Mengapa Kita Harus Adil?

0
2268
keadilan

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Adil; sebuah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan ini. Maknanya pun sangatlah indah. Apakah makna adil itu?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hakikat keadilan. Beliau menerangkan bahwa makna adil adalah menunaikan hak kepada setiap pemiliknya. Atau bisa juga diartikan dengan mendudukkan setiap pemilik kedudukan pada tempat yang semestinya. (Huquuq Du’at Ilaihal Fithrah wa Qararatu haa Asy Syari’ah)

Ya, itulah makna sebuah keadilan. Menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Seorang muslim, sudah selayaknya meyakini bahwa adil merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki olehnya. Mengapa begitu? Karena Allah telah memerintahkan manusia untuk berbuat adil dalam banyak firman-Nya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat baik ….” (QS. An Nahl: 90)

Dalam lembaran lain dari kitab suci-Nya pula di sebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maa’idah: 8)

Lalu, apakah yang akan kita dapatkan ketika kita berbuat adil? Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Setiap kali kalian bersemangat menegakkan keadilan dan bersungguh-sungguh untuk menerapkannya maka hal itu akan membuat kalian semakin lebih dekat kepada ketakwaan hati. Apabila keadilan diterapkan dengan sempurna maka ketakwaan pun menjadi sempurna.” (Taisir Karimir Rahman , hal. 224)

Selain itu, seorang yang berlaku adil akan mendapatkan ketenangan jiwa. Hal ini telah diterangkan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam kitabnya Minhajul Muslim dalam bab Akhlak tentang kesabaran dengan mengutip sebuah kisah Umar bin Khaththab.

Diriwayatkan bahwasanya Kaisar (Raja Romawi) Mengutus seorang utusan kepada Umar bin Khattab untuk melihat keadaan serta apa yang dilakukan olehnya. Ketika sampai di Madinah, dia berkata kepada penduduk Madinah, “Mana Raja kalian?”

Mereka menjawab, “Kami tidak memiliki seorang raja. Tapi, kami hanya memiliki seorang Amirul Mukminin. Dan dia sedang pergi ke ujung Kota Madinah.”

Akhirnya utusan itu pergi mencarinya Umar dan menemukannya dalam keadaan tertidur di atas pasir berbantalkan tongkat kecilnya yang biasa digunakan untuk mengubah kemungkaran. Dan ketika utusan itu melihat Umar dalam kondisi ini, dia merasa takut padanya. Dia pun berkata, “Seseorang yang kehebatannya telah membuat raja-raja tidak tenang, padahal keadaannya sederhana seperti ini saja. Akan tetapi, karena anda telah berbuat adil, maka anda merasa aman dan bisa tidur dengan nyenyak. Sedangkan raja kami, ia telah berbuat lalim maka ia terus begadang dan merasa takut.” (Minhajul Muslim, Bab Akhlak pasal ke enam; Akhlak adil dan pertengahan. Halaman 125)

Itulah salah satu kisah tentang Umar bin Khattab yang bisa merasakan ketenangan jiwa karena ia telah berbuat adil. Berbeda dengan raja-raja yang berbuat dzalim, mereka tak akan bisa merasakan ketenangan jiwa. Mereka selalu dihantui oleh kedzaliman yang telah mereka lakukan selama ini.

Ada sebuah hadits yang menceritakan tentang keutamaan seorang pemimpin yang berbuat adil. Allah akan menaunginya pada hari yang tak ada naungan kecuali dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ibadah kepada Rabbnya, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah, lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

Marilah kita berusaha berbuat adil dalam setiap hal yang kita lakukan. Semoga Allah memudahkan kita menjadi orang yang dicintai-Nya karena keadilan yang kita lakukan.

Allah juga berfirman, “Berbuat adillah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (QS. Al Hujurat: 9)

***

Jakarta, 27 Maret 2016