Hunian Mewah yang Wajib Kita Bangun

0
336
rumah yang megah

Oleh: Elisa D.S.

Sebuah rumah mungil dengan dikelilingi kebun sayur, khas suasana pedesaan. Di era modern seperti ini, ternyata lantai hunian tersebut masih terbuat dari tanah yang ditutupi dengan semen sekadarnya. Banyak tambalan di sana-sini. Sebagian tembok pun mengelupas.

Beberapa meter dari rumah amat sederhana tersebut, hunian mewah berdiri megah. Dua pilar besar dari marmer menghiasi teras yang luas. Merek cat yang dipakai pun tak sembarangan. Lantainya terbuat dari keramik motif apik kualitas unggulan. Siapa pun yang menginjaknya, seakan bisa bercermin karena permukaan yang mengkilat.

Dua perbandingan yang sangat kontras. Seringkali, prestise seseorang bisa dilihat dari hunian yang ditempati. Semakin tinggi kelasnya, semakin terpandang dia. Coba kita bandingkan antara rumah milik rakyat jelata dengan pejabat ternama. Bak bumi dengan langit, bukan?

Tetapi, apakah rumah dan harta yang dimiliki di alam yang fana ini, menjadi jaminan untuk kebahagiaan kelak di akhirat? Belum tentu.

Allah subhaanallaahu wa ta’alaa berfirman dalam Q.S. Al-Qashas: 77 yang berbunyi, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Sedangkan Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10 menerangkan, “Maka apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dari dua surat di atas, yang utama adalah mencari kebahagiaan akhirat dan sering-sering mengingat Allah. Jangan melupakan bagian di dunia sama halnya dengan mencari karunia Allah, yakni anjuran untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup, bukan berlomba-lomba untuk menumpuk harta.

Fenomena yang terjadi sekarang ini adalah kebalikannya. Manusia berpacu mengumpulkan duniawi, dan menjadikan tujuan akhirat sebagai prioritas yang ke sekian.

Kebutuhan hidup yang terus memuncak membuat orang semakin gila kerja. Mulai matahari terbit hingga terbenam, tak pernah lepas dari urusan duniawi. Hanya ada satu jam untuk istirahat, shalat, dan makan siang. Shalat Ashar pun beberapa menit saja. Sedangkan Dhuha? Sesempatnya. Itu pun jika diijinkan oleh atasan.

Di negara dengan mayoritas muslim seperti ini, alangkah hebatnya jika semua pimpinan teras perusahaan memberikan waktu khusus agar karyawan bisa melakukan shalat Dhuha dan Ashar secara nyaman. Penerapan etos kerja tinggi didukung penuh dengan spiritual yang positif. Insya Allah keberkahan akan selalu tercurah pada perusahaan tersebut beserta orang-orang di dalamnya.

Seharian capek bekerja, Maghrib dan Isya acapkali tertunda. Qiyamul lail pun terabaikan juga. Alangkah mirisnya. Terus kapan saat yang tepat untuk kebahagiaan akhirat jika sujud saja terkalahkan oleh keperluan duniawi?

Bukankah masih banyak amalan yang lain sebagai bekal kita pulang ke akhirat selain shalat? Benar. Tapi shalat adalah ibadah utama. Jangan sampai dia terkalahkan oleh urusan duniawi.

Apalah artinya kita menumpuk harta dan membangun rumah indah dengan cara kerja keras di dunia hanya demi sebuah prestise atau kebanggaan belaka, jika ternyata keberadaannya mengalahkan kemegahan istana di kehidupan nan kekal?

Mau hunian dunia nan mewah atau istana di surga Firdaus yang megah? Pilihan ada di tangan Anda.
Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam bish-showabi.

Gresik, 11 Rajab 1437 H/19 April 2016