Bagi Ilmunya, Dong?!

0
217
ngajar

Oleh : Newisha Alifa

Berapa tahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah kisah yang—menurut saya—sangat menginspirasi. Sebelumnya atas keterbatasan daya ingat, saya mohon maaf, jika terdapat kesalahan alur dalam kisah yang coba saya ceritakan ulang di bawah ini:

Alkisah ada seorang pemilik kebun jeruk yang sukses. Kualitas jeruk yang dihasilkan oleh kebunnya sangatlah baik, sebab si pemilik merawat kebunnya dengan telaten, dan menerapkan teknik khusus demi menjaga kualitas buah yang dihasilkan dari kebunnya. Namun di luar dugaan, ketika ada yang menanyakan rahasia mengapa jeruk dari kebunnya itu memiliki kualitas yang sangat baik, bapak pemilik kebun ini tidak sungkan-sungkan untuk membagi ilmunya. Beliau bahkan bersedia memberi cangkokan tanaman dari perkebunanannya kepada orang yang bertanya.

Anaknya pun heran kemudian bertanya, “Ayah, mengapa kau berikan rahasia kesuksesan kebun kita kepada orang itu? Tak takutkah engkau, bila setelah ia mengetahui rahasia kebun kita, ia akan menyaingi usaha kita? Maka jeruk kita takkan lagi istimewa, Ayah, karena tidak lagi dihasilkan dari kebun kita saja.”

Sang ayah dengan santai menjawab, “Tidak apa. Semakin banyak yang tahu, maka akan semakin banyak yang merasakan manfaatnya. Akan semakin banyak orang yang bisa menikmati jeruk berkualitas tidak hanya dari kebun kita.”

Ah, sekali lagi maafkan saya yang hingga tulisan ini dibuat, belum menemukan sumber kisahnya dengan alur, juga dialog aslinya. Namun izinkan saya untuk membedah hikmah apa yang hendak disampaikan dari kisah—yang entah nyata atau fiktif belaka—di atas.

Jangan takut berbagi ilmu dan manfaat kepada orang lain!

Jangan merasa, dengan mengajarkan ilmu yang kita miliki atau memberikan informasi yang kita ketahui kepada orang lain, maka hal tersebut akan merugikan kita, bahkan mengancam kenyamanan kita! Janganlah berpikir demikian!

Disebutkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Boleh jadi untuk urusan infaq, shadaqah atau membelanjakan harta di jalan Allah, kita ini pol-polan, alias nggak perhitungan. Namun ketika membagi ilmu pada orang lain, kita lantas berubah jadi kikir. Kita langsung khawatir, dia yang kita ajari nantinya justru akan menjadi saingan kita. Bahkan, jangan-jangan nanti dia bisa jauh lebih pintar dari kita! Wah, bahaya nih, posisi kita bisa terancam!

Subhanallah! Apapun profesi kita saat ini; pelajar, mahasiswa, pekerja, pengusaha dan lain-lain, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran negatif seperti di atas! Tak sadarkah kita, bahwa hari ini kita bisa membaca dan menulis berawal dari siapa? Adakah sekonyong-konyong kita langsung bisa melakukan banyak hal, tanpa ada yang mengajari sebelumnya? Totally otodidak? Wah ajaib sekali kalau benar begitu.

Apa yang kita miliki saat ini, toh sejatinya cuma titipan semata. Tak hanya harta, namun ilmu pun juga. Dan ingat! Kita bisa pintar atau mengerti banyak hal juga, tak lepas dari kehendak Allah! Pun, jika sewaktu-waktu nikmat ilmu tersebut mau Allah cabut, kita tak punya kuasa! Namanya juga TITIPAN. Makanya jangan sampai Allah murka atas sifat kikir kita dalam membagikan ilmu atau informasi yang bermanfaat pada orang lain.

Sadarlah, bahwa semakin banyak orang yang mendapatkan ilmu dari kita, kemudian mereka mengamalkannya, maka semakin banyak pula kebaikan dan berkah yang akan kita tuai nantinya. Dan Masya Allah! Bahkan pahala tersebut terus mengalir sekalipun kita sudah tiada! Dahsyat bukan ganjaran yang akan kita dapat?

Bagaimana, masih ragu untuk berbagi ilmu kepada orang lain? Yakin? Nggak kepingin dapat lebih banyak pahala dunia akhirat???
Bekasi, 13 Rajab 1437H | 20 April 2016