Keangkuhan yang Membelenggu Maafmu

1
243
keangkuhan karang

Oleh: Budi Priadi

Ketika maaf terbelenggu angkuh. Hati yang tercipta dengan lembut pun menjadi sekeras karang. Rasa sesal menjadi sesuatu yang asing. Dosa seakan tak lagi dikenal. Hanya keangkuhan yang membenarkan diri sendiri yang sebenarnya rasa itu berasal dari bisikan setan. Siapa yang menilai perihal siapa yang salah?

Sunggu Allah adalah hakim yang paling adil. Bukankah angkuhmu adalah sifat Iblis yang enggan mentaati perintah Allah ketika ia dititahkan bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam? Maka masihkah bisa nurani membebas-benarkan angkuh yang membelenggu kata maaf? Innalillahi wa inna Illaihi raaji’uun. Ampuni hamba Ya Rabb. Atas musibah yang hamba agungkan, sedangkan itu adalah bentuk keangkuhan yang hina.

Wahai jiwaku yang hanya kepada-Nya tempat kembali, tidak seharusnya engkau ragu pada firman-Nya, pada janji-Nya. Allah berfirman,
”Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, oleh karena itu adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman! Jangan ada satupun kaum merendahkan kaum lain, sebab barangkali mereka (yang direndahkan) itu justru lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan janganlah ada perempuan merendahkan perempuan lainnya, sebab barangkali mereka (yang direndahkan) itu lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan jangan kamu mencela diri-diri kamu; dan jangan kamu memberi gelar dengan gelar-gelar (yang tidak baik) –misalnya fasik– sebab seburuk-buruk nama ialah fasik sesudah dia itu beriman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak sangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa; dan jangan kamu mengintai (menyelidiki cacat orang lain); dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya, apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaramu padahal kamu tidak menyukainya? Takutlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan belas-kasih.” (QS. Al-Hujurat: 10-12)

Wahai jiwaku yang merindu surga! Tidakkah engkau malu menghakimi sesuatu yang bukan kewajibanmu? Tidakkah engkau malu pada sujudmu, sedang kata maaf masih kian rapat terbelenggu angkuhmu? Tidakkah engkau ingat apa yang engkau rindukan? Bukankah surga yang kau inginkan? Lantas, bagaimana bisa hati semakin lama menolak perintah-Nya untuk saling memaafkan?

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang , Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)

Wahai jiwaku yang merindu Muhammad SAW. Siapakah sebenarnya yang kau damba untuk memberimu syafaat? Bukankah dia – Muhammad – yang selalu kau rindu dalam setiap Shalawat yang kau ucap. Tidakkah kau malu, merindukan syafaatnya, mengaku umatnya, sedang pada iblis kau tiru keangkuhan?

”Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Rasul bersabda, “Kamu bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.” (HR Thabrani)

Wahai jiwaku yang hina, yang hanya kepada-Nya engkau kembali! Sibak angkuhmu yang membelenggu kata maaf yang sejatinya nurani terdalam menginginkan untukmu mengucapnya. Sibak angkuhmu dan juga berikan maaf kepada mereka yang zhalim kepadamu. Ketika kata maaf terbelenggu angkuh, maka sadarlah segera. Mintalah ampun kepada-Nya, karena Dia Maha Menerima Taubat hamba-Nya.

Lampung, 03 April 2016