Merencanakan Pahala Setelah Kematian

0
350
pahala amal jariyah

Oleh : Ilham Fatahillah

Mungkin banyak diantara kita yang sudah merencanakan masa depan dengan baik.  Kita merumuskan masa depan dengan sedemikian detailnya, namun sering melupakan masa depan yang pasti, yaitu KEMATIAN. Masa depan yang kita rencanakan rata-rata hanya seputar kehidupan di dunia. Dan untuk menggapai masa depan itu, tak sedikit diantara kita yang rela berjuang keras demi sebuah gelar SUKSES di dunia.

Sahabat, pernahkah kita berpikir bagaimana hidup kita nanti di masa depan di kehidupan akhirat? Pernahkah kita berfikir mengenai nasib kita di alam barzah? Kita sering melupakan bagaimana nanti hidup kita sesudah mati, padahal itulah masa depan yang pasti terjadi.

Untuk menghadapi usia tua, banyak orang menabung dan berinvestasi dengan harapan hartanya itu bisa menolongnya di saat fisik sudah lemah tak berdaya dimakan usia, dan tak mampu lagi bekerja dan berkarya seperti saat usia masih muda. Sementara untuk urusan akhirat hampir jarang orang mau memikirkannya. Seolah hidup mereka hanya berhenti di dunia saja.

Sebenarnya tidak salah memikirkan masa depan di hari tua. Tapi ada yang lebih penting dari urusan hari tua, yaitu memikirkan bekal untuk akhirat. Memikirkan bagaimana caranya supaya kita bisa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan kita di akhirat. Dan kita semua mengetahui bahwa kegiatan kita mengumpulkan bekal untuk akhirat itu juga terbatas. Karena tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Kita semua pasti akan menjumpai kematian. Dan setelah mati, kita tidak mampu lagi melanjutkan kegiatan memperbanyak bekal. Tak akan bisa mencari pahala lagi. Karena jasad sudah mati.

Oleh karena itu, tulisan saya ini mencoba memberikan solusi pada kita semua tentang bagaimana caranya memperbanyak pahala, saat jasad kita sudah dikubur. Pahala yang tetap mengalir terus, meskipun kita sudah menemui kematian. Ibarat seorang investor dalam dunia bisnis yang mendapatkan pasive income. Namun pasive income yang saya maksud di sini adalah pahala yang mengalir terus.

Solusinya ada pada sebuah hadits yang cukup terkenal. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Hadits di atas menerangkan 3 amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun kita telah meninggal dunia, yaitu:
a. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, dan berbagai macam sedekah yang sifatnya wakaf karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf, disebabkan fisiknya tetap dan manfaatnya berkelanjutan. Al-Khatib as-Syarbini – ulama syafiiyah – (w. 977 H). Dalam Mughni al-Muhtaj, beliau mengatakan, “Sedekah jariyah dipahami sebagai wakaf menurut para ulama, sebagaimana keterangan ar-Rafi’i. Karena sedekah lainnya bukan sedekah jariyah.” (Mughni al-Muhtaj, 3/522).

b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan.

c. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Sehingga orangtuanya mendapatkan pahala yang mengalir terus meskipun orangtuanya sudah meninggal dunia.

Itulah tiga hal yang bisa kita upayakan untuk merencanakan pahala setelah kematian. Disamping kita memikirkan masa depan di dunia, Mari kita lebih banyak berfikir tentang masa depan yang sudah pasti (kematian) mulai dari sekarang, sebelum kita menyesal sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an Surat Al-Munafiqun ayat10,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

Wallahu a’lam bish showwab.

Purwokerto, 16 maret 2016