Keseimbangan Dalam Islam

0
403
keseimbangan

Oleh : Newisha Alifa

Islam bukan sekadar agama atau keyakinan. Islam adalah aturan hidup. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, makan, minum, bersin, bertamu sampai ke perang pun, semuanya diatur sedemikian apik dalam Islam, termasuk tentang keseimbangan.

Life balancing atau keseimbangan hidup adalah hal yang bisa diterapkan ke berbagai aspek dalam kehidupan kita. Dan tentang keseimbangan ini, Al-Qur’an pun juga menyinggungnya dalam surat Ar-Rahman ayat 7-9 yang berbunyi, “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.”

“Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.”

“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”

Keseimbangan, erat kaitannya dengan prilaku adil dan cukup. Maka sesuatu yang dirasa cukup, pastilah tidak akan sampai berlebihan atau bahasa populer sekarangnya: lebay.

Mengapa keseimbangan begitu penting dalam kehidupan? Karena jika dalam suatu aspek kehidupan ada yang tidak seimbang, maka aspek lainnya akan kurang bahkan tidak sama sekali tercukupi. Ada banyak contoh dalam kehidupan ini yang membutuhkan keseimbangan.

Misalnya, untuk seorang laki-laki yang sudah berkeluarga. Dia harus bisa bersikap imbang atau adil dalam memberi kasih sayang dan perhatian kepada orang tua juga keluarganya yang baru; istri dan anak. Tidak bisa berat sebelah. Karena namanya laki-laki, sekalipun dia sudah menikah, bakti utamanya tetap pada orang tua, terutama ibundanya. Pun di saat yang sama, ia sudah menyanggupi untuk mengambil amanah menjadi seorang suami dan ayah bagi keluarga barunya. Yang sering terjadi dalam masyarakat, jika laki-laki ini condong berlebihan kepada salah satunya, maka hubungan laki-laki tersebut ke pihak lainnya akan menjadi kurang harmonis.

Contoh lain, orang yang doyan makan enak, harus siap untuk lebih rajin berolahraga. Atau orang yang doyan kerja keras, harus telaten untuk membentengi diri dengan multivitamin supaya nggak gampang drop dan akhirnya jatuh sakit.

Pun begitu pula dengan keseimbangan aktivitas duniawi dan untuk bekal akhirat kita. Sejatinya, segala aktivitas bisa bernilai ibadah, selama kita niatkan karena Allah. Namun seperti yang kita tahu, ada hal-hal yang memang jelas berkaitan dengan urusan akhirat (ibadah ritual), seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya.

Rasulullah SAW jelas mencontohkan kita akan hal tersebut. Beliau tidak hanya mengajarkan juga mencontohkan tentang shalat, puasa, zakat, kurban, haji, membaca Qur’an dan sejenisnya. Namun beliau juga mengajarkan dan mempraktekkan langsung tentang hal-hal yang bersifat keduniawian, seperti berdagang, bertetangga, memanah, berenang, berkuda, hingga ke strategi perang.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwasanya sahabat Usman bin Affan yang terkenal sangat dermawan itu, hendak menyumbangkan seluruh hartanya untuk kebutuhan perang kaum muslimin. Namun Rasulullah SAW mengingatkan beliau untuk menyisakan hartanya untuk keluarganya. Jadi, tentu sangat dianjurkan kita untuk membelanjakan harta di jalan Allah, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari ya jangan juga sampai terabaikan.

Atau sebaliknya, coba deh kita renungkan. Keseharian kita banyak disibukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi sajakah atau sudah imbang? Misalnya kita sibuk kerja seharian, shalat sunnah sama tilawahnya apa kabar? Masih terjagakah?

Coba cek buku-buku di rak. Banyakan buku yang sifatnya umum atau tentang Islam? Bacaan dan informasi yang rajin kita serap dan bagikan, tentang apa?

Keseimbangan akan melahirkan keadilan. Dan keadilan akan menciptakan ketentraman juga kebahagiaan. Semoga kita semua bisa lebih bijak dalam bersikap imbang atau adil dalam segala aspek dalam kehidupan kita. Aamiin, Yaa Rabbal Alamiin.

 

Bekasi, 9 Rajab 1437H • 16 April 2016