawa dan darah mereka di Palestina atau Suriah seperti bukan sesuatu yang berharga lagi bagi para musuh Islam. Kita di sini masih saja ribut karena berbeda pandang masalah qunut, yasin atau al-kahfi, maulidan atau tidak. Kita lengah! Bahwasanya di tengah kesibukan kita mendebat dan saling menunjuk satu sama lain, musuh-musuh Islam tengah tertawa! Menyusup di antara kita, memprovokasi sedemikian rupa, hingga lama-kelamaan kita lupa, bahwa aku dan kamu bersaudara!

Ya. Aku dan kamu ini bersaudara! Bukankah kita masih menyembah Rabb yang sama yakni Allah? Aku dan kamu masih bersaudara selama Al-Qur’an dan Sunnah adalah pedoman hidup kita. Selama Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir kita. Selama kita masih bersujud menghadap kiblat yang sama. Di antara sekian banyak persamaan yang Allah anugerahkan kepada kita, lantas mengapa aku dan kamu justru fokus pada perbedaan-perbedaan yang memecah-belah kita?

Berawal dari pura-pura tidak peduli, lama-kelamaan akhirnya kita ini luput, bahwa sesama muslim itu satu tubuh! Bahwa kita ini hakikatnya bersaudara! Bahwa sebanyak dan sebesar apa pun rintangan dan halangan di hadapan kita untuk menegakkan agama Allah di atas muka bumi, pasti terlampaui jika kita MAU BERSATU!

Perbedaan di antara aku dan kamu, tentunya akan tetap ada hingga malaikat Israfil meniupkan sangkakala. Bukankah seorang Abu Bakar dan Umar bin Khattab saja memiliki pandangan yang berbeda tentang pelaksanaan qiyamullail (sholat malam). Tapi apa lantas keduanya saling menyalahkan satu sama lain? Pun sampai ada empat mahzab besar yang menjadi acuan umat Islam di seluruh dunia; Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hambal, apa lantas para imam itu saling menuding bahwa pendapat mereka yang paling benar?

Saudara-saudariku yang senantiasa dicintai Allah, fokuslah terhadap persamaan di antara kita. Rendahkanlah hati kita untuk sama-sama terbuka terhadap kebenaran yang bisa datang dari siapa pun. Karena sebaik-baik hakim dari apa yang kita perselisihkan hari ini adalah Allah! Akan tiba masanya, Allah yang menghakimi siapa yang benar di antara kita.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. [QS. Al-An’am: Ayat 159]

Bahkan jika kita menjadi provokator di antara sesama orang beriman, maka itu termasuk ciri-ciri orang munafik.

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya). [QS. At-Taubah: Ayat 107]

Mari kita bergandengan tangan, bersatu untuk memperjuangkan tegaknya syari’at Islam di bumi Allah, apa pun ‘bendera’ yang kita bawa.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Jum’at, 6 Sya’ban 1437H – 13 Mei 2016