Waspadai Rekayasa Terselubung Media

0
272
konspirasi media

Oleh : Farah Riza

MEDIA cetak, media elektronik, ataupun media sosial adalah sarana yang paling ampuh mempengaruhi cara pandang atau penilaian seseorang pada suatu kasus dalam pemberitaan. Meskipun tidak semua pembaca atau pemirsa mudah dipengaruhi oleh suatu pemberitaan, namun dalam masyarakat kita, banyak pula yang tak mampu menyaring sebuah informasi dari media.

Mengambil contoh dalam sebuah pemberitaan infotainment, banyaknya berita yang cenderung mengarah ke ghibah bahkan fitnah, menjadi bahan yang nyaman untuk diperbincangkan. Sebagian orang yang tidak peduli apakah itu ghibah atau bukan, malah ikut terjerumus untuk memperdalam ghibah tentang obyek yang diberitakan.

Pada sebuah rekaman yang banyak di-share di ‘WhatsApp’, seorang psikolog bernama Elly Risman berbicara tentang bahayanya kecanduan televisi ataupun gadget bagi anak-anak. Di samping itu, beliau juga menyatakan tentang rekayasa di balik berita infotainment. Berita tentang seorang selebriti pria yang mengadakan acara pernikahannya dengan besar-besaran di beberapa kota, ternyata hanya rekayasa sebuah stasiun televisi swasta. Dalam pandangan orang banyak, pernikahan mewah tersebut diadakan atas keinginan dan modal dari si artis, ternyata itu bertujuan untuk meningkatkan pamor satu stasiun televisi yang kalah bersaing dengan stasiun baru.

Menurut pengelola wedding organizer yang merupakan teman Ibu Elly, si artis sendiri sebenarnya mengeluh karena harus melaksanakan banyak acara pada pernikahannya. Dalam kasus lain, penulis yang mengenal seorang penyanyi dangdut ‘kelas kecamatan’ yang biasanya ‘kalem’, tiba-tiba bergoyang seronok saat tampil di sebuah stasiun televisi. Saat penyanyi tersebut telah kembali ke kota asal setelah syuting di Jakarta, dia mengeluh karena dipaksa harus bergoyang sesuai keinginan produser.

Dalam sebuah media cetak, kita juga sering dibuat terpana oleh sebuah pemberitaan. Contoh sebuah berita tentang meledaknya sebuah kuburan dan masyarakat dari berbagai daerah pun berbondong-bondong datang ke kuburan tersebut. Padahal, penulis yang memiliki rumah di depan kuburan tersebut justru tak pernah mendengar kuburan tersebut meledak apalagi disebut hingga keluar asapnya.

Sebagai pembaca ataupun penonton lebih bijak bagi kita untuk tidak begitu saja menelan mentah sebuah pemberitaan apalagi sampai memperbesar berita dengan menjadikannya obrolan seru. Lebih menakutkan lagi ketika berita tersebut hanyalah sebuah kebohongan, kita yang ikut-ikutan asyik membicarakannya pun menjadi terkena dosa ghibah.

Selalu berprasangka baik dan bila ingin meyakini sebuah berita, lebih baik mencari informasi yang lebih jelas dari berbagai sumber sebelum memutuskan untuk menjadikannya wacana obrolan.

Namun perlu kita cermati juga, bahwa tidak semua berita di televisi ataupun media lain berisi hal-hal negatif, banyak pula informasi penting yang bisa diperoleh dari sana. Jadi, lebih baik bagi kita berusaha memilah, mana tontonan atau bacaan yang membawa kebaikan dan mana yang harus dihindari bila kosong manfaat. Jadikan media untuk menebar manfaat dan menimba ilmu, jangan terjerumus dengan rekayasa buruk yang mungkin terselip di dalamnya.