Netral Atau Munafik?

0
640
teman kantor

Oleh : Newisha Alifa

Hidup ini berisi tentang berbagai pilihan yang mesti kita ambil.

Tak jarang, kondisi yang ada hanya memberikan kita dua pilihan; baik atau buruk. Hitam atau putih, tanpa tersedia abu-abu. Sama halnya seperti kelak di akhir perjalanan kita, hanya tersisa dua tempat untuk kembali, surga atau neraka? Adakah tempat di tengah-tengah keduanya? Jika ada, mungkin akan banyak manusia yang rela tak masuk surga, asalkan tak sampai dilempar ke neraka. Sayangnya, dalam Al-Qur’an juga hadist, tempat ketiga itu tak pernah disebutkan. Ya, pilihannya hanya dua; surga atau neraka?

Netral berarti kita memilih untuk tidak berpihak. Memilih untuk tidak membela salah satu dari dua—atau lebih—kubu yang sedang berselisih. Dalam beberapa kondisi, ketika kita merasa masing-masing kubu memiliki positif negatif yang imbang, maka bersikap netral mungkin pilihan terbaik. Tujuannya supaya pihak-pihak tersebut berdamai dan bermusyawarah agar menemukan win win solution, sehingga tak ada lagi perselisihan.

Namun, seperti yang sudah disebutkan di awal, tak jarang kita dihadapkan pada kondisi untuk harus benar-benar memilih salah satu pihak. Tidak bisa tidak. Tidak bisa netral. Tidak ada golput. Ya, kita harus memilih, mau membela atau mendukung pihak yang mana.

Saya pernah berada di antara kedua teman dekat yang tengah berselisih. Kami berteman bertiga sejak kecil. Suatu ketika, entah karena masalah apa, mereka berdua bermusuhan. Satu sama lain ketika saya tanya apa masalahnya, sama-sama menjawab, “Tanya aja sama dia.” Tentu hal ini membuat saya bingung untuk mendamaikannya. Mau memihak ke A atau B, saya bingung. Wong dua-duanya baik dan sedang tidak bermasalah dengan saya. Tentu tak adil rasanya, jika saya harus memilih untuk membela salah satunya, dan itu berarti ikut memusuhi pihak lainnya. Alhasil, saya memilih untuk bersikap netral. Kepada si A, saya berusaha membaik-baikkan nama si B, pun begitu pula sebaliknya. Meski ketika mereka sudah akur kembali, justru saya yang dilupakan. Hehehe, tak apa. Itu biasa dalam pertemanan.

Belakangan ini saya sering dihadapkan pada kondisi di mana harus mengambil sikap untuk pro dan kontra pada pihak yang mana. Entah itu ketika ada perbedaan pendapat di dunia nyata, maupun diskusi yang berujung debat di media sosial. Umumnya, yang berselisih ini ada dua kubu, tidak lebih. Saya akan memerhatikan dulu, mau ikut campur atau tidak. Mau ambil sikap atau pura-pura nggak tahu.

Kalau salah satu atau keduanya teman dekat saya, biasanya saya memilih untuk ikut campur dengan tujuan mendamaikan, atau bisa jadi berujung hanya menunjukkan bahwa saya pro terhadap pihak A, dan itu berarti harus siap untuk dijauhi oleh pihak B. Bagi saya, tak apa. Itu resiko atas sebuah pilihan dalam hidup. Saya hanya tidak mau bersikap abu-abu. Bermuka baik pada kedua belah pihak, padahal Allah SWT tahu hati saya ini condong pada pihak yang mana.

Kalian tahu mengapa saya memilih untuk bersikap demikian? Karena saya bersama pengurus lainnya dalam sebuah tim, merasakan sendiri bagaimana repotnya memfilter orang-orang yang kami kira adalah anggota, yang harusnya pro terhadap tim kami, justru membocorkan rahasia-rahasia ke tim lain yang menyelisihi tim kami. Subhanallah! Sungguh menghadapi para pengkhianat ini menjengkelkan dan berbahaya sekali!

Ada juga orang-orang yang awalnya vokal sekali ketika membela—katakanlah—tim musuh, tiba-tiba muncullah kondisi di mana, kebijakan dari tim musuh itu justru mengancam atau merugikan mereka, orang-orang ini langsung berbelok haluan memilih untuk gabung bersama tim kami. Lalu mulai timbullah komentar orang-orang, “Hati-hati sama Pak ‘X’, dia itu pokoknya berpihak sama yang menguntungkan dia saja.”

Wajar, jika kita berpihak pada sesuatu yang menguntungkan kita. Tetapi tentu tidak dengan cara merugikan orang lain, bukan? Repotlah, kalau nanti orang-orang seperti ini, sekonyong-konyong merasa tak sependapat lagi dengan tim kami, lalu balik lagi ke tim sana dan membocorkan rahasia tim kami? Sungguh, sampai dengan kita merasakan sendiri kondisi seperti ini, kita baru akan tahu, bagaimana berbisanya orang-orang semacam ini! Dan semoga, kita tidak termasuk salah satunya. Aamiin.

Dalam Islam sendiri, seperti yang kita ketahui secara garis besar, manusia itu terbagi menjadi tiga golongan; beriman, kafir dan munafik. Dan dalam Al-Qur’an, puluhan kali disebutkan bagaimana menyebalkan dan berbahayanya kelakuan orang-orang munafik ini.

“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, “Kewajiban kami hanyalah taat”. Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu (Muhammad), sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.” (QS. An-Nisa’ : 81)

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata, “Kami mendengarkan,” padahal mereka tidak mendengarkan (karena hati mereka mengingkarinya.” (QS. Al-Anfal : 21)

“Dan Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik.” (QS. Al-‘Ankabut : 11)

Bahkan saking bahayanya orang munafik ini daripada orang kafir, hukumannya pun kelak di akhirat sangat keras, sebagaimana siksaan kepada orang kafir yang memusuhi Islam.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih.” (QS. An-Nisa’ : 138)

“Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang PALING BAWAH dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa : 145)

Naudzubillahimindzalik! Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang bermuka dua, munafik, yang kelak akan dilaknat oleh Allah SWT. Aamiin, Yaa Rabbal Alamiin.

Tulisan ini dibuat, sejatinya bukan untuk menghakimi orang lain. Tetapi untuk menjadi self reminder bagi kita semua, bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang tersembunyi di balik niat setiap hamba-Nya. Allah Maha tahu, kapan kita benar-benar netral, karena bingung memilih pihak mana yang harus dibela. Pun kapan kita seolah-olah bersikap netral, padahal kenyataannya justru mengadu domba pihak-pihak yang berselisih, atau menclok sana-sini demi kepentingan pribadi kita semata.

Sahabat Wahid News, jika suatu saat Anda sangat bingung untuk berpihak ke mana, terlebih untuk hal-hal yang bersifat prinsipil menyangkut akidah kita selaku umat Islam, tanyakanlah ke dalam nurani yang terdalam, “Mana yang lebih banyak benarnya dan lebih sedikit salahnya?” Kalau perlu, laksanakanlah shalat istikharah. Insya Allah, Allah akan menuntun Anda untuk memilih pada pihak yang berjalan di atas kebenaran.

Wallahu a’lam bishawab.

Bekasi, 10 Rajab 1437H | 17 April 2016