Bolehkah Berkata Seandainya?

0
536
kata seandainya

Oleh : Pipit Era Martina

Sering dari kita mengucapkan kata-kata yang ringan dan sepele, yang tanpa disadari mengundang banyak perkara. Membuka pintu setan, memancing setan untuk tertawa riang. Seperti yang sering kita dengar maupun ucap adalah kata ‘seandainya’. Ketika sebuah kegagalan atau musibah terjadi pada diri, seringkali tanpa sadar bibir ini berucap ‘Seandainya aku begini dan begitu, maka hal ini tidak akan terjadi’. Astaghfirullah, ternyata ucapan yang hanya satu kata ini dilarang dan tidak disukai oleh Allah SWT.

Kata ‘seandainya’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti seumpama; andaikan; andaikata. Merupakan kalimat pengandaian atau ungkapan yang menunjukkan suatu keinginan yang belum terpenuhi atau penyesalan terhadap sesuatu yang sudah terlewati.

Kata seandainya mungkin sudah sangat akrab terdengar di telinga kita. Sering kita dengar orang-orang di sekitar atau terkadang diri sendiri mengucap kata seandainya. Kata yang sangat kental dengan ungkapan sebuah keinginan yang belum bisa terwujud. Kata itu begitu menggoda hingga membuat kita terlena dalam buaian angan-angan panjang. Menari di antara hati, membayangkan keindahan yang entah terwujud atau hanya sekedar hiasan sebuah angan. Juga sering digunakan untuk menilai bahkan menghakimi kejadian yang telah berlalu. Menyesali sesuatu yang telah terjadi, mengucapkan kata seandainya dengan penuh kekecewaan.

Sahabat, tahukah kalian, bahwa semakin sering kita masuk dalam lingkup ‘seandainya’, maka kita telah terkungkung dalam lingkaran semu tanpa batas. Lingkaran yang selalu menciptakan halusinasi dan khayalan dalam pikiran manusia. Nah, lantas bagaimana islam menyikapi kata seandainya? Bolehkah kita mengucapkan kata seandainya?

Syaikh As-Sa’diy dalam Al Qoulus-Sadiid menjelaskan bahwa ucapan ‘seandainya’ terbagi menjadi dua macam, yaitu tercela dan terpuji.

Perkataan ‘Seandainya’ yang Tercela

Perkataan seandainya dikatakan tercela apabila diucapkan ketika seseorang tertimpa suatu musibah atau sesuatu yang tidak disukai oleh dirinya. Lalu dia mengatakan, ‘Seandainya saja aku berbuat begini, pastilah kejadian ini tidak akan menimpaku.’ Perkataan seandainya yang seperti inilah yang dilarang oleh Allah, karena itu berarti kita menyesali, serta tidak ikhlas menerima apa yang sudah ditakdirkan Allah terhadap manusia.

Dalam perkataan ini terdapat dua hal yang perlu diwaspadai. Pertama, karena perkataan seperti itu dapat membuka pintu penyesalan dan kesedihan yang berkepanjangan. Keterpurukan yang tidak berkesudahan bahkan menimbulkan masalah baru yang bisa membahayakan. Sedangkan sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa hal tersebut tidak di anjurkan serta tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Sudah sepantasnya kita ikhlas dalam menerima apapun yang telah Allah timpahkan kepada kita.

Allah SWT berfirman, “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira dengan apa yang Dia berikan untukmu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Qs. Al-Hadiid : 22-23).

Kedua, karena dalam perkataan ‘seandainya’ terdapat tindakan yang tidak baik terhadap Allah Ta’ala dan takdir-Nya. Secara tidak langsung, perkataan tersebut menentang takdir Allah. Seakan-akan perkataan itu merupakan satu bentuk penolakan terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla. Seringnya lisan berucap kata yang mengungkapkan penyesalan atau penolakan terhadap takdir yang telah ditetapkan, menunjukkan betapa lemahnya keimanan dalam diri.

Tidak diragukan lagi, bahwa ucapan ‘seandainya’ yang seperti ini patut diwaspadai karena dapat menyebabkan merosotnya iman dan ketauhidan seseorang menjadi tidak lagi sempurna. Sahabat, yuk bersama, kita belajar untuk menerima apapun takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Bersyukur ketika apa yang kita ingin terkabulkan, tetap tawakal ketika keinginan belum jua tampak nyata.

Perkataan ‘Seandainya’ yang Terpuji (Diperbolehkan)

Adapun perkataan ‘seandainya’ yang terpuji (diperbolehkan), adalah kata yang lahir dari seseorang yang mengharapkan kebaikan. Sebagai contoh, “Seandainya aku memiliki harta yang sama seperti si fulan, sungguh akupun ingin melakukan kebaikan seperti yang fulan lakukan.” Ucapan yang menandakan keinginan untuk memiliki harta yang lebih, sehingga ia dapat melakukan kebaikan dengan hartanya, dapat bersedekah dan banyak membantu yang membutuhkan.

Kesimpulan dari ucapan ‘seandainya’, boleh diucapkan jika hal tersebut mengandung sebuah harapan dan cita-cita yang menuju kepada kebaikan. Diiringi dengan usaha dan doa, mengharapkan harta agar ia dapat bersedekah dengan leluasa, mengharapkan ilmu yang tinggi agar dapat berbagi ilmu kepada mereka yang belum tahu. Akan tetapi, jika ungkapan tersebut menandakan sebuah penyesalan yang merujuk pada penolakan takdir Tuhan, maka itu tidak diperbolehkan.

Oleh karenanya, mari kita terus mencoba untuk menjaga lisan ini dari perkataan-perkataan yang sekiranya tidak melahirkan manfaat. Disamping itu pula, belajarlah untuk melatih kesabaran atas setiap musibah yang menimpa diri. Bukan karena marah Allah memberi musibah, melainkan karena Allah mencintai kita. Bisa jadi, dengan adanya musibah yang menghampiri, maka diri ini kian dekat dan semakin terikat pada-Nya. Percayalah, apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk makhluk-makhluk-Nya adalah yang terbaik.

Lampung, Rabu 30 maret 2016