Saat Giliran Itu Tiba

0
215
mengantri

Oleh: Elisa Dwi Susanti

“No antri C25.” Suara resepsionis terdengar dari lobby RS. Semen Gresik. Setelah proses pendaftaran, pasien antri lagi di poli umum atau poli spesialis untuk bertemu dokter.
Macam-macam aktifitas yang terlihat di ruang tunggu tersebut. Mulai dari berbincang ringan dengan teman sebelahnya, membaca koran, hingga pemandangan yang sudah umum. Sibuk dengan gadget masing-masing.

Satu per satu pasien masuk dan keluar dari ruang dokter. Terkadang, mereka langsung menuju apotek untuk membeli obat. Tetapi banyak juga yang harus memenuhi persyaratan medis terlebih dahulu untuk pemeriksaan berikutnya atau keperluan operasi, seperti periksa darah, rontgen ataupun fisioterapi.

Seperti itulah salah satu contoh antri di Rumah Sakit yang menggambarkan antri di kehidupan dunia pada umumnya. Jika ada persyaratan yang kurang, masih bisa ikhtiar lagi untuk kelengkapannya. Namun … bagaimana jika kita sudah berbaris menunggu giliran di padang mahsyar? Bisakah kita kembali ke kehidupan duniawi untuk melengkapi kekurangan akan bekal yang dibawa pulang?

Sahabat Wahid, sesungguhnya kehidupan di dunia adalah fana dan hanya sementara. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hadiid: 20-21 yang berarti, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Nah, selagi menunggu giliran akan kematian sebagai gerbang menuju kehidupan akhirat nan kekal, sudah seharusnya kita menyiapkan perbekalan yang cukup. Karena bila ajal sudah menjemput, maka tak ada lagi kesempatan untuk memenuhi persyaratan yang kurang untuk masuk ke tempat idaman, yakni Jannah-Nya.

Persyaratan seperti apa yang harus dilengkapi setiap insan agar bisa berbahagia di kehidupan yang kekal? Tentu saja, selain memperbanyak amal sholeh, poin utama adalah memperbaiki kualitas shalat fardlu dan memperbanyak shalat sunnah.

Shalat merupakan ibadah yang lebih besar keutamaannya dibandingkan ibadah lain. Dan amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat, seperti yang diterangkan dalam firman dan hadist-hadist di bawah ini:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ankabuut: 45).

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, “Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?” Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

“Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani).

“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR. Tirmidzi).

Sahabat Wahid, apakah cukup shalat saja sebagai bekal kita untuk pulang? Tentu saja tidak, karena siapa yang berani menjamin bahwa shalat kita benar-benar baik? Karena itulah, perbanyak ibadah lain untuk melengkapi pundi-pundi amal agar berat di timbangan. Mulai dari puasa, zakat, haji bagi yang mampu, berbakti kepada orang tua, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, menjaga hubungan baik dengan sesama, membelanjakan harta di jalan-Nya, hingga yang paling sederhana, yakni sedekah dengan senyuman ikhlas.

Sahabat, jika persyaratan untuk sesuatu hal yang penting di kehidupan duniawi saja kita usahakan semaksimal mungkin, maka sudah seharusnya saya dan Anda berlomba-lomba dalam hal kebajikan dan takwa lebih intensif lagi … sebelum kesempatan untuk melengkapi persyaratan menuju Jannah-nya tertutup rapat.

Semoga bermanfaat.

Gresik, 6 Rajab 1437 H/14 April 2016