Pasutri, Antara Kelemahan dan Kesalahan

0
311
suami istri

Oleh : Naufal Masunika

Seorang suami yang tidak pengertian dan kurang menghargai istri itu sebuah kelemahan, sedangkan kalau tidak memberikan nafkah itu berdosa. Seorang lelaki yang tidak bisa rapi dan pendiam itu kekurangan, namun seorang lelaki yang ringan tangan (suka memukul) dengan pukulan keras itu berdosa.

Seorang istri yang tidak bisa berdandan dan sering bermuka masam itu suatu kelemahan, tetapi seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suami, tabarruj dan memperlihatkan auratnya di depan umum itu berdosa. Istri yang terlalu perasa dan pendiam itu kekurangan. Namun seorang istri yang menolak ‘ajakan’ suami tanpa alasan syar’i yang dibenarkan itu kedurhakaan.

Syahdan, seorang ibu berkali-kali menuntut suaminya untuk menceraikan dirinya (dengan maksud mengancam), sampai suatu ketika sang suami benar-benar mengabulkan keinginannya. “Saya benar-benar lelah dengan sifat kekanak-kanakannya.” Begitu ujarnya. Apakah lantas sang istri girang mendengarnya? Ternyata tidak, ia bahkan menangis sejadi-jadinya menyesali apa yang pernah dimintanya. Nasi telah menjadi bubur. Wa’iyadzubillah.

Sifat wanita cenderung enjoy bermain-main dengan perasaannya, sedangkan pria lebih sering (kalau tidak dikatakan selalu) mengedapankan nalar atau logika dalam membaca suatu permasalahan. Seorang suami misalnya yang cenderung melihat segala sesuatu dengan kaca mata hitam putih dengan mudah menuduh istri berbuat nusyuz (melakukan pembangkangan). Wanita dengan kepekaan ‘rasa’ alias sensitivitasnya bisa-bisa saja tiba-tiba langsung memvonis sang suami tidak bertanggung-jawab hanya karena sedikit saja keinginannya tidak terpenuhi.

ANTARA KELEMAHAN DAN KESALAHAN

Ada perbedaan mendasar antara kelemahan atau kekurangan dengan kesalahan atau dosa, utamanya konsekuensi hukum atau dampak buruknya. Kelemahan terkait erat dengan ketidaksempurnaan dan itu lazim baik pada diri suami maupun istri. Adapun kesalahan atau dosa, jika itu terjadi haruslah diperbaiki atau pelakunya bertaubat. Hal ini terkadang luput dari pencermatan, baik oleh seorang suami atau istri.

Seorang suami yang tidak pengertian dan kurang menghargai istri itu sebuah kelemahan, sedangkan suami yang tidak memberikan nafkah itu salah bahkan berdosa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata Rasululluah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya.’” (HR.Abu Dawud no.1442 CD, Muslim, Ahmad, dan Thabarani)

Seorang suami yang tidak bisa rapi itu mengesalkan (kekurangan), namun seorang lelaki yang ringan tangan (suka memukul) dengan pukulan keras itu kesalahan alias berdosa. Karena pukulan hanya ditujukan pada istri yang sangat durhaka, yang tidak mengindahkan nasehat dan peringatan suami dalam bentuk pisah ranjang. Itupun pukulan ringan yang tidak menyakitkan dan seharusnya merupakan alternatif terakhir.

“…. Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (an-Nisa : 34)

Dalam hadits Jabir ra yang panjang disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian yang wajib mereka penuhi adalah tidak membiarkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci dan jika mereka melakukannya (membiarkannya masuk) maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan hak mereka yang wajib kalian penuhi adalah memberi nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf,” (HR Muslim [1218]).

Seorang suami yang pendiam itu menjengkelkan (kelemahan), tetapi seorang suami yang tidak memiliki rasa cemburu (dayyuts) itu dihukumi berdosa. Bahkan diharamkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yaitu hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan sanad marfu’ –sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana beliau bersabda,
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ
“Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya.” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain)

Seorang istri yang tidak bisa berdandan dan sering bermuka masam itu suatu kelemahan. Tetapi seorang istri yang keluar rumah tanpa seizin suami, tabarruj dan memperlihatkan auratnya di depan umum itu perbuatan dosa. Allah Ta’ala berfirman :
وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى
“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” [Q.S. Al-Ahzab: 33]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوْا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Wanita siapa saja yang menggunakan wewangian lalu ia melewati sekumpulan laki-laki dengan tujuan mereka mencium harumnya, maka ia terbilang pezina”

Istri yang terlalu perasa dan pendiam itu kekurangan. Namun seorang istri yang menolak ‘ajakan’ suami tanpa alasan syar’i yang dibenarkan itu suatu kedurhakaan (nusyuz). Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ
“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ
“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari : 11/14)
Seorang istri yang mengeluhkan uang belanja yang kurang itu masih bisa disebut sebuah kelemahan, tetapi seorang istri yang mengingkari pemberian suami dan kebaikannya itu termasuk kufur nikmat. Dan perbuatan itu dihukumi berdosa.

Dari Asyah ra, bahwa Hindun binti Utbah pernah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir dan tidak mau memberikan kepadaku belanja yang cukup untuk aku dan anakku, sehingga terpaksa aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.” Beliau besabda : ’Ambillah sekadar cukup untuk dirimu dan anakmu dengan wajar.” (HR.Bukhari no.4945 CD, Muslim, Nasa’i, Abu dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi)

Dari Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.
“Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’”

Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 29, 1052, 5197) dan Muslim (no. 907 (17))

Wallahu’alam bisshowab.