Teruntuk Saudariku, yang Berduka Karena Cinta

0
451
terluka karena cinta

Oleh: Aannisah Fauzaania

Duhai ukhti, kala kupatrikan kalimat-kalimat ini dalam deret aksara, sungguh bukanlah karena diri ini telah merasa menjadi yang paling suci. Bukan pula karena telah menjadi muslimah yang begitu kuat dari godaan ajnabi. Namun karena ukhuwah Islami yang menjadikan diri ingin mengingatkan lebih banyak lagi, saling menguatkan agar bisa meraih ridha Illahi.

Duhai ukhti, seperti judul yang diangkat dalam tulisan ini, membicarakan cinta memanglah tak ada habisnya jika terus dinanti. Fenomena remaja yang berduka lantaran dikhianati atau dikecewakan oleh kekasih seakan menjadi trend topic dalam dunia gadis masa kini. Merasa tak gaul jika tak ikut bercengkrama dekat dengan lelaki ajnabi. Melewati batas-batas yang telah ditentukan Illahi Rabbi, hingga akhirnya ketika sakit merundung sanubari, hanya isak tangis yang dapat terlahir untuk mengadu pada Allah SWT.

Saudariku, tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah milik seorang sahabat dekat penulis. Ia yang beberapa waktu lalu mengabarkan berita gembira perihal kekasihnya telah mengucap janji untuk mengkhitbah selepas tunai kewajiban menuntut ilmunya kelak. Namun tiba-tiba kemarin datang dengan tangis yang begitu nestapa, berkesah kini seorang yang begitu diharapkannya harus pergi dan ia ditinggalkan begitu saja.

Ketika tangisnya pecah, ia merasa Allah begitu tak adil karena telah menyakiti hatinya. Menjadikan pupus harapannya, dan menghancurkan kepingan rasa yang telah terpatri indah. Ia berucap, “Bukankah Allah yang telah memberi dan menganugerahkan rasa ini? Lalu mengapa kini ia yang begitu membenci?”

Astaghfirullah. Sahabat, begitulah jika hati ini terlalu berharap dengan makhlukNya. Dalam suatu perkataan Imam Syafii disebutkan, “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan kepadamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap pada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Allah mematahkan hati agar kita terselamatkan dari cinta yang salah dan belum seharusnya dipatri. Maka ketimbang menangis dan berduka hingga berhari-hari, semestinya kita bisa lebih mensyukuri lagi, dibalik kesalahan diri, Allah masih mau mengasihi kita dengan segenap cinta-Nya. Cinta yang tak akan pernah mengkhianati.

Lagi pula, pantaskah air mata yang begitu mahal mesti terjatuh hanya lantaran sosok yang belum tentu akan menjadi imam penuntun hingga akhir nanti? Tak sayangkah akan harga diri yang malah akan dianggap lemah oleh dia pemberi virus pesakitan hati? Maka jangan lagi bersedih ukhti, ada Allah yang tak akan pernah meninggalkanmu.

Saudariku, tak ingatkah ikrar suci pada Illahi yang telah kita sebut setiap lima waktu sehari? “Innassholati, wanusuki, wa mahyaya, wamamati liloohi robbil ‘alamin”. Artinya adalah, “Sesungguhnya shalatku, hidupku, ibadahku dan matiku, hanya untuk Allah Rabb semesta alam.”

Dalam doa iftitah yang kita sebut setiap kali shalat, sebenarnya kita telah mengucapkan ikrar sesungguhnya hidupku dan segalaku hanya untuk Allah SWT. Bayangkan jika Allah yang menjadi kekasih kita, harus berapa kali Ia dikhianati. Kita datang ketika tengah berhajat dan memohon dengan rayuan-rayuan manis, kemudian pergi ketika apa yang kita inginkan telah tercapai.

Sama seperti kisah di atas, melupakan larangan Allah ketika tengah asyik bersama berdua, dan datang merayu-rayu kebahagiaan lagi ketika tengah berada dalam nestapa. Astaghfirullah, lalu dimanakah nurani kita?

Saudariku, bertaut dengan pesakitan yang telah merajam diri, maka mulailah melangkah menuju jalan yang lebih hakiki. Sungguh, tak ada artinya menangisi seorang yang bahkan tak lagi peduli. Lanjutkan langkah yang sebelumnya sempat terhenti, Saudariku. Jadikan ikrar segalaku hanya untuk Allah sebagai penguat diri, insyaallah kelak akan diberi seorang pecinta yang lebih baik lagi.

Lagi pula bagi engkau yang masih dalam usia remaja, perjalanan sungguh masih panjang, Sahabat. Ada banyak hal menakjubkan yang akan Allah beri jika kita tak hanya sibuk meladeni perkara kesepian hati. Tak hanya gelisah memikirkan sosok jodoh yang entah, namun mempersiapkan pun untuk jodoh lain yang pasti akan datang, ialah kematian.

Karena itu ukhti, sayangilah air matamu sedari sekarang ini. Jangan lagi membinasakan diri hanya lantaran seseorang yang belum tentu mengingatmu pun dalam tiap detak nadi. Raihlah cinta melalui jalan yang diridhai, berjalan untuk terus memperbaiki diri. Maka semoga kelak saat tiba waktunya, engkau akan disandingkan dengan seorang terbaik yang juga kini tengah menjaga hatinya di belahan bumi lain.

(Palembang, 24 Maret 2016)