Sstt… Ngaku Muslim Kok Suka Ngomong Seperti Itu?

1
12041
ngomong yang baik

Oleh : Newisha Alifa

Pelan tapi pasti, identitas muda-mudi Islam semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Tak terasa memang, dimulai dari hal-hal sepele, kawula muda muslim pun mulai lupa akan identitas dirinya sebagai seorang muslim-muslimah.

Tak perlu jauh-jauh untuk membahas perayaan Valentine’s Day, April Mop atau Halloween Party. Sebab sebenarnya, makin ke sini pengetahuan masyarakat untuk hal-hal yang bersifat selebrasi seperti di atas sudah semakin baik kok. Kebanyakan umat Islam sekarang sudah mulai ‘melek’ bahwa yang masih ikut-ikutan acara semacam itu, justru merekalah yang nggak up to date alias ketinggalan zaman!

Namun Saudara-saudari, sering kali kita luput bahwa praktik ‘Tasyabuh’ alias menyerupai kebiasaan umat agama lain, tak hanya perkara hari-hari tertentu yang diistimewakan oleh mereka, tapi juga dari hal-hal kecil yang sering kita sepelekan, yakni; ungkapan atau ucapan saat terjadi sesuatu. Mau tahu detail-nya seperti apa? Yuk mari, check this out!
KALIMAT ISTIRJA VS RIP (Rest In Peace)

Coba deh kita lihat di media sosial. Kalau ada berita selebriti atau tokoh terkenal, baik dalam dan luar negeri meninggal dunia, biasanya sih dalam hitungan menit, hashtag yang akan ramai itu #RIPxxxxx. Kalau yang tutup usia jelas-jelas tokoh nonmuslim sih masih bisa dimaklumilah yaa. Tapi kalau kita udah tahu banget bahwa yang meninggal itu adalah seorang muslim atau muslimah, gimana?

Masa sih pada nggak tahu, kalau agama kita yang super duper komplit aturannya ini sudah mengajarkan umatnya untuk membaca kalimat Istirja ketika mendapatkan suatu musibah atau apapun yang menimbulkan kesedihan? Catat, yang namanya musibah itu nggak melulu tentang kematian loh yaa …

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155 – 157)

KALIMAT SYAFAKALLAH VS GWS (Get Well Soon)

Ketika mengetahui seorang teman ada yang terbaring sakit atau memang si dia ngasih info entah via pesan japri atau update di medsos, refleks remaja masa kini sekarang akan berkomentar, “GWS ya, Bro!”. Padahal nih yaa… Islam sendiri sudah menyediakan rangkaian kata yang bagus sekali maknanya untuk mendoakan mereka yang sakit. Yang kalau untuk kalimat refleksnya adalah, Syafakallah yang artinya semoga Allah menyembuhkanmu.
KALIMAT BAROKALLAH VS GBU (God Bless U)

Aduh, kawula muda Islam … Masa nggak paham-paham juga sih, bahwa kalimat GBU itu adalah salah satu kalimat andalannya orang di luar Islam? Heyy! Kakukah itu lidah, atau mendadak keramkah itu jempol untuk mengetikkan Barokallah dibanding GBU?

Tak jarang, ada saja teman yang keberatan dan menganggap saya berlebihan ketika diingatkan untuk sebaiknya tidak menggunakan kalimat-kalimat tersebut di atas. Mereka menganggap bahwa toh dalam kalimat RIP, GWS dan GBU tetaplah mengandung sebuah doa atau harapan, hanya saja menggunakan bahasa Inggris, sehingga tidak sampai mengganggu akidah, atau serta merta membuat seseorang murtad.

Yup. Kelihatannya memang begitu. CUMA SEKADAR KATA-KATA. Mungkin kita lupa juga bahwa syarat iman pun tak hanya mesti diyakini oleh hati, tapi juga HARUS DILAFAZKAN dengan kata-kata melalui syahadat dan diaplikasikan lewat perbuatan.

Terlepas dari menyadari bahwa hidayah itu mutlak milik Allah Swt, saya cukup gemas dengan pemikiran seperti ini. Mungkin juga alasan mereka memilih menggunakan kata-kata singkatan bahasa Inggris itu karena dianggap lebih praktis; cuma tiga huruf. Sementara kalimat-kalimat yang diajarkan dalam Islam, cenderung panjang dan menggunakan bahasa Arab yang memang kalah familiar dibandingkan dengan bahasa Inggris yang bahkan menjadi salah satu mata pelajaran yang di-UAN-kan di negara ini.

Semoga tulisan ini dapat mengingatkan kita semua untuk lebih peduli terhadap hal-hal yang cenderung sepele semacam ini, namun lama-kelamaan akan menggerus jati diri kita sebagai seorang muslim-muslimah.

Wallahu a’lam bishawab.

Cikarang, 24 Jumadil Awal 1437 H | 4 Maret 2016