Selalu Ada Kejutan Indah Dari Allah

0
890
indahnya pantai

Oleh : Pipit Era Martina

Saat yang terencana tak kunjung merekah hingga diri merasakan lelah, justru yang tak terpikirkan datang tak terduga memberikan lebih dari sekedar keindahan. Itulah rencana Allah, tak pernah di duga dan tak pernah diketahui kapan dan di mana Allah hadirkan keindahan. Bisa jadi, ketika kita berada dalam penantian rencana yang telah terancang indah, Allah justru menghadirkan kejutan penuh keindahan yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran kita.

Sahabat, janganlah kita terlalu ego dalam mengejar sebuah keinginan. Terkadang kita merasa yakin bahwa sesuatu yang kita kejar akan mendatangkan kebahagiaan yang indah, sehingga terlalu ambisius mengejar puncak demi sebuah keinginan. Tidak menghiraukan ocehan kanan dan kiri, percaya pada diri sendiri bahwa apa yang dituju ialah yang terbaik di antara yang baik. Namun, ketika selangkah lagi menggapai puncak, tiba-tiba batu besar jatuh dan menghantam keras tubuh hingga mengakibatkan diri terjerembab ke dalam jurang. Mengapa? Karena Allah memiliki hal yang lebih indah dari sekedar harapan kita.

Kegelisahan yang dipenuhi amarah, memberontak pada diri sendiri, Allah hadir berikan hadiah termewah. Itulah yang dimaksud dengan rencana Allah, itu pula coretan pena yang tertulis dalam sebuah kitab di sisi-Nya, 500 Abad (5.000 tahun) sebelum Ia menciptakan langit dan bumi. “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim 2653)

Sahabat, mari perhatikanlah tiap-tiap kepingan cerita perjalanan kita selama ini. Temukan kado terindah dari Allah, terkadang apa yang tak terduga dan membuahkan keindahan sering terlupakan. Dari mana datangnya, dari mana asalnya dan sebab apa keindahan itu menghampiri.

Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma berkata, “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha terhadap semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hamba-Nya.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262)

Berangan-angan atau mengharapkan sesuatu untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan tidaklah dilarang. Hanya saja, jika kita bersandar dan memarahkan diri pada Illahi, maka apa yang terjadi terhadap diri tiadalah menimbulkan kesedihan dan keterpurukan yang berlarut. Berusaha dan berdoa, tetaplah meminta yang terbaik. Namun, tetap pasrahkan semua hanya pada-Nya, jika memang apa yang menjadi sebuah mimpi dan angan dalam perjalanan tidaklah dikabulkan, percaya dan yakinilah, bahwa Allah tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya.

Terkadang, ketika apa yang kita ingin tidak tercapai dan terputus di tengah jalan, bukan do’a yang terpanjatkan. Melainkan, kekesalan yang kita genjarkan, bertubi-tubi penyesalan beriringan dengan kata ‘Seandainya’.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa suatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini dan begitu’. Tetapi, katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki.’ Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Ketika hati merasa berat dengan apa yang telah terjadi, gagalnya sebuah misi serta kerugian yang ikut mengiringi, ingatlah! Bahwasannya dibalik rencana Allah tersimpan banyak kebaikan serta keindahan menanti kita di pintu bahagia. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, “Karena barangkali kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An Nissa: 19)

Jangan sesali apalagi marah terhadap apa yang sudah terjadi. Yakinlah dengan apa yang Allah pilihkan dalam takdir. Tiada mungkin Allah menjerumuskan umat-Nya kedalam lubang kesengaraan. Jikalau memang kita jatuh dalam lubang derita, bukan Allah penyebabnya dan bukan takdir tersangkanya. Melainkan diri yang menjadi pemeran utama yang pantas di salahkan. Kenapa? Sudah jelas, bahwa Allah telah menentukan jalan bahagia, menuntun kita menuju puncak keindahan dan menyeru kita untuk senantiasa tersenyum dalam melangkah. Tetapi, manusialah yang dengan gagahnya berjalan membelakangi perintah-Nya, melangkah keluar, jauh dari alur yang telah di tentukan. Masihkah berani menyalahkan takdir?

Sahabat, mari bersama, kita menjaga hati agar tidak terlewat batas obsesi terhadap keindahan duniawi. Pasrahkan semua hanya pada Illahi, titipkan hati, serta ingat selalu, bahwa kita berjalan di muka bumi ini bukan untuk mengejar cinta manusia, melainkan menggapai cinta-Nya. Pilihan kita mungkin sudah baik, tetapi apa yang Allah pilihkan pasti akan jauh lebih baik. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya, “Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 216)

Lampung, Selasa 29 maret 2016