Meneladani Kepemimpinan Sultan Al Fatih

0
1936
alfatih

Oleh: Aannisah Fauzaania

Bismillah…

Sahabat, siapa yang tak kenal Sultan Muhammad Al Fatih?! Seorang pemuda gagah berani yang berhasil menaklukan imperium Byzantium pada masa kesultanan Bani Utsmaniyah saat itu. Jasa besarnya dalam memantik cahaya Islam di Kota Konstantinopel yang sebelumnya mayoritas penduduk di situ adalah Kristen ortodoks, hingga kini menjadi tentara Allah dalam jubah muslimin dan muslimat yang taat, patut diapresiasi begitu istimewa.

Menurut beberapa biografi beliau yang sering saya baca di banyak buku, dikisahkan Sultan Al Fatih merupakan seorang lelaki tangguh yang dibesarkan dalam keluarga shalih. Kecerdasannya akan ilmu sains, matematika, dan banyak ilmu lainnya membuat kagum banyak insan pada masa itu. Pada usia sembilan belas, ia diangkat menjadi sultan menggantikan ayahnya. Dan di usia dua puluh satu tahun, ia memimpin perang dan menjadi panglima dalam usaha penaklukan Kota Konstantinopel di Eropa. Masa pengabdiannya di dunia berawal sejak 30 Maret 1432 sampai 3 Mei 1481.

Sultan Al Fatih memiliki strategi perang yang amat cerdas, serta berhasil menempa bala tentaranya menjadi orang-orang yang tangguh dan bermental baja di saat perang. Sehingga dalam waktu beberapa bulan saja Konstantinopel dikepung, kota itu bisa langsung jatuh ke tangan sultan. Kala itu, ia langsung mengganti nama Konstantinopel menjadi Kota Islambul, yang kini telah diubah lagi namanya menjadi Istanbul yang sering kita dengar.

Sejak tahta kepemimpinan jatuh di tangannya, dakwah dilaksanakan, dan penghidupan cahaya islam di Eropa kala itu benar-benar bersinar laiknya lampu pijar. Padahal kala itu umur beliau masih terbilang begitu muda, 21 tahun. Namun berita ini tak dapat diremehkan. Sebab sahabat Rasul SAW yang bernama Usamah kala itu yang masih berusia delapan belas tahun pun bisa diangkat menjadi panglima perang, sedangkan Abu Bakar yang terhitung sesepuh pun hanya menjadi tentara.

Lalu, mengapa kepemimpinan Sultan Al Fatih bisa begitu istimewa? Ilmu apa yang bisa diteladani sehingga ia bisa menjadi panglima sehebat itu di masanya?

Rahasianya yaitu, Sultan senantiasa mengasah pedang cahaya malamnya dengan qiyamul lail. Dalam sejarah dikisahkan, beliaulah satu-satunya yang tak pernah meninggalkan shalat wajib, shalat sunah rawatib, serta shalat tahajud dalam tiap-tiap harinya. MasyaAllah, betapa teguh keimanannya dalam menjaga tiang penopang agama.

Pernah dalam suatu hari di masa kepemimpinannya, ketika semua orang tengah bingung menentukan imam shalat mereka. Sultan Al Fatih yang kemudian menengahkan. Ia bertanya dalam seruan, “Wahai kalian semua! Siapa yang pernah meninggalkan shalat wajib barang sekali pun, maka silahkan duduk sekarang juga.” Namun ternyata setelah perintah itu tak ada yang merendahkan tubuhnya untuk duduk. MasyaAllah, berarti di antara mereka tidak ada yang pernah meninggalkan shalat wajib, menjaga teguh keimanan dalam shalat.

Kemudian setelahnya Sultan Al Fatih berseru kembali, “Wahai kalian semua! Barang siapa yang pernah meninggalkan shalat sunah rawatib barang sekali pun, maka silahkan duduk sekarang.” Beberapa waktu kemudian ada sebagian tentaranya yang duduk, dan ada sebagian yang tetap berdiri. Masya Allah, ini pun menunjukkan betapa sultan berhasil menanamkan kejujuran dalam tiap nurani mereka.

Kemudian pada seruan ketiga, ia kembali bertanya, “Wahai Kalian semua! Baramg siapa yang pernah meninggalkan shalat tahajud barang sekalipun, maka silakan duduk sekarang juga.” Seketika setelah itu, semua orang yang masih berdiri di sana langsung terduduk dalam tempatnya dan hanya Sultan Al-Fatih yang tetap berdiri. Dari keputusan setelahnya, kemudian Sultan Al Fatih lah yang terpilih menjadi imam shalat pada saat itu.

Dalam memimpin dan mendidik bala tentaranya pun, beliau menerapkan ilmu besar tadi untuk menempa mereka menjadi pribadi-pribadi tangguh yang berkualitas. Bala tentaranya dituntun untuk selalu melaksanakan shalat wajib maupun shalat sunah, bahkan sebelum perang, malamnya mereka mesti melaksanakan shalat tahajud terlebih dahulu. Ucap beliau, shalat tersebut yang akan menjadikan mereka menang dalam segala hal yang terjadi dalam peperangan nanti.

Sejarah menyebutkan Muhammad Al-Fatih tiba di Kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Sebelum berperang, Sultan Al Fatih terlebih dulu menyampaikan khutbah di hadapan bala tentaranya. Mengenai kemuliaan niat untuk berjihad, usaha untuk membuka Kota Konstantinopel atas hadist dari Rasulullah SAW dan beberapa ayat Al-Qur’an yang akhirnya bisa menanamkan semangat membara dalam hati para bala tentaranya. Semuanya menyerukan kalimat takbir ketika perang akan dimulai.

Setelah semuanya siap, Sultan Muhammad Al-Fatih lalu melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!”, terus membahana di angkasa Kota Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya memperbanyak shalat, doa dan dzikir mengharap ridha dan kemenangan dari Allah SWT.

Akhirnya, pada pukul satu dini hari, Selasa 20 Jumadil Awal 857 H, serangan khusus dilaksanakan. Para tentara diserukan untuk meninggikan suara takbir sambil terus menyerang. Rasanya suasana saat itu begitu penuh dengan cahaya dari seruan kalimat takbir yang terus dibunyikan. Hingga akhirnya saat-saat berlalu, pasukan berhasil menembus kota melalui pintu Edirne kemudian berhasil mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kota. Islam akhirnya berjaya di bumi Eropa. Masya Allah, betapa bahagianya kala berita indah itu terdengar.

Keberadaan Muhammad Al-Fatih telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad dalam Al-Musnad 4/335].

Masya Allah, sahabat, begitu hebatnya ketangguhan panglima besar kita. Keistiqomahannya dalam menjaga tiap-tiap shalat malam menjadi senjata ampuh dalam peperangannya yang berkali-kali memperoleh kejayaan. Tak perlu takut kalah, tak perlu menggunakan ahli nujum, karena keyakinan mereka akan kuasa Allah telah terpatri begitu kuat dalam nurani.

Sahabat, semoga kita dapat meneladani kisah Sang penghidup cahaya malam ini. Semoga kelak akan ada pemimpin yang bisa seperti beliau dalam menempa pengikutnya menjadi pribadi-pribadi berkualitas dan bermental tangguh melalui qiyamul lail dan keyakinan penuh hanya pada Allah. Aamiin.