Saat Pilihan Tak Sesuai Keinginan

0
494
sebuah pilihan

Oleh : Alya Adzkya

“Perumpamaannya, kita suka buah mangga. Dan kita sudah jalan untuk mengambil buah itu. Di tengah jalan, orang tua kita memanggil, mencegah kita untuk tidak mengambil buah mangga itu. Namun menyarankan kita untuk mengambil buah rambutan yang lebih enak. Jika itu terjadi pada kita, apa yang harus kita lakukan? Meneruskan langkah? Atau mengikuti titah orang tua?”

Perumpamaan di atas pernah diungkapkan seorang teman dalam seminar Beasiswa 5 Benua yang dibawakan Ahmad Fuadi. Analogi sederhana itu ternyata sering terjadi dalam kehidupan kita. Saat kita memiliki sebuah keinginan atau impian, tetapi ternyata orang tua kita tidak mendukung impian kita tersebut, maka apakah yang harus kita lakukan? Mundur dari keinginan kita dan mengikuti perintah orang tua? Atau justru terus memperjuangkannya meski itu artinya orang tua kita tidak meridhainya?

Rasulullah pernah bersabda,
رِضَى اللهُ فِى رِضَى وَالِدَيْنِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الوَلِديْنِ
“ Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua. Dan murka Allah juga terletak pada murka orang tua.” (H.R Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dalam Bulughul Maram, Babul birri wa shilah.)

Hal yang paling penting dalam kehidupan seorang anak adalah keridhaan orang tua. Bagaimanapun, doa seorang ibu pada anaknya akan langsung menembus langit ke tujuh dan sampai ke arasy-Nya. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jika orang tua kita melarang kita untuk melakukan sesuatu, pasti ada alasan kuat di balik semua itu. Lalu apakah kita tidak boleh memperjuangkan apa yang kita impikan?

Saat impian kita bertentangan dengan keinginan orang tua, bukan berarti kita harus berontak, menolak. Ada baiknya kita komunikasikan lagi impian yang kita pilih. Mungkin saja, lewat diskusi-diskusi serta pendapat yang kita lontarkan orang tua kita bersedia meridhai apa yang kita pilih. Jika ternyata tak berhasil? Tak mengapa, mengikuti titah orang tua lebih baik bagi kita. Asalkan kita sudah berusaha dan berdoa. Serta ikhlas menjalani apa yang orang tua kita pilihkan.

Bukankah kita tak pernah tahu apa yang telah Allah siapkan untuk kita di masa depan? Dan keridhaan orang tua adalah salah satu petunjuk yang akan menuntun kita untuk menemukan apa yang telah Allah tetapkan.

Banyak orang hebat yang mengawali kesuksesannya dengan keterpaksaan. Terpaksa mengubur impian demi ridha orang tua. Contohnya saja, Ahmad Fuadi yang ‘terpaksa’ masuk pondok. Namun, pada akhirnya ia meraih apa yang ia impikan. Bahkan mendapatkan sepuluh beasiswa bergengsi di tiga benua.

Apapun akhir dari perdebatan sengit kita demi meperjuangkan impian, tetaplah ingat, keridhaan orang tualah yang paling utama. Jalan mana pun yang kita tempuh, pasti akan mudah bila diridhi Allah. Dan bukankah ridha Allah terletak pada keridhaan orang tua?

Percayalah, kawan. Langkah pilihan ini tidaklah sesuram yang kau bayangkan. Yakinlah, ada rahasia besar yang sedang Allah siapkan untuk dirimu yang senantiasa melangkah dalam ridha orang tuamu.