Bagaimana Menyikapi Dunia?

0
346
eksistensi dunia

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

Setiap orang menyikapi hidup di dunia ini dengan hal-hal yang berbeda. Bagi yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara saja dan merupakan tempat untuk menyiapkan bekal menuju akhirat kelak, maka ia akan berusaha menjadikan hidupnya hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Allah berfirman, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

Ada pula di sisi lain, orang yang menghabiskan waktunya di dunia ini hanya untuk melakukan hal-hal yang tak bermanfaat, serta menyiakan waktu yang dimiliki olehnya, sehingga dia akan merugi di dunia bahkan akhiratnya. Dia lupa bahwasanya dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Tidakkah kita memahami itu?

Allah berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)

Ada pula, orang yang sangat membenci dunia hingga ia tak mengambil sedikitpun dari apa yang Allah sediakan baginya di dunia ini. Padahal, Allah sudah menjelaskan di dalam kitab suci-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al Qashshash: 77)

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi dunia ini? Jadilah orang yang mempergunakan dunia ini sebagai sarana terbaik mengumpulkan bekal menuju akhirat yang kekal. Namun, janganlah melupakan apa yang kita butuhkan di dunia ini.

Suatu ketika, ada seseorang mencela dunia di hadapan Ali bin Abi Thalib, dia pun berkata, “Dunia adalah negeri kebenaran, bagi yang membenarkannya. Negeri keselamatan bagi yang memahaminya. Negeri kekayaan bagi yang berbekal darinya. Tempat turunnya wahyu Allah. Tempat shalat para malaikatnya. Masjid para nabi-Nya. Tempat berdagang para wali-Nya. Mereka mendapatkan keuntungan darinya Rahmat Allah dan memperoleh surga-Nya.” (Al Bayan Wa Tabyin: 2/190)

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu memuji dunia dan mensifatinya bahwasanya dunia adalah negeri kebaikan yang penuh dengan manfaat bagi orang-orang yang beramal dengan kebenaran dan niat yang baik. Negeri keselamatan dari dosa dan kesalahan bagi yang mengetahui bahwasanya dunia adalah jalan menuju akhirat. Di dalamnya kekayaan bagi orang yang berbekal dengan ketakwaan.

Lalu, Ali bin Abi Thalib mensifati dunia bahwasanya ia adalah tempat turunnya wahyu Allah, tempat shalat para malaikat-Nya, tempat sujud para nabi dan Rasul-Nya. Dan juga tempat bagi orang-orang yang ikhlas yang terdiri dari para wali, orang-orang shalih yang beribadah pada Rabb-nya. Allah memberi mereka rahmat-Nya, dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

Maka, pergunakanlah waktu hidup di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

***

Jakarta, 25 April 2016