Jika Musuhmu Mati

0
276
persahabatan

Oleh: Anna Jameela

‘Heran deh sama tuh orang, apa coba salahku, kok dijelek-jelekin terus, buat apa sih memusuhi orang sepertiku, apa untungnya buat dia!’

Itu salah satu status seseorang yang pernah lewat di notifikasi beranda aplikasi BBM saya.
Musuh, satu kata yang berkonotasi negatif. Satu kata yang tak terelakkan dari kisi hidup manusia. Kerapkali ada, entah itu dimusuhi atau memusuhi sulit sekali membedakannya.

Karena orang yang dimusuhi merasa dimusuhi dan orang yang memusuhi pun merasa dimusuhi.

Islam, adalah agama yang rahmatan lil ‘alamiin. Selalu mengajarkan bagaimana cara bermuamalah (berinteraksi sosial) yang baik. Berkaitan dengan perselisihan maka Islam pun menuntun penganutnya untuk tidak saling bermusuh-musuhan, menghindari perselisihan dan saling memaafkan. Bahkan Rasulullah SAW pun tak lepas dari itu.

Namun, ada tuntunan dari beliau agar kita bersikap bijak menyikapi orang yang notebene memusuhi kita. Yaitu ketika Nabi berdakwah, banyak sekali yang menentang dakwah beliau. Salah satunya Abu Lahab dan istrinya. Tapi Rasulullah menghadapi orang-orang yang memusuhi dengan cara yang ahsan dan bijaksana. Bahkan seorang nenek buta yang begitu membenci Nabi pun setiap hari beliau beri makan, disuapi dengan penuh kasih sayang.

Tiga hari, adalah batas seorang muslim untuk tidak bertegur sapa saat bertikai. Melebihi itu,
jatuhnya dosa. Membahas tentang musuh, saya langsung teringat pada guru Ekonomi saya ketika SMA dulu. Beliau bertanya, “Adakah di antara kalian di sini yang bisa menjawab, mengapa orang bisa bertengkar?”

Dalam satu kelas kala itu tak ada satu pun jawaban yang benar. Ada yang menjawab karena
marah, uang, pacar, emosi, dan lain-lain. Guru SMA saya pun membuka kunci jawaban.
“Orang bisa bertengkar itu karena masing-masing diri merasa dirinya-lah yang paling benar.
Itu jawabannya.”

Jawaban guru Ekonomi saya itu benar juga. Kerapkali, orang-orang yang bertikai itu disebabkan karena merasa masing-masing diri sudah berada di jalur yang benar. Kalau saja salah satu mau mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu, maka sangatlah mungkin
pertikaian itu pun tidak akan terjadi.

Setan laknatullah, mengirim pasukan ke segenap penjuru dunia untuk menghancurkan
ukhuwah orang-orang beriman. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati pelakunya, saling mencemooh, merendahkan, menghujat bahkan memfitnah satu sama lain.
Hati dan fisik bertolak belakang. Mengapa demikian? Orang yang saling memusuhi, tidak akan bisa menerima kebaikan apa saja dari orang yang dianggapnya sebagai musuh. Karena hati yang tertolak. (Red)

Saat bertemu pun saling memunggungi satu sama lain. Inilah yang setan harapkan. Ada satu hal yang dilupakan oleh orang-orang yang saling bertikai, yakni, khamar itu haram, judi itu haram. Dan sebenarnya, bermusuhan pun haram dalam Islam. Namun, para pelaku kurang begitu mengindahkan hal ini. Sebab bermusuhan dianggap sah dan biasa-biasa saja bahkan dicap ‘lumrah‘.

Al Qur’an sebagai kitab panutan umat manusia, dengan gamblang melarang; agar tidak saling bertajassus atau mencari keburukan orang lain. Mengapa bermusuhan dilarang?, karena mereka yang bermusuhan seringkali melakukan hal ini. Mencari kekurangan lawan, mengejek, menghina, dsb. Apabila sang musuh melakukan kesalahan, melarat, nista dan kesusahan, maka itu dijadikan senjata untuk menyerang si musuh tersebut.

Astaghfirullah…
Sungguh, itu real perbuatan setan.

Hal semacam ini yang kurang dipahami mereka yang bertikai. Entah bertikai secara fisik
maupun non fisik. Kalau saja mau merenung sejenak.

Manfaat bermusuhan itu apa?

Apakah dengan memiliki musuh lantas itu sebuah prestice? Tidak sama sekali!

Sadarilah…
Bahwa bermusuhan adalah dosa yang tidak akan diampuni meskipun dengan istighfar (memohon ampun) kecuali dengan bertaubat dan berdamai. Bermusuhan hanya akan meninggikan hati dan menjerumuskan pada kesombongan serta dosa. Saling memaki, menghina, menghujat dan merendahkan. Sungguh akhlak yang tidak terpuji.

Tengoklah kembali uswattun hasanah kita Rasulullah SAW dalam berinteraksi. Sungguh, Nabi itu rendah hati, tinggi akhlaknya bukan tinggi hati. Untuk mereka yang saling bertikai; Berpikirlah sekali lagi manfaat bermusuhan itu apa? lalu bayangkan bagaimana jika musuhmu mati? Merasa menangkah? Nauzdubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik.

Mencari musuh itu mudah, mencari orang yang mau mengajak kita ke surga itu yang sulit. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati-hati kita, dijauhkan dari permusuhan dan selalu dijaga agar terhindar dari tipu daya setan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.