Sedekah Dalam Kemiskinan

0
651
keajaiban sedekah

Oleh : Indri Novia Miranti

Dikisahkan ada seorang yang miskin dan papa bertanya pada sang guru bijak, “Mengapa aku menjadi orang yang sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup?”

Sang guru menjawab, “Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi pada orang lain dan bahkan pada dirimu sendiri…”

Orang Miskin, “Apakah itu hai guru bijak?”

Sang guru bijak, “Dengan mulut yang engkau miliki, engkau bisa berikan senyuman, nasehat, ilmu, dan doa. Dengan mata yang kamu punya, kamu bisa memberikan perhatian kepada orang lain. Dan juga dapat melihat anugerah Tuhan yang ada padamu sendiri. Sehingga kamu mampu untuk bersyukur pada-Nya.

Dengan telinga yang kamu punya, kamu bisa mendengarkan derita dan ketidakbahagiaan orang lain. Sehingga hatimu senantiasa dapat berempati dan bersimpati pada siapapun. Bahkan kepada orang yang kaya raya sekalipun. Karena suka dan duka juga ada di hati kita semua, termasuk di dalam hati orang kaya.

Dengan wajah yang kamu punya, kamu bisa memberikan keramahan, dan pancaran wajah ilahi yang meneduhkan dan mendamaikan setiap orang yang memandang. Dengan tangan dan kaki yang kamu punya, kamu bisa memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain yang membutuhkan. Dengan otak dan hatimu, kau dapat menyumbangkan ide-ide yang bermanfaat pada orang lain. Senantiasa belajar dan memberikan pelajaran, serta senantiasa mengasihi sesama dan masih banyak lagi.

Jadi sesungguhnya kamu bukanlah miskin hanya saja tidak pernah mau memberikan apapun pada dirimu. Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi dan berbagi pada orang lain dan siapapun. Pulanglah dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih kamu punya agar orang lain dan alam semesta juga mau berbagi padamu.”

Berdasarkan kisah di atas, kita bisa mengambil hikmah, bahwa apapun yang kita miliki bisa dijadikan ladang amal. Sebab sejatinya berbagi tidak melulu harus dengan harta, tetapi juga bisa lewat jasa maupun tenaga. Karena Nabi SAW pun menyiratkan di dalam beberapa haditsnya. Yakni sedekah tidak selalu dalam bentuk uang.

1). Berdzikir dengan mengucap Tasbih, Tahlil dan Tahmid

Pernah datang sekelompok orang miskin mengadu kepada Nabi SAW. Mereka mengadu karena orang-orang kaya dengan hartanya bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Orang kaya dapat melaksanakan shalat, seperti juga orang miskin melakukannya. Orang kaya berpuasa, orang miskin juga berpuasa. Namun orang-orang kaya memiliki kelebihan disebabkan hartanya, sehingga dapat menunaikan ibadah haji dan umrah, juga dapat bersedekah dan berjihad.

Mendengar aduan mereka, Rasul SAW bersabda, “Maukah aku sampaikan kepada kalian amalan yang dapat melampaui derajat orang kaya dan tidak ada yang mengalahkan derajat kalian sehingga menjadi yang terbaik di antara kalian dan mereka, kecuali mengerjakan amalan berikut, yaitu kalian membaca tasbih, tahmid, takbir setiap selesai shalat sebanyak 33kali.” (HR. Bukhari)

2). Amar Ma’ruf Nahi Munkar 3). Berjima’ antara suami istri

Dalam riwayat dari Abu Dzar ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kalimat tasbih adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah dan tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan berjima’ (dengan istri) adalah sedekah.” (HR. Muslim)

4). Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya

Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari Rasulullah SAW berkata, ”Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)

5). Membantu urusan orang lain

Dari Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bersabda, “Setiap muslim harus bershadaqah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah SAW bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Mengajak pada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan shadaqah.” (HR. Muslim)

6). Mengishlah dua orang yang berselisih

Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah SAW, Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ruas-ruas persendian setiap insan adalah shadaqah. Setiap hari dimana matahari terbit adalah shadaqah, mengishlah di antara manusia (yang berselisih adalah shadaqah).” (HR. Bukhari)

7). Menjenguk orang sakit 8) menyingkirkan duri atau batu di jalan

Seperti di dalam hadits Abu Ubaidah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan kelebihan hartanya di jalan Allah SWT, maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus (kali lipat). Dan barangsiapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan kebaikan dari kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).” (HR. Ahmad)

9). Berwajah manis atau memberikan senyuman

“Tabassumuka fii Wajhi Akhiika Shodaqoh; Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

10). Berlomba-lomba dalam amalan sehari-hari (baca: yaumiyah)

Setelah kita menyimak beberapa hadits nabi di atas. Tergambar jelas bagaimana Islam begitu paripurna mengatur seputar sedekah. Ya, ternyata sedekah begitu banyak bentuknya. Tidak harus menunggu untuk mampu dulu. Dengan mengerjakan hal-hal yang dianggap kecil pun bisa juga bernilai sedekah di mata Allah SWT.

Perbedaan fakir dan miskin

Para ulama berselisih pendapat manakah yang kondisinya lebih parah antara fakir dan miskin. Ulama Syafi’iyyah dan Hambali berpendapat bahwa fakir itu lebih parah dari miskin. Alasan mereka karena dalam QS. At-Taubah: 60 Allah SWT menyebut fakir lebih dulu dahulu setelah itu menyebut miskin. Ulama lainnya berpendapat miskin lebih parah dari fakir. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah, 23: 312-313)

Adapun batasan dikatakan fakir menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah adalah orang yang tidak punya harta dan usaha yang dapat memenuhi kebutuhannya, misal sepuluh ribu rupiah tiap harinya, namun ia sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut atau ia hanya dapat memenuhi kebutuhannya kurang dari separuh. Sedangkan miskin adalah orang yang hanya dapat mencukupi separuh atau lebih dari separuh kebutuhannya, namun tidak bisa memenuhi seluruhnya. (Lihat Al- Mawsu’ah Al-Fiqhiyah, 23: 313)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberikan gambaran perbedaan antara fakir dan miskin, “Kita bisa memperkirakan batasan fakir dan miskin dengan melihat pada gaji bulanan. Jika gaji dalam setahun adalah sebesar 5000 riyal(Rp.12,5 jt), sedangkan kebutuhannya 10.000 riyal (Rp. 25 jt), dalam kondisi ini seseorang dianggap miskin. Karena ia hanya mampu memenuhi separuh dari kebutuhannya. Jika gaji dalam setahun 4000 riyal (Rp. 10 jt), sedangkan kebutuhannya dalam setahun 10.000 riyal (Rp. 25 jt), dalam kondisi ini ia dianggap fakir. Begitu pula ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka ia dianggap fakir.” (Syarhul Mumti’, 6: 220)

Menjadi orang miskin yang bermartabat pun bisa menjadi sebuah keniscayaan. Tatkala orang miskin pun dapat menerapkan konsep “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Maksudnya, orang yang berkekurangan yang memelihara dirinya dari meminta-minta lebih baik dari yang dengan sengaja “menjual iba” lewat cara mengemis, dan sebagainya. Sebagaimana yang tersirat dalam hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta, dan berusaha untuk mencukupi keluarganya, serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya), maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.” (HR. Thabrani)

Ditegaskan pula dalan firman-Nya: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di Jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di Jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)

Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli-ahli warismu dalam keadaan kaya raya jauh lebih baik ketimbang kamu meninggalkan mereka dalam keadaan berkekurangan dan minta-minta pada manusia (pengemis).” (HR. Bukhari Muslim)

Bersedekahlah dalam setiap keadaan baik itu tatkala lapang maupun sempit. Karena, cakupan sedekah begitu luas dan banyak macamnya. Jika selama ini yang terlintas di benak kita, bahwa sedekah itu identik dengan uang dan barang. Ternyata jasa pun bisa bernilai sedekah juga. Oleh karena itu, selama kita masih memiliki waktu, tenaga dan kesempatan sedekah masih bisa tetap dilakukan, semoga.