Meraih Kekayaan Yang Hakiki

0
456
gubug sederhana

Oleh : Indri Novia Miranti

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Kaya hati adalah kaya yang senyatanya. Orang kaya sekalipun belum tentu ia merasa cukup. Terkadang hatinya tetap tidak merasa puas dengan apa yang sudah ada. Ia masih merasa kekurangan. Padahal secara jelas Rasul memberikan nasehatnya tentang hal ini.

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi SAW memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar ra berkata, “Rasulullah SAW berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama, “Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).” (Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah)

Ternyata yang menciptakan kemiskinan adalah diri kita sendiri. Kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri. Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur, walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya, “Dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” (QS. An-Najm: 48)

Tafsir Jalalain menerangkan, “(Dan bahwasanya Dia yang memberi kekayaan) kepada manusia berupa harta benda (dan yang memberikan kecukupan) Dia memberikan harta untuk mencukupi kebutuhan orang itu.”

Ayat di atas menyebutkan kata kecukupan bukan kemiskinan. Padahal di ayat-ayat sebelumnya dijelaskan tentang kata-kata yang saling berlawanan (antonim). Tertawa-menangis, mati-hidup, laki-laki-perempuan. Ya, ayat ini menyiratkan kepada kita bahwa miskin itu diciptakan sendiri, untuk kebutuhan cukup, tetapi untuk memenuhi keinginan tidak akan ada puasnya. Disinilah dibutuhkan sifat qana’ah; hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Dan itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Secara harfiah, kata aqna dalam ayat tersebut memiliki akar kata yang sama dengan qinyah; yang bermakna; apa yang dikumpulkan atau dari kata qaniya; yang berarti ridha.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Dan bahwasanya Dia yang memberi kekayaan (aghna) dan memberikan kecukupan (aqna) adalah Dia memberikan kepemilikan harta kepada para hamba-Nya dan menjadikan harta tersebut sebagai qinyah (sesuatu yang dikumpulkan) yang tetap di sisi mereka, sehingga mereka tidak perlu menjualnya. Ini adalah kesempurnaan nikmat kepada para hamba-Nya.”

Sudah sepantasnya ayat ini menjadi renungan untuk kita semua, bahwa sama sekali Allah tidak pernah memberikan kita kemiskinan, dan Allah juga tidak pernah menjanjikan kefakiran kepada kita. Fenomena kemiskinan yang berada di sekililing kita tiada lain hanyalah akibat kesalahan kita sendiri. Sebab, kita terkadang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, malas, tidak mau belajar dan berusaha, hidup pesimis, dan lalai. Hanya setan yang mengarahkan manusia terjerumus ke arah keterpurukan hingga akhirnya mereka menjadi miskin.

Allah berfirman, “Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Dengan kata lain, ikhtiar merupakan bagian dari takwa, dan orang yang bertakwa rejekinya terjamin. Lalu, siapa yang menjamin? Tentu Allah yang Maha Kaya. Sebagaimana janji Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 2-3: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”

Tawakal di sini bukan berarti pasif, tetapi aktif, yakni dengan memaksimalkan usaha atau ikhtiar. Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak boleh kaya harta sebagaimana sabda Nabi, “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al; Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun, yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no.1054)

Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi SAW adalah do’a, “Allahumma inni as-`alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ’afaf dan ghina) (HR. Muslim no. 2721)

An-Nawawi-rahimahullah-mengatakan, “’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 17/41, Dar Ihya` At Turots Al ‘Arobi).

Berarti dalam do’a ini kita meminta pada Allah [1] petunjuk (hidayah), [2] ketakwaan, [3] sifat menjauhkan diri dari yang haram, dan [4] kecukupan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang memiliki sifat ghina (kaya hati) yang senantiasa merasa puas dengan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Serta menganugerahkan kepada kita sifat qona’ah, yakni merasa cukup dengan rezeki yang ada. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin