Duhai Ukhti, Jadilah Dirimu Sendiri!

1
762
bunga cantik

Oleh: Aannisah Fauzaania

Mutiara yang sesungguhnya, walau diletakkan dalam lumpur pun akan tetap menjadi mutiara yang memesona. Begitu pun analogi dari seorang muslimah. Menurut sifat alamiah dan kodratnya, seorang wanita memanglah ditakdirkan untuk menjadi hawa yang cantik dan menarik. Bahkan meski ditutup dengan jubah panjang dan niqob sekalipun, seorang muslimah masih bisa memancarkan kecantikan hanya melalui sepasang matanya.

Dalam era yang semakin berkembang kini, banyak puan yang begitu ingin tampil modis agar bisa memikat hati banyak insan. Mengikuti trend pakaian, memoles wajah sedemikian rupa, menjadikan ramping dengan berbagai cara, dan banyak lagi fenomena yang diikuti agar jadi menarik dalam penampilan. Berdalih ingin cantik, pada masanya malah banyak puan yang semakin jatuh tanpa menarik.

Sahabat, padahal jika kita mau menyelami makna cantik lebih dalam lagi, kecantikan tak hanya sesempit lingkup wajah dan tubuh saja. Begitu banyak cara untuk menjadi cantik tanpa harus mengumbar aurat sebagai mahkota keistimewaan seorang wanita. Mungkin banyak dari kita yang belum mengetahui, sesungguhnya kecantikan yang alami dari dalam diri akan terpancar ketika kita berhijrah menjadikan kualitas diri lebih baik lagi, serta ingin menjadikan hanya Allah sebagai pusat keterpesonaan hati.

Dalam lingkup yang lebih luas, cantiknya seorang permempuan dapat kita temukan di beragam situasi. Karena memang pandangan seseorang bisa relatif terhadap penilaian ini, bahkan dua orang yang kembar pun bisa memiliki jawaban berbeda ketika ditanyakan pendapatnya mengenai suatu hal. Tolak ukurnya bisa dilihat dari sisi mana yang dipilih sebagai sudut pandang penilaian.

Jika kita telaah kembali, apakah yang cantik hanya seorang gadis muda?

Menurut saya tidak, seorang ibu paruh baya pun bisa menjadi puan yang terlihat paling cantik di banyak kesempatan. Misalnya ketika ia selesai memasak, kemudian menghidangkan di meja makan, melayani suami dan anak-anaknya dengan telaten beriring senyum manis.

Seorang ibu selalu terlihat cantik ketika tengah berperan menjadi sebaik-baiknya ibu meskipun umurnya tak lagi muda.

Apakah cantik hanyalah seorang yang putih tinggi semampai?

Menurut saya tidak. Perempuan-perempuan hebat seperti Khadijah R.A, Margaret Tatcher, R.A. Kartini, dan sederet nama lain yang berhasil menjadikan sesuatu lebih baik dari sebelumnya terlihat sangat cantik ketika tengah memperjuangkan hak-hak banyak insan yang membutuhkan.

Apakah mereka berwujud putih tinggi semampai? Saya rasa kita telah mengetahui jawabannya. Mereka terlihat cantik ketika bisa bermanfaat bagi orang banyak, mereka terlihat cantik karena kepandaiannya dalam menanamkan pola fikir. Menjadi cerdas pun merupakan salah satu pilihan untuk terlihat menarik.

Apakah cantik hanyalah seorang yang memakai pakaian mini dan jeans ketat agar terlihat menarik?

Menurut saya tidak. Dalam banyak organisasi atau perkumpulan akhwat-akhwat yang saya temui di beberapa masjid, mereka pun terlihat cantik meski dengan jubah panjang, hijab panjang menjuntai, dan dilengkapi niqob. Pakaian yang terlihat merepotkan dan sulit dikenali bagi sebagian orang bahkan tak menjadi halangan bagi mereka yang ingin aktif menimba ilmu dan mencari pengalaman berorganisasi, namun ingin tetap belajar taat pada Allah.

Mereka terlihat cantik karena keanggunan dan kesederhanaannya dalam menjaga kehormatan diri. Belajar mengerti betapa istimewanya hakikat penciptaan seorang perempuan hingga mesti dijaga sedemikian rupa. Mereka tetap cantik meski tak terlihat langsung bagaimana rona wajahnya.

Lalu, apakah cantik hanyalah seorang remaja yang beranjak dewasa?

Menurut saya tidak. Saya mempunyai seorang adik sepupu perempuan, umurnya baru menginjak tahun kelima. Ia pernah menjadi terlihat sangat mengagumkan ketika pada hari itu saya mengajaknya memperhatikan anak-anak yang berjualan koran dan mengamen di jalanan. kemudian dengan raut polos dan rambut yang bergoyang dihembus angin, ia berucap, “Mbak, kasihan ya mereka. Nanti kalau adek udah sekolah ajarin adek biar pintar ya mbak, biar nanti bisa punya banyak uang kayak papa buat bantu kakak-kakak itu.”

Bocah kecil tersebut terlihat sangat cantik ketika dalam kepolosan hatinya muncul sebersit harap ingin menolong orang yang terlihat begitu sulit menopang kehidupan. Ia cantik dengan sifat kaya hatinya.

Kualitas diri tak hanya ditentukan dari fisik semata, bahkan bagi segelintir orang yang bisa menilai dengan baik, kecantikan hati lebih menjadi prioritas dalam menjaga suatu hubungan baik dan menjalin silaturahmi dengan sesama saudara kita.

Maka ukhti, cantiklah dengan menjadi dirimu sendiri. Mainkan peran kita sebaik-baiknya. Jangan lagi membandingkan ciptaan Illahi yang telah diberikan begitu sempurna ini dengan orang lain. Jika terus memandang ke atas, keinginan manusia tentu tak akan berbatas. Namun pribadi hebat akan selalu pandai bersyukur atas apa-apa yang telah dianugerahkan dalam diri.

Sahabat, semoga akhirnya tulisan ini bermanfaat dalam membaca kembali pemaknaan diri kita, aamiin.

Palembang, 08 April 2016.