Berangkat Sehat Pulang Wafat

0
327
kematian

Oleh : Pipit Era Martina

Berangkat sehat pulang wafat, mungkin ini kata yang cocok untuk menggambarkan tentang kisah seorang ibu yang wafat akibat serangan stroke. Beliau yang pada saat itu pergi mengunjungi seorang tetangga yang tengah mengalami musibah, tidak disangka justru menjadi akhir dari kisahnya. Sehat dan tidak dalam kondisi sakit atau apapun. Beliau pergi dengan maksud untuk memberikan sebongkah semangat kepada seorang kerabat yang tengah berduka akibat kehilangan harta benda. Namun siapa sangka, justru beliaulah yang dalam keadaan sehat, tiba-tiba melepaskan nyawa, meninggalkan dunia selama-lamanya, kembali dalam keadaan wafat. Innalillahi wa inna illaihi raaji’uun.

Memang, sehat bukan menjadi jaminan seorang manusia jauh dari kematian. Bisa jadi, orang yang sehat tanpa adanya sakit yang diderita tiba-tiba menghembuskan nafas terakhirnya. Karena mati tak pernah permisi, tak pernah mengenal usia, tak pernah menunggu kau siap, tak pula menunggu amalmu sempurna. Masihkah diri lalai dan terlupa dengan tipu daya dunia yang hanya sementara saja?

Ketahuilah, bahwa kematian bersifat memaksa. Siap tidak siap, tetaplah harus siap. Dan tiada satu manusiapun yang mampu menghindari kematian, sekuat apapun ia berusaha, mati tetap akan menghampiri. Allah berfirman, “Katakanlah: Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran: 154)

Kematian tak menghiraukan keperluan manusia. Dia akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh dan tangguh sekalipun. Atau berlindung dibalik teknologi kedokteran yang canggih, serta para ahli kesehatan di muka bumi ini. Jika Allah telah berkehendak, maka tidak akan ada yang mampu menolaknya. Allah SWT berkata dalam firman-Nya, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)’. Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS. An-Nisa: 78)

Semua datang dari sisi Allah. Kesehatan ialah pemberian-Nya, maka akan kembali pula pada-Nya. Sering kita jumpai orang-orang yang berada di sekitar kita berpulang (wafat) tanpa adanya tanda-tanda kematian. Dalam artian, mereka semula dalam keadaan sehat atau bisa disebut jauh dari kematian. Seperti salah satu contoh yang sering kita temui ialah yang meninggal pada saat kecelakaan. Bukankah ia tiada memberi tanda atau isyarat akan kematian? Memberi kabar duka tanpa diduga-duga. Ya, karena tidak ada satu manusia pun yang dapat mengetahui kapan ajal datang dan dalam keadaan apa dia menghampiri.

“Dia dalam keadaan sehat ketika pergi tadi, kenapa dia pulang hanya sisakan nama?” Ketahuilah bahwa kematian datang secara tiba-tiba, dan hanya Allah yang mengetahui waktu setiap kematian. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Sahabat, pernahkah kalian membayangkan kematian datang menghampiri diri? Akan seperti apa kesulitan yang akan dihadapi? Bagaimana cerita kita setelah berpulang dari dunia, akankah berlinang bahagia atau justru bercucuran air mata?

Setiap kata adalah doa, setiap ucap pastilah tercatat. Tiada satu detikpun terlewat begitu saja, tanpa sebuah catatan yang nantinya akan menjadi saksi nyata di dunia yang sebenar-benarnya. Tiada manusia yang berjalan tanpa kesalahan, tiada satupun langkah yang mulus tanpa batu penghambat dan tiada seorang pun yang suci dari dosa. Rangkaian kata terbuat sebagai pengingat, bahwa mati datang tanpa permisi. Ingatlah mati ketika hati mulai terpatri dengan indahnya duniawi. Ingatlah mati ketika jiwa terpaut pada keindahan cinta yang semu. Ingatlah mati ketika tawa senantiasa mengiringi. Ingatlah mati di manapun diri menapakkan kaki dan ingatlah mati ketika diri berlari mengejar kenikmatan duniawi.

Hari ini, mungkin nafas masih bisa berhembus lega karena kesehatan masih tersenyum di dalam jiwa. Tapi esok atau lusa? Siapa yang dapat menduga jikalau kematian akan segera datang. Kematian yang ditakuti banyak orang, kematian yang kedatangannya tidak dirindukan dan kematian yang melekat padanya cerita menakutkan. Yuk mari, saling berbagi di setiap kesempatan, saling mengingatkan sesama insan, saling membantu ketika temui jalan buntu, saling merangkul dalam kegalauan. Bersama, kita coba memanfaatkan usia yang ada, lebih mendekatkan diri pada Illahi, tingkatkan cinta kepada-Nya, dan pasrahkan segala apa yang kau punya hanya kepada-Nya. Karena hanya kepada-Nya jiwa ini akan kembali dan terpatri.