Teruntuk Saudariku yang Sedang Dalam Masa Penantian

2
654
menanti jodoh

Oleh : Newisha Alifa

*Sebuah catatan hati, dari jomblowati untuk jomblowati*

Umumnya, yang paling mahir dalam mendeskripsikan suatu keadaan, adalah mereka yang sedang atau pernah mengalami langsung keadaan tersebut. Misalnya menggambarkan tentang ‘kelaparan’, maka kita akan lebih mudah percaya ketika para pemulung, pengemis, dan anak-anak jalanan-lah yang menceritakannya. Kecil kemungkinan kita akan terenyuh mendengar seorang nyonya kaya raya bertubuh tambun, tiba-tiba bicara tentang kelaparan. Benar apa betul?

Sama halnya seperti membahas satu masalah yang tak lekang oleh waktu ini; menanti datangnya jodoh.

Yang paling bisa menggambarkan keresahan seorang perempuan yang tengah menunggu datangnya jodoh adalah mereka yang memang SEDANG menanti atau PERNAH mengalami fase tersebut. Jadi umumnya sih takkan sama, komentar para perempuan yang sudah menikah di usia-usia 20-25, 26-30 dengan sensasi yang dirasakan oleh para wanita yang masih melajang di usia 31-40 tahun, bahkan lebih.

Itu sama halnya seperti seorang gadis yang kemungkinan besar tidak akan diperhitungkan pendapatnya ketika berbicara tentang proses persalinan —kecuali profesinya memang bidan atau dokter kandungan, oleh wanita lain yang sudah menikah bahkan pernah melahirkan.

#

Detik terus berganti menit. Hari pun menjelma bulan. Hingga tahun demi tahun berlalu kian cepat. Usia dari remaja berubah dewasa, hingga akhirnya angka tiga pun mendekat, bahkan terlampaui begitu saja. Namun satu pertanyaan kramat belum juga terjawab, “Kapan nikah?”.

Sayangnya tidak semua orang mau dan bisa memahami, bahwa sangat wajar jika para wanita di usia-usianya yang tak lagi belia, akan lebih mudah diserang galau, resah dan gelisah dalam menanti kehadiran sang pasangan hidup. Pasalnya, sudah jadi rahasia umum, bahwa wanita memiliki masa-masa tertentu —yang dianggap baik— untuk hamil dan melahirkan. Sehingga logikanya, jika menikahnya saja sudah telat, berarti hamil dan melahirkannya pun akan terlambat juga. Padahal sejatinya, ketiga proses tersebut terjadi tak lepas dari Kuasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Manusia hanya bisa berencana dan memprediksi, namun pada akhirnya yang terjadi hanyalah Kehendak-Nya.

Namun di balik semua kewajaran itu, duhai Saudariku …

Tak berarti pantas membuat kita jadi terus-terusan galau dan bersedih hati, sampai akhirnya bahagia pun jadi enggan menyapa! Jangan pernah berhenti berpikir positif terhadap keadaan sekitar, terutama pada ketetapan Allah atas diri kita!

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita ingat dalam masa-masa ‘rawan galau’ ini, di antaranya, MUNGKIN …

1. Allah mau kita lebih fokus ke kedua orangtua dan keluarga.

Ada beberapa teman yang orangtuanya sakit, sehingga mereka harus total merawat orangtuanya. Atau sebagian masih harus jadi tulang punggung keluarga, misalnya ikut support biaya sekolah atau kuliah adik-adiknya.

Kalau pun kedua keadaan di atas tidak terjadi pada keluarga kita, ingat poin awalnya! Fokus dan manfaatkan quality time bersama orangtua juga adik/kakak. Karena nanti, kalau sudah punya keluarga sendiri, cepat atau lambat, akan susah lagi membagi waktu untuk mereka.

2. Allah sedang siapkan rezeki dalam bentuk lain saat ini.

Hidup ini nggak ada yang sempurna. Ada yang setelah nikah, hidupnya serba ngepas, bukan karena Allah mengingkari janji-Nya untuk mencukupkan mereka yang memilih menikah untuk menjaga kehormatannya loh yaa. Tapi karena nggak sedikit pasangan yang kurang persiapan dalam memasuki biduk rumah tangganya.

Nah, nggak jarang mereka yang sedang ‘ditangguhkan’ jodohnya oleh Allah ini, justru sedang sukses di karir atau menekuni sesuatu yang pada akhirnya bisa menorehkan prestasi.

Seorang sahabat, dalam masa jomblonya, justru semakin bersinar karirnya, sampai beberapa kali dikirim ke luar negri oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Saya pun juga merasa Allah sedang memberikan rezeki dalam bentuk lain. Saat ini selain bekerja di salah satu perusahaan asing, saya juga aktif menulis untuk beberapa media online. Sukses dalam menulis adalah cita-cita saya sejak SMP, dan Alhamdulillah di masa-masa ‘sendiri’ inilah, Allah justru akrabkan saya dengan cita-cita saya dulu!

3. Allah sedang menghindarkan kita dari pernikahan yang penuh sesal.

Semakin lama waktu tunggu, harusnya berbanding lurus dengan semakin banyak pengalaman yang dimiliki. Tak sedikit teman yang harus menjadi janda di usia muda. Pernikahan yang diimpikan justru berubah jadi mimpi buruk yang harus berakhir di meja hijau. Ya, perceraian yang pada akhirnya juga merugikan anak-anak yang terlanjur lahir dari pernikahan tersebut.

Ada juga teman yang rajin curhat masalah rumah tangganya. Suaminya yang suka KDRT, nggak sayang sama keluarga, pengangguran dan lain-lain.

Satu hal yang patut kita syukuri —bukan nyukurin yaa, Mblo!

Setidaknya saat ini, Allah sedang menghindarkan atau menyelamatkan kita dari pernikahan yang penuh sesal! Allah sedang memberi kita waktu lebih untuk banyak belajar dari kejadian sekitar. Agar ketika momen yang dinanti itu tiba, kita sudah jauh lebih siap!

4. Allah suka melihat kita berdoa pada-Nya.

Sebagian doa terhalang karena maksiat yang belum ditaubati. Namun sambil terus bertaubat, ingatlah! Bahwa boleh jadi Allah menikmati setiap khusyu sholat kita dalam memohon pada-Nya.

Allah tak ingin hamba-Nya jadi pergi menjauh, usai doa sang hamba, Ia kabulkan.

Allah tengah menguji kesabaran dan keikhlasan kita dalam menerima segala ketetapan-Nya. Nah yang namanya ujian, kalau lulus … pasti ada hadiahnya dong!

#

Dan pada akhirnya, yang sangat wajib kita ingat adalah :

Allah mau membuat kita LEBIH BERSYUKUR, merasakan NIKMAT YANG LEBIH MEMBAHAGIAKAN ketika momen yang dirindukan itu akhirnya tiba.

Bukankah sesuatu yang didapatkan dengan susah payah, akan membuat kita lebih menghargainya, ketimbang yang didapatkan dengan mudah, begitu saja?

Jadi karena sudah tahu gimana rasanya menunggu. Gimana pilunya hati, ketika ‘fitnah’ dengan berbagai bentuk mulai menyerang saat kita seorang diri sebagai perempuan, maka ketika si penggenap separuh agama itu akhirnya tiba juga, kita akan jauh lebih menghormatinya sebagai pemimpin baru pengganti ayah, dalam kehidupan kita.

Diri ini pun In Syaa Allah, akan lebih menghargai serta mensyukuri peran baru yang didapat pascapernikahan yakni ; istri dan ibu. Karena dua gelar itu memang dirindukan selama ini.

#

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Semoga kita selalu dimampukan oleh Allah untuk bisa menjaga kehormatan diri sebagai seorang wanita.

Semoga masa-masa penantian ini tak jadi sia-sia, sehingga memacu kita untuk terus menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Dan akhir kata,
Yakinlah, Saudariku …
Jodoh kita masing-masing, In Syaa Allah sudah semakin DEKAT.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.
Bekasi, 4 Jumadil Tsani 1437H • 14 Maret 2016