3 Alasan Tidak Boleh Mengejek Jomblo

0
709
jomblo

Oleh : Riska Kencana Putri

Jomblo, sebutan yang sangat akrab di telinga, terlebih untuk para kaum muda. Jomblo identik dengan kesendirian; tidak memiliki pacar ataupun yang belum menikah.

Bagi para pemuda, konon jomblo itu ada dua jenis; jomblo idealis dan jomblo nasib. Apa itu? Jomblo idealis itu untuk orang-orang yang sengaja menjomblo, memilih sendiri daripada melakukan aktivitas yang diharamkan (pacaran). Pilihannya cuma dua, menjomblo atau menikah. Berbeda dengan jomblo nasib, mereka pada dasarnya adalah aktivis pacaran namun sedang tidak memiliki pacar.

Menyandang predikat jomblo bukan sebuah aib. Apalagi jomblo idealis, mereka ini adalah manusia-manusia yang terpilih, menahan diri dari maksiat.

Berbicara jomblo memang tidak ada ujungnya, mereka selalu saja menjadi bahan bully-an. Bagi sebagian orang, membully mereka adalah lelucon, tapi layaknya makanan yang dikomsumsi terus menerus, tentu akan berakibat tidak baik.

Berikut alasan mengapa kita harus menghentikan pertanyaan maupun pernyataan kepada para jomblo :
Pertama, Allah melarang hamba-Nya untuk mengolok-olok satu sama lain. Ini sudah jelas tercantum dalam al Qur’an, surat Al Hujurat ayat 11 :
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita yang (diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang dzalim.”

Ejekan berupa perkataan “perawan tua”, “bujang lapuk”, “tidak laku”, sampai kepada cap “kelainan” pun kerap dilontarkan sebagian orang. Mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang suka mengolok-olok para jomblo.

Kedua, menjadikan predikat jomblo sebagai bahan tertawaan berarti tidak menjaga perasaan saudara kita. Yakinlah bahwa mereka lebih tau melebihi apa yang kita tau. Jika mereka masih melajang di usia yang matang, buka berarti mereka tidak ingin menyegerakan sunah, akan tetapi memang waktunya saja yang belum datang.

Menjaga perasaan orang lain termasuk akhlak yang terpuji. Tidak diperkenankan seorang muslim menyakiti hati muslim yang lain, meski hanya lewat lisan.

Ketiga, tidak percaya qadha dan qadar Allah. Para jomblo pasti pernah ditanya, “Kapan nikah?”, “Kok nggak nikah-nikah, umur sudah kepala tiga..”, dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis.

Ingatlah, bahwa hidup, mati, rizki dan jodoh ada yang mengatur, yaitu Allah. Jika memang saat ini menjomblo karena belum dipertemukan dengan jodohnya, kita bisa bilang apa? Toh manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, urusan hasil Allah yang akan memutuskan dan memberikan yang terbaik.

Jadi, daripada membully para jomblo, lebih baik mendoakan mereka, agar diberi yang terbaik. Karena doa seorang muslim untuk muslim lainnya adalah sunah.

“Doanya seorang muslim kepada saudaranya yang tidak bersamanya pasti dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang menjaganya. Setiap kali ia berdoa minta kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu akan berkata, “Aamiin”. Dan engkau akan mendapatkan yang serupa.” (HR Imam Ahmad)