Ada Saja Yang Ingin Berada Di Posisi Kita

0
240
dua bersaudara
Ilustrasi

Oleh : Newisha Alifa

Sekitar seminggu yang lalu, seperti biasa, adik saya tiba-tiba masuk kamar dan bercerita, “Kak, ternyata temen-temen Na banyak yang envy (kepingin) hubungan kakak-adik kayak kita loh.”

Saya tercenung dan belum mengerti. “Maksudnya?”

“Iya. Na kan cerita kalo suka sharing ini itu sama Kakak. Nah mereka tuh bilang, ‘Enak banget ya, kamu sama kakakmu bisa curhat-curhatan begitu’,” jawab Na—panggilan untuk adik saya. Mendengar jawabannya, saya pun kontan tersenyum.

“Padahal Na bilang, kalo kita nggak melulu akur. Sering ribut juga kalo di rumah,” Na melanjutkan ceritanya lagi. Saya memilih untuk lebih banyak mendengarkan saja. Bingung juga sih mau komentar apa.

“Temen Na kan ada yang punya adik masih kecil ya, Kak. Dua-duanya cewek juga. Nah, dia tuh sampe bilang, ‘Semoga nanti kalo adek gue udah gede, hubungannya bisa kaya lo sama Kak Alifa ya, Na.’ …,” sambung gadis itu antusias.

Di balik senyum, saya merenung. Tak menyangka bahwa hubungan kakak-beradik saya dan Na, yang sering kali diwarnai huru-hara di rumah, justru begitu diinginkan, hingga dijadikan patokan kebahagiaan oleh orang lain yang hanya sekilas mendengarkan cerita tentang kami.

#

Dalam kesempatan lain, tak jarang saya menjadi pendengar sekaligus penasehat bagi beberapa teman yang sudah berumah tangga, dan mengeluhkan kondisi pernikahannya yang—dari ceritanya bisa disimpulkan—tidak harmonis. Suami yang begini begitu, anak yang hobinya bikin masalah terus, dan hal-hal lain yang seolah tak ada habisnya untuk diceritakan pada orang lain. Sampai saya hafal kebiasaan-kebiasaan anggota keluarganya.
Tak hanya sekali dua kali saya berujar, “Mbak, tahu nggak, di luar sana, banyak loh perempuan yang merindukan posisi sebagai istri dan ibu kaya status Mbak sekarang.”
Dan biasanya, kalau sudah begitu, mulut si Mbak ini pun seketika terkunci rapat.

#

Begitulah hidup. Konon katanya, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput—pekarangan—sendiri. Sering kali kita lihat kehidupan orang lain lebih enak dan bahagia, padahal kalau kita ‘lihat lebih dekat’, boleh jadi kita tak mau bertukar posisi dengannya: lebih enak kehidupan sendiri.

Salah satu hal yang paling suka saya bahas dalam setiap tulisan saya adalah tentang rasa syukur. Pasalnya, bukankah rasa bahagia adalah sesuatu yang ingin dimiliki kebanyakan manusia di muka bumi? Ada gitu orang yang nggak kepingin bahagia baik dunia maupun akhirat? Kok aneh ya dengarnya, kalo ada beneran. Nah, salah satu kunci kebahagiaan yang sering kali terabaikan oleh kebanyakan manusia adalah rasa syukur.

Tak sedikit manusia, yang kalau dilihat oleh orang lain, komponen-komponen umum kebahagiaan dalam kehidupan sudah ia miliki. Misalnya harta, keluarga yang lengkap, kesehatan, fisik yang rupawan, tapi bisa sedih bukan main karena merasa ketenaran dan kekuasaan belum berada di tangannya.

Akhirnya apa? Ia fokus pada orang lain yang tenar atau berkuasa. Ingin bertukar posisi dengan orang tersebut. Merasa kehidupannya akan jauh lebih bahagia jika bisa berada di posisi orang itu. Subhanallah! Kalau sudah begini, kapan mau belajar syukurnya? Kapan mau merasa cukupnya? Apalagi mengecap kebahagiaan, makin susah aja deh!

#

Mengeluhkan kondisi diri, kemudian membandingkannya dengan kehidupan orang lain memang suatu hal yang sangat manusiawi. Bahkan dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

Jadi, jika melihat ayat di atas, berkeluh-kesah memang salah satu fitrah dalam penciptaan makhluk bernama manusia. HANYA SAJA, sama seperti hawa nafsu, kita mesti sanggup mengendalikan rasa keluh-kesah itu, bukan sebaliknya, malah kita yang dikuasai.

#

Ingatlah! Selalu ada hal dalam diri kita yang patut untuk disyukuri kehadirannya. Hal-hal yang baru terasa betapa berharganya, ketika satu per satu Allah cabut begitu saja.

Pun ketika rasa kufur mulai menyapa, ingatlah! Bahwa di luar sana, begitu banyak orang yang MERINDUKAN POSISI SEPERTI KITA. Fokuslah terhadap apa yang sudah atau masih kita miliki, bukan apa-apa yang belum atau bahkan tidak pernah Allah takdirkan untuk kita miliki.

Semoga bermanfaat.

Bekasi, 22 Jumadil Tsani 1437H • 1 April 2016