Sabar Itu Ibarat Kepala Bagi Tubuh

0
663
sabarlah

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

Jalanan kehidupan yang harus ditempuh oleh setiap orang, tidaklah selalu sama. Ada jalan hidup sendiri yang telah Allah gariskan bagi setiap orang di dunia ini. Saat menempuhnya, tak ada jalanan kehidupan yang hanya lurus-lurus saja. Terkadang, bahkan lebih sering akan ada tikungan tajam serta jalanan terjal yang harus dilewati. Itulah permisalan tentang jalanan kehidupan yang harus kita tempuh; penuh rintangan dan hambatan.

Jika kita berada dalam posisi tersebut, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Lalu, bagaimanakah cara kita meminta pertolongan kepada Allah? Dengan sabar dan shalat.
Allah berfirman, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah: 45).
Itulah salah satu cara kita mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah. Dan saat ini, kita akan membahas tentang satu akhlak seorang muslim yaitu sabar. Banyak sekali ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan seorang muslim untuk bersabar. Bahkan, menasihati dalam kesabaran merupakan salah satu amalan yang akan menjauhkan seseorang dari kerugian.

Allah berfirman, “Demi massa. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian; Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al Ashr:1-3)
Lalu, apakah yang dimaksud dengan ‘sabar’ itu? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.” (Syarah Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Itulah yang dimaksud dengan sabar oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam kitab beliau, Syarah Tsalatsatul Ushul. Dari sana, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sabar adalah keteguhan diri dalam tiga hal;

1. Dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

Apa yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya, pastilah bertujuan untuk memberikan kebaikan kepada hamba itu di dunia dan di akhiratnya. Namun, pasti ada beberapa orang yang merasa berat melaksanakan beberapa ketentuan yang Allah gariskan itu. Maka, sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk memiliki keteguhan diri (kesabaran) untuk melakukan apa yang telah Allah wajibkan untuk kita.

2. Tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah

Jika ada perintah, tentu akan ada larangan. Begitu juga dengan ketentuan yang Allah gariskan kepada manusia. Ada beberapa hal yang Allah larang untuk kita laksanakan. Memang, terkadang semua itu berat. Namun, sudah semestinya kita menjauhi apa yang telah Allah larang itu.

3. Menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya.

Takdir-takdir tersebut berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain. Akan senantiasa ada rintangan dan cobaan yang menghadang manusia saat menempuh jalanan kehidupan yang membentang di hadapannya. Itu sudah merupakan sunnatullah. Tak ada yang bisa menghindari musibah, kesulitan, dan kesusahan dalam menjalani kehidupan ini. Hanya Allah yang bisa menolong kita menghadapi semuanya. Tentu saja, dalam menghadapi semua itu kita harus senantiasa bersabar dan meminta pertolongan kepada-Nya.

Itulah tentang beberapa cabang dari kesabaran yang harus kita ketahui dan amalkan. Jika kita merenung lebih dalam lagi, niscaya akan kita dapati bahwa kesabaran memiliki keutamaan yang tinggi dibandingkan amalan-amalan yang lainnya. Maka tak heran ketika Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Sabar dalam keimanan, diibaratkan sebagai kepala bagi tubuh. Itu disebabkan oleh peranannya yang besar bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya. Sudah semestinya sifat sabar itu kita tanamkan sedari dini. Agar ia tumbuh dan berkembang dalam hati. Hingga saatnya nanti kesabaran itu akan mulai menjadi tabiat diri. Yang mengantarkan seseorang menjadi seorang muslim sejati.

Menutup pembahasan ini, marilah kita baca potongan syair dari Imam Asy- Syafi’i Rahimahullah;
“Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.

Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.”

Mari kita bersabar.

***

Jakarta, 10 Maret 2016