Merajut Tali Pertemanan Sejati

0
463
teman sejati

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Tak ada orang yang hidup sendirian di dunia ini. Setiap orang pasti ingin memiliki seorang teman sejati. Seorang teman yang selalu ada di sisinya di manapun dan kapanpun, dalam kondisi bahagia maupun saat dirundung duka. Semua ini adalah hal yang wajar dan sudah menjadi tabiat setiap manusia.

Islam juga telah membahas hal ini. Bahkan, pertemanan dan persahabatan dalam Islam lebih kuat lagi. Tak hanya didasarkan pada hubungan saling membutuhkan saja. Hubungan ini dalam islam dikenal dengan ‘ukhuwah’; sebuah ikatan persaudaraan dalam ikatan iman.

Ikatan imanlah yang menghubungkan kalbu setiap muslim. Sebuah ikatan yang sangat berbeda dengan sebuah pertemanan biasa dan hanya ada pada hubungan antara seorang muslim dengan muslim lainnya. Ikatan pertemanan dan persahabatan karena iman dan Islam akan senantiasa kekal hingga di akhirat kelak.

Ada sebuah ayat yang menunjukkan keadaan ini di hari kiamat kelak. Bahwasannya teman-teman yang dahulunya akrab di dunia belum tentu akan akrab pula di akhirat. Bahkan, bisa jadi akan berubah menjadi permusuhan. Kecuali persahabatan karena iman dan takwa kepada Allah.

Allah berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Itulah mengapa sebuah persahabatan sejati adalah persahabatan yang kekal dalam naungan takwa pada-Nya. Memilih seorang teman, tentu saja tidaklah asal-asalan dan tanpa pertimbangan, karena urusan pertemanan juga mempengaruhi keperibadian diri kita juga. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena bisa jadi teman terdekat kita membentuk pribadi kita tanpa sadar dengan perilaku-perilaku yang sering dia kerjakan.

Ada sebuah pepatah Arab yang mengatakan, “Anil mar’i laa tas’al wa sal ‘an qoriinihi, fakullu qariinin bilmaqaarini yaqtadi.” (Bila hendak bertanya tentang kepribadian seseorang, janganlah tanyakan kepada dirinya secara langsung. Namun tanyakanlah siapa temannya karena seseorang biasanya mengikuti kepribadian temannya.)

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah membuat permisalan tentang seorang teman yang baik maupun teman yang buruk. Beliau mengumpamakannya sebagai penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Rasulullah SAW bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab “Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk.”

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 4/227)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bari, 4/324)

Lalu, siapakah teman terbaik itu? Apakah dia yang mempunyai banyak hal yang tidak kita miliki. Ataukah yang selalu memperlakukan kita dengan istimewa? Teman terbaik itu, adalah yang paling baik sikapnya terhadap sesama teman.

Rasulullah SAW bersabda, “Teman terbaik, adalah yang terbaik sikapnya kepada sesama teman. Dan tetangga terbaik, adalah yang terbaik sikapnya bagi sesama tetangga.” (Hadits Riwayat Tirmudzi)

Bagaimanakah kriteria utama seorang teman? Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah pernah berkata, “Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut; orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin, 2/36).

Apa yang dimaksud dengan kriteria pencarian teman yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah di atas? Ibnu Qudamah juga telah menjelaskan tentang hal ini di dalam kitab yang sama.

“Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang lain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman dengan ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya.” (Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)

Begitulah sedikit penjelasan tentang sebuah pertemanan sejati. Sebuah pertemanan yang akan senantiasa terjaga sampai hari akhir kelak. Semoga kita bisa benar-benar merajut pertemanan sejati dengan sahabat-sahabat yang kita miliki hingga kita bisa berjumpa kembali di surga-Nya kelak.

Jakarta, 22 Maret 2016