Wanita Dan Sifat Malu

0
596
malu

Oleh : Pipit Era Martina

Rasulullahu SAW bersabda, Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imran bin Hushain)

Malu merupakan salah satu sifat yang semestinya dimiliki oleh seorang wanita. Mengapa? Karena jika kriteria ini tidak melekat pada wanita, maka binasalah mereka. seorang wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu. Malu ketika auratnya terbuka di muka umum. Malu ketika ucapannya menimbulkan aurat. Malu ketika suaranya berirama menggoda. Malu ketika tidak lagi bisa menjaga aurat yang semestinya ditutupi. Malu ketika tidak lagi memiliki penghalang antara kedekatan wanita dan laki-laki.

Sedikit menceritakan tentang kisah seorang wanita yang ada pada zaman Nabi Musa ‘alaihis sallam. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, ‘Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?’ Kedua wanita itu menjawab: ‘Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya’. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24)

Sahabat, bayangkanlah bagaimana indahnya sifat kedua wanita tersebut yang benar-benar menjaga sifat malunya. Meski dalam keadaan yang mendesak sekalipun, mereka tetap pada rasa malu yang mereka pegang teguh. Mereka lebih memikirkan akan rasa malu, ketika harus berdesak-desakkan dengan kaum lelaki untuk memberi minum kepada ternaknya. Akan tetapi, coba kita bayangkan malu yang ada pada wanita zaman sekarang ini. Tidak lagi ada rasa malu itu tertanam dalam jiwa mereka, hanya sedikit saja dari sekian banyaknya wanita yang masih terus menggenggam rasa malunya.

Wahai wanita, auratmu sangatlah banyak dan begitu berharga! Sedikit saja kau membuka aurat secara terang-terangan, maka akan dengan mudahnya setan menciptakan musibah. Kini, wanita tanpa malu mengumbar aurat yang seharusnya tertutup rapat. Mengumbar tawa yang seharusnya senantiasa dijaga. Mengumbar pesona yang semestinya hanya tercipta untuk suaminya saja. Tidak lagi mereka hiraukan akan nasehat para orang tua. Menjaga jarak antara wanita dan laki-laki, menjaga pandangan ketika berpapasan dengan lawan jenis, menjaga kecantikan dengan tidak memperlihatkan perhiasan. Justru sebaliknya, kebanyakan dari wanita masa kini memiliki rasa bangga ketika auratnya semakin terbuka dan terlihat nyata indahnya. Merasa hebat ketika pesonanya mampu meluluhkan hati para lelaki. Merasa bahagia ketika berkumpul, bercanda bersama dengan para lelaki tanpa adanya batasan.

Sifat wanita pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam sudah seharusnya kita jadikan satu pedoman untuk memperkokoh iman. Meski tidak mampu sebagus mereka, tetapi setidaknya ada niatan dan usaha untuk memperbaikinya. Tidaklah cukup sampai disitu saja kebagusan akhlak yang dimiliki oleh kedua wanita pada zaman Nabi Musa tersebut. Perhatikanlah firman Allah yang menjelaskan tentang indahnya akhlak mereka tatkala datang untuk memanggil Nabi Musa ‘alaihis salam, “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (QS. Al Qashash: 25)

Dia datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki. Tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh dan tidak merangsang. Namun, walau malu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetail, tidak grogi dan tidak terbata-bata. Semua itu timbul dari fithrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus merasa malu dengan fithrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya, tetapi karena kesuciannya dan keistiqamahannya. Dia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia berbicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.

Ayat di atas menjelaskan bagaimana seharusnya seorang wanita berakhlak dan bersifat malu. Bukan berarti seorang wanita yang bersifat malu tidak diperbolehkan melakukan suatu hal yang menunjukkan keberanian ataupun menjadi wanita yang kuat. Akan tetapi, kembali lagi pada porsi yang telah Allah tetapkan untuk umat-Nya. Letakkan segala sesuatu pada tempatnya. Demikian juga dengan sifat malu yang telah melekat pada kaum wanita. Malulah sebagai wanita ketika apa yang menjadi ketentuannya dilanggar tanpa memikirkan akibatnya. Malulah ketika apa yang Allah ingin untuk kita lakukan, kita abaikan dengan mudahnya.

Bukan hal yang mudah untuk mendeskripsikan malu pada zaman sekarang ini. Satu yang perlu kita pahami dan tanam dalam hati, bahwa sebagai seorang wanita yang baik sudah semestinya memiliki sifat malu. Malu bukan hanya kepada sesama manusia ketika kita melakukan kesalahan atau ketika tanpa sengaja aurat kita terlihat. Tapi juga perlu kita tanamkan malu kepada Illahi dan ciptaan lainnya. Malu kepada Allah karena belum bisa menjadi wanita yang memenuhi, serta menjalankan setiap apa yang Dia perintahkan. Belum juga bisa menutup aurat secara sempurna.

Malu kepada-Nya ketika apa yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya tidak diindahkan, bahkan terkadang diabaikan. Malu kepada ciptaan-Nya, dimana kita tahu bahwa derajat manusia merupakan yang paling sempurna di antara ciptaan lainnya. Malu karena sebagai manusia belum bisa patuh sepenuhnya kepada Sang Pencipta seperti yang dilakukan oleh ciptaan Allah lainnya. Mereka yang tak sempurna namun senantiasa memenuhi perintah-Nya, tidak pernah sekalipun mereka melanggar ketentuannya. Hamparan lautan yang berusia lebih tua dari kita tak pernah sekalipun menolak perintah Allah. Pun bumi yang tercipta lebih lama tak pernah mengeluh karena seringkali dikotori oleh manusia, makhluk yang paling sempurna.

Semoga, kita sebagai wanita bisa menjalankan etika ketentuan Allah SWT untuk menjadi wanita berakhlak baik dan senantiasa menjaga sifat malunya. Memuliakan diri sendiri dengan menanamkan rasa malu dalam diri.

Rasulullahu SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahih: HR.Ibnu Majah (no. 4181) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir (I/13-14) dari Sahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 940)]

Lampung, Jum’at 04 Februari 2016