Tuhan, Maaf Aku Sedang Sibuk

0
692
sibuk urusan dunia

Oleh: Aannisah Fauzaania

“Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surga, tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, Harap Maklumi kami

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.
Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah memberatkan kami. jangankan puasa senin-kamis, jangankan ayyamul bidh, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan banyak, sehingga kami kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, maafkan kami, kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bisa menyisihkan sebagian rezeki dari-Mu untuk memperjuangan agama-Mu.

Tuhan, maafkan kami, kami tak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. kami tak berujung pusa dengan nikmat-Mu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. bahkan kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari nereka-Mu. kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami amatlah banyak. jadwal kami masih amatlah padat. kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendapatakan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu.

Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami, karena kami masih terlalu sibuk.”

Kutipan di atas adalah beberapa bagian dari isi buku karangan Ahmad Rifa’i Rif’an yang pernah saya baca. Bisa dibayangkan bagaimana kalimat-kalimat selanjutnya mengalir, semua kata memiliki karakter kuat yang maknanya langsung tertuju pada hati. Seperti ditampar oleh ratusan petir, diingatkan kembali sudahkah hari ini bermuhasabah diri?

Sahabat, seringkali kita yang mengakui diri sebagai seorang muslim malah lebih terlihat acuh dibanding ummat lain. Mengaku Islam tetapi tak pernah menjalankan perintah-Nya, tak pernah sholat, tak pernah mengaji, tak pernah bersedekah. Kesibukan dunia seakan membuat para pelaku kehidupan tak punya waktu lagi untuk beribadah pada sang Ilahi.

Mungkin dari kita banyak yang lupa, apa sesungguhnya tujuan dari penciptaan kita sebagai manusia? Atau pura-pura lupa?

Dalam Al qur’an surat Adz zariyat Allah telah memberikan jawabannya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Allah telah mengingatkan dalam ayat tersebut bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Maka prioritas untuk melaksanakan ibadah mestinya diletakkan dalam list paling utama di seluruh rangkaian kesibukan dunia.

Terkadang urusan dunia memang terlihat lebih melenakan. Ketika panggilan Allah untuk menunaikan shalat telah dikumandangkan, seringkali kita lebih mengutamakan aktivitas yang sedang dilakukan.
“Ah, nanti dulu. Waktunya masih lama.”
“Iya sebentar lagi, urusan ini lebih penting.”

Mengapa kita sering bermalas-malasan?

Jika kita terapkan analoginya, bayangkan jika Allah sekali saja malas untuk menaikkan matahari saat fajar datang, atau bayangkan jika Allah telah malas menurunkan hujan. Bagaimana kehidupan bumi akan berlangsung? Ketidakseimbangan dan porak porandanya isi bumi tentu akan terjadi. Namun kenyataannya Allah tak pernah lelah mengatur semua siklus tersebut agar hambanya bisa tetap menikmati hidup yang nyaman, Allah tak pernah lelah melindungi kita dalam banyak kesulitan. Meskipun diri ini telah penuh dengan lumuran maksiat, Allah selalu mau memaafkan jika kita datang dengan sungguh-sunguh memohon ampunan-Nya.

Masyaa Allah, betapa Allah maha penyayang.

Lalu, bagian mana lagi yang kita sebut sedang sibuk?

Seberapa sibuk urusan kita hingga melalaikan Allah yang telah begitu baik memberikan semua kemudahan untuk kita?

Padahal harusnya kita sadar betapa banyak nikmat yang Allah beri untuk kita setiap hari bahkan setiap detiknya. Dalam salah satu firman Allah disebutkan,
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. As-Saba:13)

Jadi, sudahkah kita menjadi bagian yang sedikit tersebut? Yang tak pernah risau urusan dunianya akan terganggu hanya karena beribadah pada Allah.

Sahabat, jika kita mau menelaah kembali, Allah lah yang telah mengatur semua skenario kehidupan bagaimana waktu akan berjalan setelahnya. Semua yang akan terjadi pada kita di detik selanjutnya telah dituliskan Allah begitu lengkap di sana. Malah terkadang, aktivitas yang kita rasakan begitu sulit, ketika kita mau berhenti sejenak untuk beribadah dan memohon kemudahan pada Allah, Allah akan lebih memudahkannya.

Kita selalu ingin permintaan kita dalam doa cepat diwujudkan, kita selalu ingin Allah datang cepat ketika tengah membituhkan bantuan. Namun mengapa kala Allah yang memanggil untuk beribadah kita seolah tak acuh? Astaghfirullah, sahabat, jika kita mempunyai keinginan yang ingin segera dikabulkan, maka mestinya tunaikanlah perintah Allah dengan segera pula.

Sumber kebahagiaan, kesakitan, kecintaan, kematian, dan seluruhnya akan diatur oleh Allah SWT. Segalanya bisa terjadi dengan keajaiban yang dimilikinya.

Ada satu kisah dari seorang murabbi, ia menceritakan betapa sulitnya ia harus berjuang mendapat tanda tangan pembimbing ketika tengah konsultasi skripsi. Namun ia katakan, ia tak pernah lalai dan terus meminta pada Allah dalam setiap sujudnya. meski sibuk, ia masih selalu menyempatkan untuk mengaji, berzikir, dan terus meningat Allah dalam setiap langkah.

Dan tiba-tiba satu keajaiban datang, jika sebelumnya dosen pembimbing itu begitu sulit untuk diajak bertemu dan berbicara baik-baik, kala itu dengan ramahnya ia mempersilahkan muridnya tersebut untuk langsung maju dalam seminar. Kesulitan yang dirasa, langsung hilang seketika. Kala teman-temannya yang lain masih harus merasakan beberapa waktu lagi kesulitan itu, ia telah duluan mendapat kesempatan yang tak disangka-sangka. Perjalanannya menuju seminar yang mendapatkan kemudahan itu karena selalu melibatkan Allah dalam prosesnya.

Sahabat, betapa cintanya Allah pada kita. Maka mari jadikan ridho-Nya sebagai prioritas utama. Jika kita mendekat Allah akan lebih dekat, namun jika kita menjauh Allah pun akan jauh.

Akhirnya, semoga catatan sederhana ini dapat bermanfaat, aamiin.

Palembang, 21 April 2016.