Berkelanalah! Agar Kau Tahu Kapasitasmu!

0
611
pergi merantau

Oleh : Alya Adzkya

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

(Imam Syafi’i)

Dhyta menghela napas. Mencoba meringankan sedikit beban di hatinya. Haruskah ia memulai segalanya dari awal lagi? Akhir minggu ini adalah hari kelulusannya dari pesantren. Mau tak mau, ia harus meninggalkan semua pencapaiannya selama ini. Lantas memulai langkahnya kembali, di tempat yang baru. Berat? Tentu saja. Menjadi seseorang yang ‘bukan siapa-siapa’ setelah sebelumnya menjadi seseorang yang diakui keberadaannya bukanlah hal yang mudah. Di pesantrennya, siapa pula yang tak mengenal dirinya? Dengan semua prestasi dan pencapaian yang ia raih, tak satu pun guru dan santri yang tak mengenal dirinya. Tapi, siapalah ia di tempat yang baru kelak? Dia bukanlah siapa-siapa.

Cerita di atas mungkin pernah kita alami. Seperti siklus, silih berganti mengisi hari-hari. Ada kalanya kita berada di atas. Ada pula waktu kita berada di bawah. Dunia ini berputar, Kawan. Tak selamanya kita selalu berada di zona nyaman kita. Ada saatnya kita harus melangkah pergi, untuk pencapaian yang jauh lebih baik lagi.

Seperti yang Imam Syafi’I katakan,
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Orang-orang yang berilmu tak akan tinggal diam di rumah. Mereka selalu berusaha mencari tempat mana yang bisa ia jadikan tempat menuntut ilmu selanjutnya. Imam Syafi’I menganjurkan para penuntut ilmu untuk merantau, keluar dari kampung halaman. Untuk apa? Selain untuk menambah ilmu pengetahuan, juga agar kita tak selalu merasa superior. Merasa hebat dengan apa yang telah kita raih selama ini. Di atas langit selalu ada langit lagi, bukan? Dan kita takkan pernah bisa menyadari hal itu sepenuhnya jika kita bertahan di kampung halaman.

Seseorang yang merasa cukup dengan menjadi jagoan di kandang sendiri, takkan pernah bisa berkembang. Umumnya, ia menjadi sombong dan enggan belajar kembali. Lantas, apakah dengan sikap seperti itu akan membuat kemampuannya bertambah hebat? Tentu saja tidak.

Dalam bait selanjutnya, Imam Syafi’I menjelaskan,
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Memang, akan terasa berat meninggalkan sahabat serta keluarga. Tapi, bukankah semua yang bertemu kelak akan berpisah? Cepat atau lambat, kita pasti akan meninggalkan mereka. Atau mereka yang akan meninggalkan kita. Lalu, apalagi yang membuatmu ragu?

Setiap detik kehidupan adalah pilihan, Kawan. Ada yang harus diraih, ada pula yang harus ditinggalkan. Jika kita ingin mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi, kita harus siap meninggalkan keluarga dan sahabat kita.

Para ulama terdahulu banyak berkelana untuk menuntut ilmu. Mereka rela menempuh perjalanan berbulan-bulan lamanya agar bisa menemui seorang guru. Imam Bukhari bahkan berkelana ke Bashrah, Mesir, Hijaz, Kufah, Baghdad sampai Asia Barat untuk mengumpulkan hadits. Namun kita? Ranah mana saja yang sudah kita jejaki untuk menuntut ilmu?

Maka, Kawan … berkelanalah! Agar kita tau seberapa besar kapasitas kita. Agar kita bisa melihat betapa luasnya dunia. Agar kita tak hanya bangga dengan sekelumit prestasi. Namun juga bergegas memperbaiki diri. Menjadi sosok yang lebih baik lagi.