Bahaya Hutang yang Jarang Diketahui

1
463
bahaya hutang

Oleh : Pipit Era Martina

HUTANG, banyak orang yang menyepelekan perihal hutang piutang, tanpa memikirkan adanya bahaya yang mengikuti. Pernahkah kalian berpikir akan bahaya yang mengiringi hutang yang berlarut atau hutang yang banyak dengan tanpa adanya niatan untuk mengembalikan? Sering terjadi, hutang tidak kita bayar, dikarenakan sudah lama dan si pemberi hutang tidak meminta (menagih). Padahal yang namanya hutang akan tetap bernama hutang jika belum dibayar lunas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Karena diantara kita, ada yang namanya berinteraksi antar manusia yang membutuhkan dan manusia yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana yang telah Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah rezekinya dan ada juga yang dipersempit rezekinya sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan terpaksa mendorongnya untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang menurutnya bersedia dan mampu memberinya pinjaman.

Namun ternyata di balik hutang yang sering kita anggap enteng karena termasuk dalam hubungan interaksi antar manusia ini terselip bahaya yang jarang kita ketahui. Nah sahabat, ketahuilah bahwa ternyata ada beberapa fakta jika hutang dapat membawa keburukan-keburukan yang sama sekali tidak pernah diharapkan.

  1. Hutang dapat membahayakan akhlaq

Maksudnya adalah dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka berhutang, seperti melahirkan perkataan dusta dan khianat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya (biasanya) ketika seseorang dililit hutang, saat berbicara ia akan berdusta dan jika berjanji ia akan mengingkari” (HR. Bukhari, Muslim)

  1. Rasulullah Shallallahun ‘alaihi wa sallam pernah menolak mensholatkan jenazah seseorang yang diketahui masih memiliki hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya.

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” . lantas mereka menjawab “Tidak.” Lalu beliau menyolati jenazah tersebut. kemudian di datangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia” lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” para sahabat menjawab “Iya”, beliau kembali bertanya “Apakah dia meninggalkan sesuatu” jawab mereka “ya, sebanyak 3 dinar” kemudian Rasulullah SAW menyolatinya. Kemudian datanglah jenazah lainnya, para sahabat berkata “Sholatkanlah ya Rasulullah” Beliau kembali bertanya “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”, “Tidak ada” jawab para sahabat. Lalu beliau bertanya lagi “Apakah dia memiliki hutang?” para sahabat menjawab “Iya, sebanyak 3 dinar”. Beliau berkata “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Namun kemudian Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliaupun menyolatinya.”  (HR. Bukhori no.2889)

  1. Tanggungan hutang yang dibawa mati tidak akan diampuni oleh allah SWT pada hari kiamat.

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no. 1886, dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu)

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu,bahwasannay Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Baliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdgol (utama). Kemudain berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah, “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” kemudian Rasulullah SAW bersabda,” Kecuali hutang (tidak akan diampuni/dihapuskan oleh Allah), karena sesungguhnya jibril ‘alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim III/1501 no.1885, At-Tirmidzi IV/412 no.1712, dan an-Nasa’I VI:34 no.3157. dan di shahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa ul Ghalil no.1197)

  1. Orang yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang akan terhalang dan tertunda dari masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya (meninggal dunia) dalam keadaan terbebas dari tiga hal,niscaya ia akan masuk surga, yaitu : Bebas dari sombong, bebas dari khianat, dan bebas dari tanggungan HUTANG.” (HR. Ibnu majah II/806 no. 2412 dan At-Tirmidzi IV/138 no.1573 dan di shahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Kemudian dari Muhammad bin Jahsy radhiyalahu ‘anhu, ia berkata: “Pada suatu hari, kami duduk-duduk bersama rasulullah SAW sedang menguburkan jenazah. Beliau mengadahkan kepalanya ke langit kemudian menepuk dahi beliau dengan telapak tangan seraya bersabda, ‘Subhanallah, betapa berat ancaman yang ditrunkan.’ Kami diam saja namun sesungguhnya kami terkejut. Keesokan harinya aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai  Rasulullah, ancaman berat apakah yang turun? Beliau mnjawab, ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh fiisabilllah kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh kemudian dihidupkan kembali kemudian terbunuh sementara ia mempunyai utang, maka ia tidak akan masuk surga hingga ia melunasi utangnya.’” (HR. An-Nasa’i, Ahmad)

Oleh karena itu sahabat, jangan pernah menganggap remeh perihal hutang, baik itu hutang berupa ucapan ataupun barang dan materi. Sebab hutang tetaplah menjadi hutang meski raga telah terpisah dengan ruh. “Ruh seorang mukmin masih terkatung-katung (sesudah wafatnya) sampai hutangnya dilunasi.” (HR. Bukhari)

Bahkan orang yang mati sayhid pun tidak akan di ampuni oleh Allah SWT jika masih dalam keadaan berhutang. Oleh sebab itu sahabat, yuk mari kita ingat-ingat kembali, masihkah kita memiliki hutang?jika iya, yuk segeralah di lunasi. Mencobalah untuk sedikit memikirkan hal-hal kecil sebelum mengambil tindakan untuk berhutang, seperti “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah keperluan tersebut hingga saya harus berhutang?” Karena satu hal yang perlu di ingat, hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan ucapan Astaghfirullah. Oleh sebab itu, jangan lupa untuk memikirkannya dengan baik-baik sebelum berhutang, meski terhadap kerabat dekat sekalipun, karena usia tidak akan ada yang tahu kapan berakhir.

Lampung, 22 Mei 2016